Showing posts with label in Indonesian. Show all posts
Showing posts with label in Indonesian. Show all posts

Saturday, January 12, 2008

Joni Eareckson Tada (A Gift to Myself)



Aku tidak ingat siapa namanya waktu pertanyaan “Name three persons you would invite to your dream dinner” muncul di session ice-breaking workshop kali ini. Pertanyaan yang awalnya kujawab mantap “My dad, my mom, my sibling and my future husband”. Tapi karena dream dinner dengan mereka sudah menjadi a dream come true, jadilah Mr. John Calvin, Mr. Adolf Hitler dan dia whose-name-I-cannot-recall masuk daftar Top Three-ku saat itu.


Aku belum juga ingat siapa namanya saat terseok-seok dari lorong ke lorong membawa keranjang berisi sedikitnya selusin buku masing-masing setebal minimal dua sentimeter buah pikiran C.S Lewis, John Piper, R.C. Sproul, Philip Yancey, Gordon MacDonald plus dua bible study yang ketebalannya bisa membinasakan orang yang tercium mesra olehnya. Meskipun tubuh mungil ini (mungil?!) tertatih-tatih menyeret keranjang di sepanjang Christian book warehouse yang jumlah bukunya membuatku terpana sesaat setelah masuk, aku tidak mau menyerah hingga berhasil mengingat namanya. Sayangnya benar kata orang “lupa bertanya sesat mencari”.

Akhirnya setelah berhadapan dengan kenyataan akan anggaran yang terbatas dan waktu boarding yang semakin dekat, dengan enggan aku melaju menuju tempat kasir hanya untuk tersandung setumpukan buku berjudul “Heaven: Your Real Home” by Joni Eareckson Tada. Yipeee!!! Sejenak aku lupa dengan soal anggaran dan boarding itu. Mengandalkan kemampuan matematikaku yang terbatas aku menghitung-hitung buku mana yang akan kubeli. Jadilah Heaven: Your Real Home pilihanku yang pertama, sebagai persiapan untuk masa depan. Persiapan untuk bertemu dengan Dia yang digambarkan Joni dalam bukunya yang berikutnya kupilih The God I Love.

Berjuang kembali ke negeri tercinta ini setelah re-timed hingga lima jam, di tengah malam yang berangin dingin itu aku menunggu antrian taksi yang tak kunjung tiba dengan satu perasaan tenang dan hangat oleh sukacita mengingat kisah indah yang segera akan aku nikmati. Joni’s The God I Love adalah salah satu buku pertama yang aku buka dan aku terpana... Membaca kisahnya memaksa aku yang tidak mahir multi-tasking ini harus pandai-pandai membaca sambil membuka Bible sambil merenung, sambil berdoa sekaligus menghapus airmata dan tertawa (uhm… dalam bahasa Mandarinnyage i el a atau si ar e zet wai?).

Kisahnya indah tapi mungkin bukan seperti yang aku dan kau bayangkan pada awalnya. Kalau kau mencari gambaran seorang gadis muda yang tangguh meskipun lumpuh dari leher ke bawah (quadriplegic) karena diving accident, kau salah pilih buku. Kalau kau mencari gambaran pahlawan iman yang dengan gagah berani menghadapi berbagai situasi sulit dan tetap percaya pada Tuhan, lebih baik kau baca saja buku lain.

Karena di sini kau akan berhadapan dengan kisah “ketidaktangguhan” seorang anak Tuhan dalam menjalani hidupnya. Kelemahan demi kelemahannya dipaparkan dengan tulus dan terbuka. Joni dengan jujur akan bercerita padamu berbagai kesalahan yang dia perbuat sepanjang hidupnya dan bagaimana Tuhan dalam belas kasihnya menebus semua itu untuknya. Tidak, ini bukan buku yang aman untuk orang yang mencari therapeutic healing, kau akan kecewa. Kau cari saja buku yang lain. Tetapi… kalau kau ingin mengenal lebih jauh siapa Tuhanmu, mari ikuti aku membacanya. Untuk kali ini, ijinkan aku bercerita lebih dahulu kepadamu…

The God she loves, allows us to taste what hell is like…
Terbaring terikat pada Stryker frame selama beberapa bulan pertama, di bawah pengaruh obat bius dosis tinggi yang menimbulkan halusinasi menyeramkan, menjadikan kebas (numb) sebagai emosi yang terakrab. Sehingga bahkan kengerian akan kuku tangannya yang harus dicabuti satu-persatu akibat infeksi, tidak ada bandingannya dengan kebas perasaannya saat menanti Tuhan melawatnya di kolam Bethesda. Tidak ada malam segelap itu, saat Tuhan dirasa membisu dan membiarkan jiwanya terbunuh. That was the taste of hell, that was the real suffering...

Tetapi Tuhan tidak pernah membiarkan the taste of hell menjadi realita kita. Tidak akan pernah. Pada satu malam yang tak tertahankan Tuhan mengirim seorang sahabatnya mengendap-endap menyelinap memasuki kamar Joni setelah suasana di rumah sakit senyap. Seorang sahabat yang kemudian sepanjang malam berbaring di sampingnya, tanpa kata-kata memegangi tangan Joni yang sudah mati rasa. Menjawab keluhan Joni, “Jacque, it’s been so hard. So scary. I’m afraid,” hanya dengan menyanyikan lembut Man of Sorrows! What a name; For the Son of God who came; Ruined sinners to reclaim; Hallelujah! What a Saviour!

Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu sejak kecelakaan itu terjadi, Joni tahu bahwa keberadaannya signifikan di dunia ini. For the very first time, it was okay. It was just... okay. Dengan lembut Tuhan terus mengingatkan, “I love you. Don’t worry. If I loved you enough to die for you, don’t you think My love is great enough to see you through this?”

Ya, neraka bukanlah pilihan bagi setiap anakNya. Itulah sebabnya neraka tidak pernah jadi realita meskipun dalam dunia yang jatuh dalam dosa seolah itulah kenyataannya. Tapi telah ada Dia yang turun jauh dari tempatNya untuk membawa kembali setiap anakNya yang merasa nerakalah pilihan hidup mereka.


The God she loves, creates marriage as a ministry for Him...
“I love you Joni,” young and handsome Ken Tada said.
“Well, you know what? I love you, too,” Joni replied. Ken continued, “It could work, you know. I’ve been watching Judy help you all these months, I know I can do the things she and others do for you.”
“You’re talking marriage?” Joni asked.
“Our life together... it could be a real ministry for the Lord,” Ken softly said.

Beberapa bulan kemudian Joni menambahkan nama Tada pada namanya. Joni Eareckson Tada. Aku tak ingin banyak berkisah tentang mereka. Kau dengarkan saja dulu rekaman video saat Ken Tada dihormati lewat pemberian McQuilkin Award bertahun kemudian setelah hari mereka saling berkata, “I do” ini (klik di sini). Itu saja sudah bercerita milyaran kata tentang indahnya melayani Tuhan lewat pernikahan kita. Aku kini hanya ingin memanggil seluruh wanita untuk belajar pada Ken Tada tentang apa artinya menjadi a godly woman worthy of one of His sons as their spouse.

Marriage as a ministry. Is that an alien concept for us or is it already what you believe it should be and striving hard to do? John Piper pernah menyinggung hal ini dalam salah satu artikelnya Let Us Go With Jesus Bearing Reproach. Dan dalam Brothers We Are Not Professionals dia menyebutkan, “God made man to be a sharer. God created us not to be cul-de-sacs of His bounty conduits. No man is complete unless he is conducting grace (like electricity) between God and another person.” I can’t agree more with him. To minister God through the ministry to others. To be sharers of God's grace for one another.


The God she loves, loves to teach us through children...
Pernikahan Ken dan Joni yang indah bukannya tanpa pergumulan dan air mata. Meskipun quadriplegia tidak merenggut kemampuan Joni untuk mempunyai anak, tetapi Tuhan dalam kedaulatanNya memberi kisah lain untuk dijalani. Dalam kepedihan hatinya di masa-masa awal berhadapan dengan kenyataan akan tiadanya anak dalam perkawinan mereka, Tuhan mengirimkan berbagai anak tiba padanya. Bukan sembarang anak, tetapi mereka yang fisiknya tidak sempurna. Tuhan membuka hati Ken dan Joni untuk mencintai mereka semua. Hati yang awalnya hanya mampu mencintai beberapa anak, diperluasNya sehingga mampu mencintai ribuan anak.

“We may not be able to have our own children, but we have the children all around the world. Yes, disabled children.” Dan melalui anak-anak ini Joni dibuat terkagum-kagum akan kemampuan anak-anak menghadapi kesulitan-kesulitan hidup mereka. Joni will tell us this, “Through a sweet little child I’ve learnt about true wisdom. It’s found not in being able to figure out why God allows tragedies to happen. True wisdom is found in trusting God when you can’t figure things out.”

Dan itu bukan pelajaran yang pertama. Kelly, keponakannya berusia enam tahun didiagnosa menderita tumor otak dan hanya bisa hidup sebulan lagi. Seluruh keluarga termasuk Joni berusaha mempersiapkan Kelly pulang ke surga. Tetapi Tuhan membalikkan peran. Yang hendak menghibur menjadi yang dihibur. Yang ingin menguatkan menjadi yang dikuatkan.


The God she loves is not “safe”...
Pada chapter 26 mendekati akhir buku, Joni dikisahkan kembali mengalami masalah medis yang menguncangkan kembali kehidupannya. Masalah myo-fascia yang selama beberapa saat tidak bisa didiagnosa membuat hidupnya yang ceria menjadi kehilangan harapan saat berhadapan dengan nyeri yang rasanya tak tertahankan. Aku sempat terpana membacanya. Orang yang sudah mengalami begitu banyak kesulitan luar biasa dan dimampukan Tuhan melewati semuanya, mengapa masih bisa kehilangan harapan?

Ini adalah wanita yang berkata, “Suffering is like a sheepdog that snaps at your heels and keeps driving you toward the Shepherd,” and she meant it. Ini adalah wanita yang berkata, “I want you all to know my accident was no accident at all,” saat melukiskan Kedaulatan Allah yang selama ini selalu mengiluminasikan hidupnya.

