Showing posts with label Kelas. Show all posts
Showing posts with label Kelas. Show all posts

Tuesday, August 28, 2007

What I Have Learnt at RWF

24 June 2007. My first day at RWF that continues until today. I still remember the lecture title that day “Stupid Mental Arithmetic”. Since then I have been attending the class without absence. That day marked the beginning of my journey in facing the Giants in my life. By the grace of the Lord, one by one the once so-called Giant in my life fell down. Most of them in unexpected way!

Through RWF I have learnt a lot, not from the lectures alone but also from the interactions between and the reactions from the attendees. These are some major lessons that I have learnt so far, may these serve as reminders as I continue this journey until the day when the Lord moves me to another walk…


The Labels
Berkata terang-terangan bahwa aku mengikuti kegiatan RWF secara rutin somehow terasa seperti menabuh genderang peperangan dengan beberapa kalangan dari gereja dimana aku terdaftar sebagai anggotanya sekarang. Aku mengawalinya dengan menghadapi tatapan-tatapan kurang bersahabat dan email-email kirimanku yang ditolak oleh milis pelayanan yang aku ikuti. Saat ini aku juga bersiap seandainya satu saat nanti aku dikeluarkan dari pelayanan yang saat ini Tuhan berikan padaku. Aku percaya segala sesuatunya berasal dari Tuhan. Datang perginya pun pasti seijin Tuhan. Tinggal kunikmati saja setiap ups and downs, terus menyerap apapun yang tengah Tuhan ajarkan.

Aku bukan pengikut asal-asalan. Semuanya kulakukan setelah lewat pergumulan panjang. Buatku sangat melelahkan kalau terus-menerus lebih memikirkan apa yang akan dicapkan orang atas tindakan-tindakanku daripada memikirkan apa yang Tuhan mau atau beri untuk aku lakukan sekarang. Aku tidak suka dicap pemberontak karena memang bukan itu tujuanku dengan terus ikut RWF, tapi aku tidak bisa melarang orang berpikir apapun tentangku, itu hak mereka. Sama seperti hak-ku untuk berpikir apapun tentang mereka. Sehingga aku belajar menerima label apapun yang mereka lekatkan, karena yang paling penting label apa yang sudah Tuhan berikan buatku dan mereka…

Berada di RWF somehow membuatku merasa seolah berada dalam gereja invisible-nya Tuhan. Persekutuan dari berbagai orang yang datang karena dibuat rindu akan kebenaran oleh Tuhan (apapun motivasinya), terasa seperti menggambarkan invisible church yang nanti akan dinyatakan dan digenapkan kehadirannya saat Kristus datang kembali. Aku semakin belajar untuk tidak mengkotak-kotakkan orang berdasarkan prasangka-prasangka awal yang aku miliki terhadap mereka. Belajar lebih punya open mind berhadapan dengan orang yang tidak aku kenal, jangan lekas-lekas melabelkan orang lain. Dan aku harus ingat bahwa kalau aku percaya setiap orang makin diubah agar semakin serupa dengan Kristus, maka sangat mungkin terjadi label yang pernah kulekatkan pada orang lain harus kuubah seiring dengan perubahan orang tersebut. Tidak ada label yang melekat selamanya selain label sebagai anak-anak Bapa di dalam Kristus!

Mengalah itu indah
Aku hanya heran, kenapa yang mengajarkan kebenaran jadi lebih diperlakukan sebagai lawan daripada yang terang-terangan memusuhi. Di tempat ini, banyak orang yang tahu kebenaran dengan begitu dalam sehingga akhirnya mulai bertindak seolah menjadi tangan Tuhan. Akibatnya, bukan hanya rumput dan ilalang yang dibasmi, tapi juga kawan sendiri! Ah Tuhan… akupun dulu begitu pula bukan? Kalau bukan karena hajaran (baca: ajaran!) dan jeweranMu entah sudah berapa banyak teman yang bakal hilang karenaku.