Tetapi wanita yang sama ini kemudian pada satu malam kelam tak mampu lagi berdoa dan hanya melitanikan nama Yesus tiada henti seperti aku bertahun yang silam, “Jesus, Jesus, Jesus.” Hanya hatinya yang mampu berkata, “I want to trust the Father with this, but he’s so... so sovereign. And that’s scary. I’m afraid to trust him. I can’t. I can’t.” Kedaulatan Allah tidak pernah begitu menakutkan seperti saat itu.

Joni bertutur tentang tentang kecelakaannya, “And miracle of miracles, I was making it. Years were passing, and I was maintaining my balance, cultivating patience and endurance, and watching things fit together for good. No longer. Mind-bending pain had begun to jiggle the wire, and I’d lost sight of God at the far end.”

Tuhan tidak akan membiarkan anak-anakNya menjadi nyaman dengan dunia ini karena ini bukan rumah mereka. Ia akan menggoncangkan sarang-sarang palsu yang nyaman itu untuk mengajarkan bahwa mendapatkan Dia berarti kehilangan segalanya. Tidak ada aman, selain bersamaNya. Tidak ada sukacita, selain di dalam anugerahNya. Tidak ada yang berharga selain diriNya. Hanya lewat perspektif kekekalanlah kita akan mengerti betapa Tuhan yang “tidak aman” ini sesungguhnya telah mengamankan perjalanan kita hingga nanti tiba di surga. Mencelikkan mata tentang apa yang sesungguhnya berharga.

Jika matamu telah terbuka maka kau akan mengerti hidup ini bukan seperti dalam putaran roda. Sebentar di atas, sebentar di bawah. Saat kau rasa di bawah mungkin sekali kau justru tengah dengan luar biasa dibentukNya sehingga semakin menyerupai AnakNya. Kalau begitu, ini bukan lagi urusan hidup enak-susah karena bukan itu tujuannya, bukan itu yang jadi fokus hidupmu. Melainkan mendapatkanNya, dipuaskan hanya karena Dia dan hidup bagiNya. We’re not safe in this world and it is okay because we’re always safe in Him as He has already saved us.


Whoops... tak bakal habis aku berkisah tentang the God Joni loves. But this I should be sure of, the God Joni loves is the God who loves me. I can never be confident in my love for Him, but I can always be confident of His love for me. A dream dinner comes true? Hm... I know whom I will invite for the next time. Only one. That is God the Father, God the Son and God the Holy Spirit... What a dinner it would be!

Next journey: A Resilient Life - Gordon MacDonald... = )

Continue?

Sunday, November 18, 2007

Greatly Rejoice (?)

In this you greatly rejoice, even though now for a little while, if necessary, you have been distressed by various trials, so that the proof of your faith, being more precious than gold which is perishable, even though tested by fire, may be found to result in praise and glory and honor at the revelation of Jesus Christ...
1 Peter 1:6-7 NASB

Maybe... that would be a slight reflection of what I am facing these days in ministering my precious little children and dealing with the community who calls themselves, God's chosen ones. Since I started about 6 (six) months ago, I knew this day would come when I will be given tough choices to take. I used to be quite bitter and fierce as I felt that I was being wronged, but... it should not matter that much anymore. My LORD will make it right one day. Now, I'll just continue the journey. I know I am never alone...


Thank you Lord for allowing me to know that Yessi herself has a burden upon the matter. She still refused to sign the papers I gave and I let her know I am willing to be back teaching anytime when it is cleared. There should be more people stand out to speak up for the truth, but this is I can do so far. I know and believe, You will help guarding my every step. Little by little. Little by little, that's how...!

May the Lord bless your decision and carry you into another world of ministry. It's not going to be easier, in fact it will be more difficult to adjust, because it's grounded in the issues of controversial matters. What a shame!

Only God knows who is right, we can only assume and resume. Thanks for sharing! It's comprehensively clear. Keep on striving to be what He wants you to be and to do what He wants you to do. You are growing by God's Grace, Grace!
CJ


Jakarta, 18 November 2007


Dear Kak Hetty, Semu Aletta, Yessi, Hanny, Ci Indah dan Tina yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus,

Pada hari Minggu yang lalu, 11 November 2007, Kak Hetty mengajak saya untuk berbicara mengenai kegiatan saya sebagai salah satu guru Sekolah Minggu GR Pusat, sehubungan dengan aktivitas saya dalam berbagai acara yang diadakan oleh Pdt. John Lucas. Kesimpulan yang saya dapatkan pembicaraan itu, saya baru bisa tetap menjadi guru Sekolah Minggu GR Pusat jika saya tidak lagi berbagian dalam acara-acara yang diadakan oleh Pak Lucas ataupun komunitas Kristen lain yang non-GR, sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Saya kemudian meminta waktu kepada Kak Hetty untuk berpikir sambil berencana untuk berbicara dengan Pak Lucas dahulu agar mendapatkan klarifikasi akan berbagai hal yang saya dengar selama ini tentang beliau, dengan tujuan agar membantu saya mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh tentang apa yang terjadi antara Pak Lucas dengan Pak Thomas. Saya harapkan dengan mengetahui hal ini (yang boleh dibilang sebagai penyebab utama munculnya ketentuan ini) akan menolong saya dalam mengambil keputusan.

Tetapi akhirnya saya memutuskan untuk terlebih dahulu mengambil keputusan baru kemudian bertanya kepada Pak Lucas. Karena saya akhirnya menyadari bahwa yang ingin saya tanyakan hanyalah soal klarifikasi atas suatu kejadian yang telah lampau, unchangeable things, dimana sangat mungkin hanya sebagian kecil sekali dari hasil pembicaraan itu yang akan mempengaruhi keputusan yang harus saya ambil. Sehingga kalau saya boleh berbagi inilah beberapa hal utama yang menjadi pemikiran saya:

  • Kalaupun memang Pak Lucas bersalah dalam masalah uang yang dikatakan belum dipertanggungjawabkan beliau, maka bagaimana saya harusnya bersikap dalam hal ini, terutama yang terkait dengan pertanggungjawaban atas sikap yang saya ambil dalam masalah ini di hadapan Tuhan.
  • Bagaimanakah kebenaran Tuhan yang diwahyukan lewat Alkitab akan memimpin saya mengaplikasikan yang sudah saya ketahui dalam tindakan nyata saya sekarang, terlepas dari apa/siapakah yang saya hadapi sekarang.
  • Menjelang akhir tahun yang lalu sudah ada banyak hal yang terpeta untuk saya lakukan sepanjang 2007-2008 yang salah satunya akan melibatkan extensive travelling outside Jakarta and abroad, ditambah lagi komitmen saya akan waktu untuk belajar. Itulah sebabnya di awal tahun 2007 saya sempat meminta kepada Yessi agar tidak dijadikan pejabat kelas. Selama ini saya ‘cukup berhasil’ untuk bisa terus hadir setiap hari Minggu, tetapi untuk beberapa bulan ke depan mungkin tidak demikian.

Selain itu di pertengahan tahun 2007 ini Papa saya mengalami kemerosotan fisik yang cukup drastis sehingga saya mencoba meluangkan lebih banyak waktu di hari Sabtu-Minggu untuknya.

Atas dasar berbagai pemikiran itulah akhirnya saya memutuskan untuk menerima ketentuan untuk di-non-aktif-kan dari kegiatan saya sebagai salah satu guru Sekolah Minggu GR Pusat jika saya masih tetap berbagian dalam berbagai kegiatan komunitas Kristen lain yang non-GR/ST, hingga waktu yang belum ditentukan.

Sehubungan dengan Pak Lucas, ini adalah suatu pilihan yang tidak mudah karena saya harus memilih diantara dua pilihan yang sama-sama tidak enaknya. Antara melepaskan kegiatan sebagai guru Sekolah Minggu sehingga bisa berbagian di kegiatan Pak Lucas, dengan tetap menjadi guru Sekolah Minggu dan mengambil sikap berseberangan dengan Pak Lucas.

Secara pribadi, apapun yang terjadi antara Pak Thomas dengan Pak Lucas saya berharap untuk tidak membuat jarak diantara mereka semakin lebar karena ini bukan soal pemisahan dalam konteks organisasi semata, it’s not that simple. Tetapi bagaimana saya seharusnya menjembatani keterpisahan yang sedang terjadi. Mungkin inilah salah satu langkah yang harus saya ambil untuk mencapai tujuan itu. Sulit menentukan bagaimana awalnya ini semua terjadi sehingga hanya kebesaran hati dan kasihlah yang mungkin pada akhirnya nanti akan bisa mempersatukan Pak Thomas dengan Pak Lucas kembali.

Semoga kita semua yang terlibat di dalamnya akan semakin mendukung bersatunya mereka kembali dan bukan semakin memisahkan mereka. Saya yakin pada akhirnya setiap anak Tuhan yang berselisih akan dIndahmaikanNya kembali. Kalau tidak di bumi ini, pasti satu saat di Surga nanti. Sehingga yang penting buat saya pribadi sekarang adalah bagaimana pertanggungjawaban saya di hadapan Tuhan atas peristiwa yang diijinkannya bersentuhan dengan saya sekarang.

Ada beberapa pemikiran yang kalau boleh saya share-kan di lembar terakhir surat ini. Mohon maaf sebelumnya kalau ada tulisan yang dirasa menyinggung dan tidak bijak dalam memandang masalah ini. Itu hanyalah pemikiran saya, belum tentu saya benar dan tentu saja pemikiran itu tidak harus diterima atau bahkan dibaca. Sekali lagi mohon maaf kalau ada kata-kata yang tidak berkenan.

Saya sengaja menuliskan surat ini agar jika ada pertanyaan dengan non-aktif-nya saya sebagai guru Sekolah Minggu GR Pusat, mohon agar surat ini dijadikan referensi untuk menjawabnya, sehingga apa yang disampaikan adalah berasal langsung dari saya, terlepas dari interpretasi pribadi tiap orang setelah membacanya. Saya juga akan mengirimkan surat ini lewat email kepada kalian semua (yang saya sebutkan di atas). Saya persilahkan jika ada yang ingin bertanya lebih lanjut kepada saya, hanya saja saya prefer untuk menjawabnya lewat tulisan sehingga membantu saya menjaga setiap kata yang keluar dari mulut saya terutama di saat-saat ini.