Tapi di diri pengajar RWF inilah aku melihat bahwa mengalah itu indah. Yang mendiskreditkan tanpa perlawanan hingga hari ini seolah masih terus kepanasan dengan dendam. Sementara yang didiskreditkan tanpa melawan justru semakin tenang terfokus dengan apa yang Tuhan sudah bebankan untuk dilakukan. Dengan satu kepasrahan sekaligus kesediaan untuk pergi kemanapun jalannya dipimpin Tuhan. Berdoa semoga Tuhan terus pimpin agar dia tetap seperti itu, semoga masih terus ditambahkan kasih karunia Tuhan kepadanya, karena tanpa itu, dia pasti tidak ada bedanya dengan orang yang mendiskreditkannya…

Same Old Disappointing Place
Tak juga kurang orang-orang yang datang ke RWF dengan kekecewaan yang didapat dari gerejaku. Macam-macam kekecewaan, macam-macam kekesalan yang tidak tersalurkan. Tapi disini aku jadi belajar. Orang yang kecewa dan kemudian hanya menyalahkan semua pihak tanpa introspeksi dirinya sendiri, akan terus menjadi orang yang kecewa tak habis-habisnya dimanapun dia berada. Every place will in the end turns to be that same old disappointing place!

Disini aku jadi belajar, apapun kesalahan pihak lain tidak menganulir kesalahanku sendiri. Dalam batas-batas tertentu aku sendiri yang harus bertanggung jawab atas kekecewaan yang aku alami. Aku sendiri yang harus memilih untuk menjadi pahit atau melihat ini sebagai pelajaran baik yang Tuhan beri. Sehingga bila tiba saatnya nanti aku mampu mengatasi semua kekecewaan itu dan melihat betapa indah jalan dan cara yang Tuhan beri untuk aku lalui.

Dengan kekuatan dan kasih yang dari Tuhan, aku menolak untuk menjadi sama dengan orang-orang yang terus-menerus kecewa di tempat dimanapun mereka berada. Aku memilih untuk bloom where I am planted, although it is a place of adversities. I believe God’s grace is beyond my every difficulty!

Nobody’s Perfect, Nothing’s Perfect
Memilih untuk pindah karena tak kuasa menghadapi kekurangan di tempat lama semoga tidak akan pernah jadi motivasiku. Karena aku percaya, sebaik apapun seseorang ataupun sesuatu tampaknya pada awalnya, semua itu punya potensi besar untuk mengecewakanku satu saat nanti. Karena tidak ada yang sempurna. Tidak ada yang tanpa salah. Tapi aku pindah karena memang sudah saatnya aku pergi. Aku pindah karena tempatku sudah bukan disitu lagi, saat ini. Dan aku bersedia kembali kapanpun Tuhan memimpin.

Disini aku belajar lebih dalam arti mencintai tanpa kondisi. Keadaan sulit bukanlah satu alasan untuk pergi. Justru diam dan olahlah semua kesulitan itu sehingga aku makin dewasa di dalamnya. Hingga saat ini masih terus kujalani setiap kegiatan di gerejaku. Justru dengan ketekunan yang semakin bertambah, dengan kesungguhan yang tidak kulihat sebelumnya. Dan juga, semoga dengan kebijakan lebih dalam di setiap langkah karena akan semakin banyak mata yang melihat apapun yang kulakukan.

Aku belajar di RWF, untuk semakin menggantungkan pengharapanku hanya di dalam Dia yang mencintaiku dalam hidup dan matiNya. Dan tahukah engkau apa yang terjadi, aku justru semakin jarang kecewa terhadap apapun yang terjadi. Jarang kecewa bukan karena semakin kurang berharap apa-apa lagi, tapi justru karena semakin punya pengharapan yang besar bahwa tidak selamanya keadaan akan terus menyusahkan begini. Aku belajar bahwa berharap adalah salah satu bagian terpenting dari hidupku. Masalahnya, hanya harapan yang di dalam Kristuslah yang tidak akan pernah mengecewakan.