Hari Minggu ini, 18 November 2007 akan menjadi hari terakhir saya mengajar di Sekolah Minggu GR Pusat. Saya akan berpamitan pada anak-anak di kelas dengan disaksikan rekan-rekan guru lainnya yang ada di kelas. Saya bersedia tetap membantu rekan-rekan saya selama masa handing over ini, meskipun tidak akan hadir lagi di kelas.

Sekian surat saya, terima kasih untuk kesediaan rekan-rekan untuk membacanya Terima kasih juga untuk kasih rekan-rekan semua kepada saya selama ini, kiranya Tuhan terus menyertai kita semua.

..........Penulis, .........................................................................................Penerima,



Xaris GM ............................................................................(…………………………………)
..........................................................................* Penerima tidak bertanggung jawab atas isi surat ini.

*There are two copies of this letter for my archive & GR Pusat Sunday School’s.

Terlampir beberapa pertanyaan yang muncul dari pembicaraan dengan Kak Hetty di minggu yang lalu, 11 November 2007. Ini adalah pertanyaan pribadi yang mungkin tidak ada jawabannya/perlu dijawab. Saya hanya ingin share apa yang jadi refleksi dari pemikiran saya dalam hal ini – see the next page.

  • Apakah sebabnya dengan status sebagai aktivis GR maka saya tidak boleh ikut dalam kegiatan yang diadakan oleh komunitas Kristen lain non-GR (dalam hal ini yang agaknya jadi fokus adalah kegiatan FWR-nya Pak Lucas)?
  • Jika yang tidak boleh saya ikuti adalah segala kegiatan yang diadakan komunitas Kristen lain non-GR, dimana larangan ini juga diberlakukan pada majelis, hamba Tuhan dan para aktivis GR yang lain, lalu bagaimana dengan aktivis-aktivis (hamba Tuhan/majelis/anggota) yang bukan berasal dari GR (tidak menjadi anggota resmi GR) tetapi sudah turut aktif dalam kegiatan-kegiatan GR? Bagaimana mereka bisa tetap jadi aktivis di GR sambil pula berbagian dalam kegiatan di tempat asal mereka?
  • Apakah ini berarti GR akan berjalan sendiri menjalankan visi yang dikatakan diberikan Tuhan lewat Pak Thomas? Bagaimana dengan komunitas invisible churches yang berstatus non-GR? Apakah kita akan memisahkan diri dari mereka? Karena jika kita melarang para aktivis/hamba Tuhan/majelis kita berbagian dalam kegiatan di tempat lain, maka kita juga seharusnya tidak memperbolehkan para aktivis (termasuk hamba Tuhan/majelis/anggota) dari tempat lain berbagian pula dalam kegiatan di tempat kita.
  • Jika larangan ini dikarenakan yang mengadakan adalah Pak Lucas? Apakah alasannya? Apakah Pak Lucas mengajarkan hal yang menyesatkan dalam konteks pengajaran yang melawan kebenaran Alkitab?
  • Jika memang ada masalah antara Pak Thomas dengan Pak Lucas soal uang yang dikatakan belum dipertanggungjawabkan oleh Pak Lucas, seberapa signifikan masalah itu sehingga GR harus mengadakan ketentuan yang tidak memperbolehkan para aktivis, hamba Tuhan dan majelis untuk ikut kegiatan yang diadakan Pak Lucas?

Apakah kasus MR Toronto yang melepaskan diri akan dijadikan salah satu alasannya? Apakah kita sudah tahu persis bagaimana hal yang sebenarnya terjadi disana sebelum mengaitkannya dengan Pak Lucas?
  • Jika larangan itu dihubungkan dengan komitmen, maka komitmen seperti apa yang dimaksudkan? Komitmen kita hanyalah kepada Tuhan yang dimana secara kasat mata akan tampak lewat aktivitas kita dalam berbagai kegiatan, diantaranya yang diadakan oleh gerakan Reformed Injili yang dipioneri Pak Thomas lewat GR/ST.

Tetapi kalau boleh berterus terang saya juga mempertanyakan apakah yang menjadi pioneer ataupun yang mendapatkan visi adalah yang juga akan selalu menjadi yang paling jitu ataupun diijinkan Tuhan untuk mewujudkannya? Saya jadi berpikir apakah kita sudah terlalu yakin bahwa apa yang kita jalankan sungguh berkenan di hadapan Tuhan? Apakah hanya kita (GR/ST) satu-satunya yang berhak mengklaim diri sebagai gerakan yang sungguh-sungguh Reformed Injili? Jika ya, siapa yang sesungguhnya berhak menilai ke-Reformed Injili-an kita, terutama menilai apakah yang kita lakukan memang berkenan di hadapan Tuhan? Jika tidak, mungkinkah saat inipun tengah bermunculan berbagai gerakan yang sifatnya Reformed Injili di luar GR/ST, meskipun tidak menggunakan label itu?