Sehingga inilah pesanku, berharaplah engkau, kawan… Berharaplah dalam-dalam… Tapi bersiaplah untuk kecewa sedalam-dalamnya jika engkau berharap para mereka yang Dia ciptakan… Sehingga berharaplah dalam-dalam pada Dia yang tak pernah ingkar pada janjiNya, meskipun jalan-jalanNya mustahil kau pahami…

Di Surga Nanti
Di tengah pertikaian, seringkali aku terpikir, kenapa juga kita mesti begini, padahal satu saat nanti bertemu di surga, kita semua adalah saudara, saling mengasihi tanpa benci, saling memahami tanpa salah mengerti. Kenapa tidak kita mulai disini? Bukankah Kristus sudah menebus semua yang jatuh ke dalam dosa? Apakah kita harus saling menunggu untuk memulai mengasihi? Masih berapa lama lagi kita lari dari pembentukkan karakter Kristus dalam diri kita?

Selama setahun terakhir ini, Tuhan sering sekali mengajakku berpikir, seperti apa kita di surga nanti? Lucu sekali pastinya kalau bertemu dengan orang yang kita benci, akan tertawa gelikah aku menertawakan kekeraskepalaanku membencinya selama umur hidupku di dunia? Kalau sekarang menangisi terus-menerus nasib yang kukatakan buruk, akan terheran-herankah aku nantinya melihat bagaimana itu semua dijalin Tuhan menjadi gambar indah bukan hanya bagiku tapi juga bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya?

Ah… masih banyak hal yang harus kupelajari untuk kemudian melakukan apa yang Tuhan sudah beri untuk dipelajari. Terima kasih Bapa untuk semua yang Engkau buat aku mengerti lewat kelas-kelasku di RWF ini…

Continue?

Saturday, August 18, 2007

That High Places?

Minggu yang lalu di Public Lecture kami membahas tentang Media dengan meminta seorang wakil presiden direktur salah satu televisi swasta untuk membawakan materi awal dengan Pak Joshua Lie menutup dengan memberikan beberapa kesimpulan di akhirnya. Tidak ada yang luar biasa sebetulnya dari bahasan selama kurang lebih satu setengah jam tersebut. Kalau boleh aku katakan, rata-rata yang hadir sudah merasakan sendiri “nikmatnya” acara-acara yang disajikan sederetan televisi swasta negeri sendiri, ditambah entah berapa banyak siaran-siaran luar yang diakses lewat televisi kabel.

Tetapi sesuatu di dalam hati ini tersentak saat ada pertanyaan tentang susunan acara yang disajikan stasiun televisi swasta tempat si pembicara berada kini. Televisi swasta yang kita kenal lekat dengan deretan acara dangdut ria dipadu kisah-kisah misteri bernuansa klenik ataupun agama yang mendominasi republik tercinta ini. Pertanyaan itu secara kasarnya bertanya apa peran si pembicara selama ini dengan berdiang di televisi swasta tersebut yang mampu menjangkau jutaan pemirsa? Mengapa tak juga berubah materi-materi yang disajikan??? Takkan kulupa jawaban si pembicara hari itu.


“Kami disini sebagai penjaga, yang mengawal agar segala sesuatu yang berjalan masih tetap dalam jalurnya, meskipun belum bisa sampai mengubah segala sesuatunya.”

Itulah buatku satu pelajaran lagi tentang arti menjadi garam dan terang dunia. Mengapa harus televisi swasta yang hanya menjangkau rakyat kalangan bawah? Karena jumlah mereka jauh lebih besar daripada kalangan lainnya. Seperti bagian piramid yang menengah hingga ke dasarnya, itulah bagian terbesar yang harusnya dijangkau, diedukasi dan dipengaruhi secara positif.

Salah satu televisi swasta yang paling sering aku tonton ternyata tidak memiliki rating yang baik, lantaran sangat terbatas kalangan yang sungguh-sungguh berdedikasi dengan tayangan-tayangan mereka. Selain tentu saja aku perkirakan tidak bersambungnya dunia yang ditampilkan stasiun televisi ini dengan dunia kebanyakkan para pemirsa di negeriku. Aku jadi terpikir, rupanya selama ini kita-kita yang hidup “berkecukupan” hanya berfokus pada pencapaian hidup berkecukupan itu saja tanpa mengingat bahwa Kristus sendiri bahkan berkata bahwa Ia datang buat orang kebanyakkan, rakyat jelata sederhana yang memang secara mayoritas mengisi bumi kita tercinta. Sudah sejauh manakah aku sebenarnya mengikuti Juruselamatku hingga kesana?

Duniaku mengajarkan bahwa memperoleh pekerjaan di perusahaan yang baik (paling tidak multinasional) dengan jabatan yang baik (paling tidak manager) seharusnya menjadi tujuan setiap pekerja. Mencari ilmu setinggi mungkin hingga bisa mengerti begitu banyak hal itu harus. Tapi apakah pengetahuan yang kemudian didapat adalah untuk dibagikan pada sebanyak mungkin orang akan menjadi pertanyaan.

Yang jauh lebih mungkin terjadi aku akhirnya membatasi diri dalam membagikannya, hanya pada kalangan tertentu yang aku anggap sanggup mencapai level pemikiranku. Padahal dengan kepandaian yang aku miliki untuk mengerti hal tersebut, mungkin seharusnya aku bersedia belajar lebih lagi bagaimana hal itu bisa pula dimengerti orang-orang yang tidak/belum mampu mencapai tingkat pemikiran sepertiku.

Aku jadi respek dengan si pembicara karena pilihannya untuk mengabaikan kesan yang didapat jika orang hanya melihat dari permukaan akan apa yang dikerjakannya. “Ngga elit banget kerja buat stasiun televisi itu?!?! Padahal kamu mampu kerja di tempat lain yang lebih baik!” Tidak, bukan itu intinya.

Aku akui betul sekali pendapat bahwa untuk menjangkau ribuan orang, tidak perlu harus satu-persatu kita pegang. Cukup beberapa pentolan yang bisa mempengaruhi ribuan orang itu. Tetapi di satu sisi, jangan sampai kita mengabaikan bahwa sangat mungkin para calon pentolan tersebut saat ini masih belum muncul, masih berada tak terdeteksi jelas di kelompok itu. Selain itu, kalaupun kita akhirnya menjadi raja yang duduk tinggi di atas tahta, jangan pernah lupa untuk tetap pula bersentuhan lekat dengan rakyat kita.

Teringat akan Kristus. Rajaku yang luar biasa. Kalau boleh aku mau gunakan ayat ini untuk menggambarkan betapa berbedanya Dia dengan kebanyakan orang-orang pandai dan terkemuka yang aku kenal.

“Have this attitude in yourselves which was also in Christ Jesus, who, although He existed in the form of God, did not regard equality with God a thing to be grasped, but emptied Himself, taking the form of a bond-servant, and being made in the likeness of men.” – Philippians 2:5-7 NASB.

Mungkin kalau aku ketemu Kristus sekarang, aku tidak bakal menyangka kalau Dia adalah Rajaku dari penampilan dan kalangan dengan siapa Dia bergaul. Sangat mungkin aku turut dalam barisan yang meremehkan dia. Dan mungkin setelah mendengar kebijaksanaan yang hadir lewat perkataanNya, aku masih juga tidak bertobat dengan berusaha menasehatiNya (hebat yah kebebalanku!) agar meninggalkan kalanganNya itu dan naik ke level yang lebih tinggi dimana orang-orang pandai dan hebat akan lebih mengerti DiriNya. Sejarah telah membuktikan betapa itu semua salah total! Siapa yang menista Kristus paling hebat? Siapa yang menghina Dia paling giat? Siapa yang tak habis-habisnya oleh karena kehadiranNya merasa terancam paling kuat?