Saya tidak sedang mencoba ataupun berminat untuk memilih mana gerakan Reformed Injili yang berkenan di hadapan Tuhan, tentang itu saya percaya hanya Tuhan yang tahu. Di akhir tahun ini saya memang memilih untuk tidak ikut serta dalam NC 2007 dan memilih untuk ikut retreat L.C. yang diadakan Pak Lucas. Apakah itu juga dianggap sebagai pergeseran komitmen? Apakah kalau begitu saya boleh mengartikan bahwa setiap aktivis/hamba Tuhan/majelis GR yang bisa tetapi tidak ikut dalam NC 2007 harus dipertanyakan ulang komitmen-nya serta dipertimbangkan keikutsertaannya di dalam GR?

Continue?

Saturday, October 13, 2007

Teologi Sukses, Penderitaan dan Kenikmatan

"What is a man's chief end?
A man's chief end is to glorify God and to enjoy Him forever".

Amen. Itulah yang terbersit di hati saya saat pertama kali mendengar kalimat itu diucapkan, dibaca dan dibahas bersama di dalam kelas-kelas yang saya ikuti. Ada rasa senang yang dangkal? Perhaps. Because Gloria is my middle name (gee...!) and then I made a mental note to name one of my (future) children, Joy. Or Hope. That shallow, I know. It so happened, however, a journey is to be taken to make that chief end’s of man, my end. And with that divine plan, a journey to live that end out began...


Berkenalan dengan kata "memuliakan Allah" sejak batita mungkin membuat kata tersebut cukup familir buat saya karena memuliakan Allah termasuk kata-kata yang paling sering didengar, mulai dari diteriakkan di mimbar dengan berapi-api, dinyanyikan merdu segenap hati hingga dibisikkan dalam doa diantara tetesan airmata. Mirip dengan itu, adalah kata "menikmati Allah". Karena buat saya kata menikmati Allah mengandung suatu kedekatan yang lebih dibandingkan dengan kata memuliakan Allah. Seperti kedekatan yang saya rasakan dalam kata "mencintai Allah". Kedekatan antara seorang anak dengan ayahnya. Jadi, tidak ada yang terasa aneh saat berkenalan dengan kata itu.

Perjalanan selanjutnya membawa saya bertemu dengan bahasan tentang Enjoyment theology atau teologi Kenikmatan. Disinilah saya mulai mengenal arti Menikmati Allah dengan lebih dalam lagi, meskipun pada awalnya ada alarm yang menyala saat mendengar bahasan tentang teologi Kenikmatan. Aliran baru apalagi ini?! Bersenjatakan pengetahuan kognitif akan firman Tuhan yang tidak seberapa itu, dengan penuh kecurigaan saya dengarkan baik-baik pembahasan itu dibawakan. Hm… apakah bahan "baru" ini punya relasi dengan Teologi Sukses? Bagaimana relasi menikmati Allah dengan teologi Kenikmatan?

Teologi Sukses vs Penderitaan
Terus terang, pemahaman saya yang terbatas tentang teologi Sukses ditambah rasa sok tahu saya ternyata tetap membawa saya untuk melawan pengajaran ini. Secara ringkas yang saya mengerti dari teologi Sukses adalah bagaimana mewujudkan surga di bumi dengan menjadikan sang Pencipta sebagai Sinterklaas yang berkewajiban mengabulkan setiap permohonan. Sehingga setiap anak Tuhan sudah seharusnyalah hidup makmur, sukses, bebas dari masalah dan bahagia. Jika kau tidak mendapat, itu karena imanmu terlalu kecil. Maka, berimanlah! Masalahnya beriman kepada diri sendiri sama sekali berbeda dengan beriman kepada Tuhan. Let me be God # let God be God. Padahal melihat kehidupan Kristus selama di dunia tidak pernah satu kalipun Ia tidak merendahkan diri dan tunduk di hadapan Allah Bapa. Tujuan hidupNya adalah melaksanakan kehendak BapaNya, seperti yang Dia katakan selalu, “For I have come down from heaven, not to do My own will, but the will of Him who sent Me."
John 6:38 NASB

Saya kerap membandingkan pengajaran teologi Sukses dengan teologi Penderitaan/Salib yang saya kenal dalam kurun waktu bersamaan dengan teologi Sukses. Secara ringkas pengajaran teologi Penderitaan yang saya mengerti adalah bahwa setiap pengikut Kristus yang telah diselamatkan dari kematian kekal, dipanggil keluar dari kegelapan, akan menjalani hidup yang berhadapan dengan penderitaan akibat eksistensinya di dalam dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa ini. Setiap orang wajib menyangkal diri mengikut Tuhan, let God be God. Karena seperti Kristus yang rela turun dari Surga, menjalani hidup yang penuh penderitaan dan mati di kayu salib untuk menebus dosa umatNya, begitulah seharusnya hidup setiap orang percaya. Teologi Penderitaan juga mengajarkan bahwa penderitaan meskipun menyakitkan adalah sangat perlu untuk menyadarkan bahwa this earth is not our home, only Heaven is and it will arrive one day upon Christ' second return.

Buat saya pengajaran ini lebih bertanggung jawab dan menyadari posisi yang tepat dari relasi I and Thou antara kita dengan Tuhan. Apalagi Kristus sendiri dengan kematianNya di kayu salib sudah dengan sangat jelas memberikan contoh dan gambaran akan apa yang harus dihadapi setiap pengikutNya nanti. Sehingga meski saya tidak bisa menerima pengajaran teologi Sukses dan saya menyambut teologi Penderitaan/Salib dengan tangan terbuka lebar. Dan kemudian saya bertemu dengan pembahasan bernama teologi Kenikmatan...

Penderitaan vs teologi Kenikmatan
Teologi Kenikmatan yang saya mengerti berawal dengan penjabaran dari katekismus Westminster bahwa tujuan hidup manusia selain memuliakan Allah adalah juga untuk menikmatiNya. Pengajaran ini secara lebih detail membahas tentang apa arti menikmati Allah dan bagaimana hubungan antara menikmati Allah dengan memuliakan Allah terutama jika dikaitkan dengan sisi penderitaan yang memang pasti menyentuh hidup setiap anak-anak Allah. Itulah sebabnya pembahasan tentang teologi Kenikmatan selalu mengikutsertakan pengajaran dari teologi Penderitaan karena penderitaan dapat dikatakan sebagai salah satu guru terbaik untuk mengerti lebih dalam arti memuliakan dan menikmati Allah.

Teologi Kenikmatan yang saya kenal merupakan penggenapan dari teologi Penderitaan. Mengajarkan bahwa meskipun kita menyadari, mengakui dan menerima akan kehadiran penderitaan yang harus dihadapi setiap anak Allah, tujuan hidup kita bukanlah untuk menderita. Melainkan untuk untuk memuliakan Allah dan menikmatiNya. Secara pribadi saya mulai memahami hal ini saat berhadapan dengan masa-masa tersulit dalam hidup saya. Penderitaan adalah sesuatu yang riil harus dihadapi setiap anak Allah seperti yang ditulis dalam surat Ibrani, "But remember the former days, when, after being enlightened, you endured a great conflict of sufferings,..." Hebrews 10:32 NASB. Tetapi berpikir bahwa penderitaan yang dihadapi ini adalah sesuatu yang harus saya terima sebagai tujuan hidup, betul-betul membuat saya berpikir bahwa sangat lebih baik saya tidak pernah dilahirkan dan membuat saya sedikit lebih memahami kenapa orang lebih memilih bunuh diri saat kehilangan harapan. Disadarkan lewat penderitaan bahwa this earth is not our home is one thing, tetapi berpikir bahwa menjadikan penderitaan sebagai tujuan yang harus dicapai is certainly another different thing!

Saya merasa menemukan pencerahan saat diingatkan bahwa tujuan hidup saya selain untuk memuliakan Allah adalah juga menikmatiNya. Mengapa? Karena dalam arti menikmati buat saya bernuansa sesuatu yang menyenangkan, memberikan kesukacitaan, semangat dan keinginan untuk terus merasakannya, makanya disebut nikmat. Mana ada orang yang sedang merasakan penderitaan mendefinisikan penderitaan tersebut dengan hal-hal tadi? Yang mungkin adalah meskipun menderita tetapi tetap bisa menikmati saat-saat itu karena this and that. Tetapi bukan berpikir bahwa arti menderita dan menikmati itu sama. Orang yang mengatakan menikmati penderitaan pun bukan berarti dia menyamakan penderitaan dengan kenikmatan karena tidak ada penderitaan yang nikmat. Kalau bisa menikmati saat menderita itu memang karena ada unsur nikmat di dalamnya tapi tidak berarti penderitaan bisa diidentikkan dengan kenikmatan.

Maka bersyukurlah saya kepada Allah karena lewat teologi Kenikmatan saya lebih mengerti untuk tidak menjadikan penderitaan sebagai tujuan hidup saya! Hal ini bukannya tidak disinggung sama sekali dalam teologi Penderitaan, hanya saja menurut saya pembahasan mengenai penderitaan yang sangat besar disana kadangkala tidak dihubungkan dengan tujuan hidup manusia yang kemudian dikupas pula secara detail. Itulah sebabnya saya bisa mengerti saat dikatakan bahwa teologi Kenikmatan adalah yang lebih realistis dibandingkan teologi Penderitaan, apalagi teologi Sukses.

Tetapi sebetulnya pada akhirnya seindah apapun teologi atau pengetahuan atau pengertian yang saya dapatkan serta pahami tidak ada artinya kalau pada akhirnya hanya memperindah konsep saya akan siapa Allah tetapi tidak menjadikannya suatu realita dalam hidup saya. Allah saya adalah Allah yang hidup, bukan Allah di dalam keindahan konsep belaka. Takkan putus permohonan saya akan belas kasihan dan anugerahNya sehingga apapun yang ada dalam hidup ini akan semakin membawa saya mengenal Dia dan menikmati persekutuan yang penuh denganNya serta menguatkan saya saat Dia membukakan setiap kebenaran sejati yang seringkali akan menghancurkan segala keindahan palsu tentangNya yang saya percayai. Kyrie eleison... Kyrie eleison...

Continue?

Tuesday, September 18, 2007

For Better or Worse...