Terima kasih Tuhan buat hari itu. Aku jadi ingat, Kau perlengkapi aku begitu rupa hingga ke tempat tertinggi yang bisa aku tuju justru agar aku bisa semakin menjangkau jauh kemana-mana. Dan jika memang bagianku adalah di tempat yang "tinggi" itu, semoga Engkau mengirimkan orang-orang yang bisa membantuku untuk menjangkau orang-orang lain yang tidak bisa kujangkau. Because in the scope of eternity, itulah yang sesungguhnya berarti.

So, here I am, Lord, let me have an unending desire to be one of Your front-line soldiers!

Continue?

Wednesday, July 18, 2007

What Language Do You Use?

Dalam satu lecture yang saya ikuti dalam beberapa minggu terakhir ini, salah satunya bertema “ Thinking in Pictures: Autism and Visual Thought” yang diadakan Pdt. Joshua Lie (Reformational Worldview Foundation), ada beberapa hal menarik yang saya pelajari. Bukan tentang penderita Autism, meskipun itu juga menarik. Bayangkan saja sekarang ini diperkirakan bahwa satu dari sepuluh orang mengalami autism. Suatu jumlah yang tidak bisa diabaikan bukan?

Tapi yang saya bagikan ini bersumber dari satu pertanyaan tentang kecenderungan keharusan penguasaan bahasa yang lebih dari satu bagi banyak anak-anak di masa sekarang ini. Singkat saja. Ada dua point menarik yang Pak Lie sampaikan dari pertanyaan itu.


Mother Tounge
Pak Lie menjelaskan bahwa sangat penting bagi seorang anak yang belajar berbagai bahasa untuk mulai dari satu bahasa dasar yang akan menjadi akar bagi bahasa-bahasa lain yang diharapkan untuk dikuasainya. Tanpa adanya bahasa dasar (mother tounge) ini, seorang anak akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi yang akhirnya bisa berdampak lebih jauh bagi perkembangan dirinya karena tidak dilatih menyampaikan pikiran dan perasaannya dengan baik.

Di masa sekarang ini tidak sedikit anak-anak yang sejak dini dilatih agar bisa paling tidak bilingual. Saya pun termasuk kategori ini, meskipun tidak dengan dipaksa oleh orangtua saya. Kebetulan saya sangat suka membaca dan lewat bacaan-bacaan inilah saya dilatih ber-bilingual. Saya juga mengamini penjelasan Pak Lie di atas karena saya menyadari salah satu faktor penolong saya belajar that second language adalah karena mother tounge saya cukup memadai, baik bahasa tulis maupun verbal.

Tapi satu hal yang membuat saya agak prihatin adalah betapa sedikitnya orangtua yang peduli akan bahasa dari Alkitab bagi anak-anaknya. Bahasa cinta Tuhan bagi kita semua. Kalaupun peduli, seringkali hanya sejauh membawa anak-anak mereka ke Sekolah Minggu dan menyerahkannya kepada guru-guru disana ataupun lewat persekutuan-persekutuan yang ada. Padahal itulah mother tounge yang paling dasar bagi setiap anak darimanapun dia berasal. Ah… mungkin ini hanya penyampaian pikiran yang basi. Sudah terlalu banyak pastinya hal-hal ini disampaikan dari dulu.

Understand the Language Philosophy
Point kedua yang ingin saya ingat selalu adalah Pak Lie mengingatkan bahwa setiap bahasa memiliki filosofinya sendiri-sendiri. Menggunakan satu bahasa berarti mengadopsi filosofi yang terkandung di dalamnya. Sehingga akan menjadi satu peringatan bagi para orangtua yang berambisi agar anak-anaknya menguasai lebih dari satu bahasa tanpa mereka sendiri memahami filosofi yang ada pada bahasa-bahasa itu.

Akibatnya adalah, meskipun berbicara dalam bahasa yang sama, tetapi dengan pemikiran yang tidak sama karena perbedaan filosofi yang dianut. Contoh sederhana mungkin adalah second generation dari kaum imigran. Dimana para anak mereka sudah begitu beradaptasi dengan filosofi yang dianutnya dari mother tounge mereka, sementara para orangtuanya masih lekat dengan filosofi mother tounge mereka yang jelas berbeda dengan si anak. Jika para orangtua ini tidak memahami filosofi yang terkandung dalam mother tounge anaknya, maka akibatnya adalah meskipun mereka bisa berkomunikasi dengan anak-anak mereka menggunakan mother tounge anak-anak mereka, tetapi pembicaraan mereka tidak akan bersambung.

Bicara tentang hal ini saya terpikir bahwa kitapun bisa “tidak nyambung” dengan Tuhan. Ada satu artikel dari John Piper berjudul “How To Query God”, disana disampaikan oleh John Piper bahwa jangan berpikir bahwa kita bisa seenaknya bertanya pada Tuhan. Senang sekali bahwa contoh yang digunakan John Piper adalah nabi Zacharias, karena sudah beberapa lama saya sering bertanya mengapa dia langsung dibuat bisu akibat pertanyaannya pada Tuhan yang disampaikan lewat malaikat Gabriel.

Saya terpikir bahwa “filosofi bahasa” yang kita gunakan pada Tuhan seringkali tidak tepat seperti yang disampaikan John Piper. Kita bisa bicara tentang satu ayat yang sama dalam Alkitab dengan hasil yang berbeda. Ada orang-orang yang tahu begitu banyak tentang Alkitab, tapi apa yang mereka kerjakan ternyata tidak bersambung dengan Tuhan sehingga dikatakanlah oleh Tuhan, “May will say to Me on that day, ‘Lord, Lord, did we not prophesy in Your name, and in Your name cast out demons, and in Your name perform many miracles?’ And then I will declare to them, ‘I never knew you; DEPART FROM ME, YOU WHO PRACTICE LAWLESSNESS.’” Matthew 7:22-23 NASB.

Banyak orang yang ingin mengerti kebenaran firman Tuhan, tetapi tanpa perkenanNya, yang dimengerti bukannya akan memimpin pada kebenaran, tetapi semakin menyesatkan. Banyak orang ingin mengerti kebenaran semata-mata demi pengetahuan itu sendiri tanpa merindukan Sang Kebenaran yang sejati.

May the LORD grant us the humble and sincere heart in understanding His words. What language do you use today to speak to the LORD? May it be His…

Continue?

Wednesday, June 27, 2007

Stupid Mental Arithmetic

Seminggu yang lalu saya mengikuti lecture berdurasi dua jam dengan tema “$2+$2=$5. How to Avoid Stupid Mental Arithmetic” oleh Pdt. Joshua Lie. Menarik bukan judulnya? Betul, bukan cuma judulnya lho, tetapi juga tentu saja isinya! Lecture tersebut kembali mengingatkan saya tentang arti bersyukur pada Tuhan. Contohnya seperti ini:

Bayangkan, kita telah memenangkan hadiah uang tunai sebesar 300 juta rupiah. Senang tidak? Sebelum menjawab coba lihat pilihan di bawah ini:
  1. Saat pengumuman diberitakan, kita mendapat informasi bahwa jumlah yang diterima sebesar 400 juta rupiah. Beberapa hari kemudian datang pemberitahuan yang menganulir jumlah yang kita terima tersebut menjadi 300 juta rupiah.
  2. Saat pengumuman diberitakan, kita mendapat informasi bahwa jumlah yang diterima sebesar 300 juta rupiah dan beberapa hari kemudian memang sejumlah itulah yang kita terima.
Sekarang coba jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:

  • Apakah jumlah uang yang diterima pada akhirnya baik pada pilihan pertama dan pilihan kedua sama banyaknya?
  • Situasi mana yang mendatangkan kegembiraan lebih besar antara menghadapi pilihan pertama dengan pilihan kedua?
Saya jawab meskipun jumlah yang diterima sama pada akhirnya yaitu sebesar 300 juta rupiah, saya jauh lebih suka berhadapan dengan situasi kedua daripada yang pertama. Saya rasa tidak perlu lagi saya uraikan alasannya. Intinya saya sedang berhadapan dengan diri yang kurang, bahkan tidak bersyukur atas apa yang saya terima, hehehe…

Bukan Sekadar Angka
Dikatakan dalam lecture tersebut bahwa angka bukanlah suatu objek yang berdiri sendiri. Angka dipengaruhi juga dengan “language” yang menyertainya. Contoh sederhana saja, orang melihat apakah harga suatu perangkat audio mobil terhitung mahal atau tidak tergantung dari bagaimana ia dijual. Bandingkan, waktu kita harus menawarkan satu perangkat car audio seharga 3 juta rupiah yang berdiri sendiri dengan waktu kita mencoba menjualnya sebagai paket dari mobil seharga 200 juta rupiah. Semua orang tahu lebih mudah menjualnya sebagai paket, karena jika dibandingkan dengan harga mobil tersebut, harga car audio tersebut tidak ada apa-apanya. Padahal nilainya sama-sama 3 juta rupiah.

Saya jadi berpikir, seringkali banyak hal yang Tuhan sudah berikan pada kita jadi terasa kecil nilainya karena “kacamata” yang saya pakai untuk melihatnya. Kalau dulu uang sebesar satu juta rupiah terasa begitu luar biasa, kini mungkin tidak bisa disyukuri seperti dulu karena meningkatnya berbagai keinginan (catat: keinginan!) diri. Kalau dulu saat belum punya anak tak habis-habisnya memohon agar diberikan satu saja oleh Tuhan dan tapi kini kembali tak henti-hentinya memohon agar diberikan anak perempuan karena empat orang yang sudah lahir semuanya laki-laki. Dan masih banyak contoh lagi. Bukan sekadar angka.

Pleasure vs Pain
“We find pleasure much less pleasurable, pain much more painful than we had anticipated.”
“People experience more pain from a loss than they do pleasure from an equal gain.”

Kutipan yang sangat jujur bukan? Kita sering lebih peka saat disakiti dibandingkan dengan saat menyakiti orang lain. Beberapa saat yang lalu ada seseorang yang sangat marah pada saya dan mendengar perkataan-perkataannya membuat hati ini sangat gundah. Tetapi di tengah kejadian itu mendadak saya seolah disadarkan bahwa betapa sesungguhnya saya sudah menyakiti dia hingga menghasilkan kemarahan yang sedemikian rupa. Kesedihan saya langsung berganti dengan harapan agar satu saat nanti dia akan bisa mengampuni saya atas apa yang sudah saya lakukan. Saya baru mengerti bahwa ternyata kesedihan saya sama sekali tidak berimbang dengan kesalahan yang sudah saya lakukan.

Terhadap Tuhan pun kita terlalu sering demikian. Tak ubahnya orang Israel yang sudah dibebaskan dari perbudakan di Mesir dan dibawa langsung oleh Tuhan sendiri menuju tanah perjanjian, tetapi di sepanjang jalan tak habis-habisnya mengutuki situasi yang ada. Sukacita saat dibebaskan dengan begitu ajaib oleh Tuhan lenyap entah kemana tertiban rasa kecewa tidak bisa menikmati makanan seperti saat menjadi budak di Mesir. Seolah berkata, “Tuhan, lebih baik jadikan kami sebagai budak lagi di Israel!”

Sama seperti kita yang begitu sukacita saat baru dipertobatkan. Merasa begitu manisnya Tuhan, begitu indahnya terbenam dalam ayat-ayat Alkitab yang dibaca, tidak ada habis-habisnya mengucap syukur atas karya pengorbanan Kristus saat di kayu salib. Tapi kemudian, kala diajak Tuhan untuk lebih mengenal diriNya melalui peristiwa-peristiwa yang mendukakan hati dan meremukkan jiwa, kala diajak Tuhan untuk semakin bertumbuh dewasa dalam kasihNya melalui berbagai pencobaan, kala diajak Tuhan untuk semakin mengenal kuasaNya melalui kesulitan-kesulitan hidup, MANA YANG KITA PILIH? Tetap ikut kemanapun Dia membawa atau berteriak, “Tidak, Tuhan! Tinggalkan aku sendiri! Mana mungkin arti cintaMu seperti ini?!?!”

Padahal melalui semua jalan-jalan itulah kita pada akhirnya akan semakin mengalami sukacita yang habis-habisnya, sukacita sejati yang tak akan bisa direbut oleh apapun, termasuk segala hal yang kita sangat kita takuti. Kehilangan, kematian, kemiskinan, kesakitan. Padahal seringkali kesulitan yang dibiarkan Tuhan menyentuh hidup kita sangat sedikit “angka-nya” dibandingkan dengan pemeliharaanNya atas jiwa kita. Padahal segala dukacita yang kita rasakan sekarang akan berganti menjadi sukacita yang berkali-kali lipat nanti… Ah Tuhan… Kau tahu betul hatiku…

Lack vs Abundant
“Tidak ada seorangpun yang mempedulikan aku, padahal aku sudah melakukan berbagai hal buat mereka.Aku seperti mesin yang sudah lelah dipacu berlari dari hari ke hari tanpa mendapatkan oli pelumas Top One (atau Castrol? Tolong kasih pendapat, maklum tidak familiar dengan hal-hal berbau maskulin) ” Familiar dengan kalimat ini?

Jaman ini terlalu banyak orang (termasuk saya) merasa seperti zombie yang hidup tapi tidak hidup karena merasa adanya kekosongan yang berusaha keras diisi dengan berbagai hal yang diharapkan bisa mengisi itu semua.

Kita jatuh cinta pada orang yang bisa terlihat begitu punya banyak kelebihan, untuk menutupi kekurangan kita katanya. Tapi saat berhadapan dengan kekurangan dirinya, kita jadi kelabakan. Mengurusi kekurangan diri sendiri saja sudah begitu sulit, boro-boro mengurusi kekurangan orang lain. Akibatnya, putuslah hubungan suami-istri dimana-mana tanpa ampun!

Kita hanya bisa mencintai sesuatu karena kita membutuhkannya. Bukan hanya soal pasangan, pada materi pun demikian. Bukan hanya pada benda-benda ciptaan, pada Sang Pencipta pun kita demikian! Kita mencari Tuhan bukan demi Tuhan itu sendiri, tapi demi kebutuhan-kebutuhan diri kita. Sulit betul mencintai Tuhan tatkala yang kita rasa kita butuhkan seolah tak jua diberikan.

Kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan kita, Kristus tidak perlu mati di kayu salib menebus kita. Kristus tak perlu membatasi diriNya yang begitu mulia menjadi manusia hina. Kristus tak perlu hidup 33½ tahun di dunia dengan begitu berduka menghadapi ketidakmengertian kita akan kasihNya. Tidak. Kristus tidak perlu datang kalau cuma jadi supplier utama kebutuhan kita. Kristus tidak perlu datang.

Tapi Kristus mau datang agar kita mengenal hidup yang berkelimpahan. Kristus datang agar segala hal yang fana tergantikan dengan yang kekal. Kristus datang agar kita tidak lagi hidup dalam theology of lacking tetapi theology of abundant. Kristus datang agar kita kembali sebagaimana kita dimaksudkan saat diciptakan, pewaris kerajaan Allah, bukan budak hamba segala kenikmatan yang fana. Kristus datang agar kita hidup dalam kerajaanNya, even as of now in an already-but-not yet times!

So, let’s make decision today and keep on making it, to live as the sons and daughters of the King of Heaven, to know that we have been given much more than we can ever lose, to understand that all we have been receiving are actually only His blessings!

“Yah, Kristus tahu betapa bodohnya kita ber-matematika… =)”

Continue?