“For better or worse, for richer or poorer, in sickness or in health, to love and to cherish, till death do us part…”

Marriage. Satu kata dengan jutaan arti. Jutaan rasa. Jutaan kisah. Marriage. Lihat saja tagline satu perusahaan rokok terkenal, kau pasti tahu yang mana. Waktu aku iseng coba meng-google tagline itu, hasilnya… luar biasa! Entah berapa topik terjaring! Padahal dua kata itu dalam bahasa Indonesia, bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau dalam international languages! Maka, demi menghindari agar post ini tidak masuk dalam Google search untuk tagline itu, sengaja aku tidak cantumkan dua kata ampuh tersebut. Ampuh untuk mempopulerkan blog/post maksudnya!


Kapan vs Kenapa
Tagline rokok itu jelas salah alamat. Yang harusnya ditanyakan bukannya “kapan”, melainkan “kenapa”. Kenapa menikah. Apalagi sebagai mahluk yang punya awal tapi tidak punya akhir di dalam kekekalan nanti, bukankah nuansa kapan itu hanya berlaku saat ini saja, tapi tidak nanti? Kenapa, jelas lebih penting daripada kapan dalam konteks ini.

Pernahkah kau terusik melihat kegelisahan milyaran pria dan wanita lajang dalam kesendirian mereka, gelisah yang memikat mereka memasuki pernikahan karena dikejar “kapan” dan melupakan “kenapa”? Pernahkah kau terusik melihat indahnya pelukisan arti pernikahan hanya untuk kemudian menyaksikan dan mengalami sendiri bagaimana semua lukisan itu terobek-robek tanpa belas kasihan?

“For when they rise from the dead, they neither marry nor are given in marriage, but are like angels in heaven.”
Mark 12:25 NASB

Sebelum menuju ke salah satu bagian yang mungkin paling sering dibuka mengenai marriage di Ephesians, aku jadi berpikir soal “kenapa” tadi dalam kaitannya dengan ayat di atas. Kalau dalam kekekalan nanti pernikahan tidak akan ada lagi dan kita semua saling berelasi satu sama lain dengan jauh lebih indah (sampe ngga kebayang sekarang, apalagi kalo liat perpecahan relasi dimana-mana!), kenapa marriage seolah (ngga seolah juga deh, memang bener begitu!) menjadi salah satu hal paling dikejar dalam hidup ini? Bukankah lebih baik remain unmarry? Karena dengan demikian kita tidak mengejar sesuatu yang tidak kekal artinya bukan? Kalau begitu apakah marriage sebetulnya insignifikan?

Manusia vs Binatang
Aku baca kitab Kejadian dan jadi berpikir, kenapa Tuhan harus mengikat seorang pria dan wanita dalam pernikahan? Apakah karena untuk fill the earth dan dua lebih baik daripada satu? Tetapi bukankah binatang-binatang juga demikian, fill the earth dan saling berpasangan? Kalau begitu, kenapa ikatan diantara mereka tidak dibentuk Tuhan seperti pernikahan pada manusia? Betul, manusia adalah mahluk yang paling tinggi derajatnya karena diciptakan sesuai dengan image Allah Tritunggal. Tetapi apakah itu berarti bahwa dengan demikian binatang tidak perlu menikah sedangkan manusia harus menikah? Apakah dengan menikah berarti membuat kita lebih tinggi derajatnya daripada binatang?

Kalau jawabannya ya, entah mengapa terasa agak aneh, karena banyak dari kita yang berlaku lebih buruk daripada binatang dalam pernikahan, contoh saja beberapa jenis binatang betul-betul setia sampai mati pada pasangannya, bandingkan dengan manusia. Kalau jawabannya tidak, kalau begitu apa yang membedakan manusia dengan binatang dengan adanya pernikahan ini?

Man-his wife vs Christ-His church
Surat rasul Paulus kepada para jemaat di Efesus pasal 5 (lima) pastilah merupakah salah satu bagian yang paling sering dibacakan dalam pembahasan tentang marriage. Buatku, lewat bagian tulisan ini, Tuhan seolah memberikan konfirmasi lebih lanjut akan signifikansi pernikahan pada manusia.

Pernikahan memang signifikan karena Kristus sampai menyamakan relasi antara suami-istri dengan relasiNya dengan kita. Suatu relasi dimana Ia dengan rela turun dari surga mulia dan masuk dunia hina karena sudah jatuh dalam dosa ini demi untuk menyelamatkan kita dari keterpisahan kekal dariNya. Padahal relasi yang ada dalam Allah Tritunggal sudah begitu sempurna dan tidak membutuhkan manusia untuk membuat relasi itu jadi lebih sempurna, lebih mulia ataupun lebih bisa dinikmati. Tapi Kristus melakukan semua itu karena kasihNya pada kita dan kemudian memberitahukan kita bahwa seperti itulah seharusnya relasi dalam pernikahan antara suami-istri. Bagaimana mungkin kita berkata bahwa pernikahan tidak punya nilai signifikan meskipun dalam kekekalan nanti ikatan seperti itu tiada lagi?

Pernikahan diadakan Tuhan sebagai salah satu sarana untuk mempersiapkan kita, His bride, untuk memasuki hidup dalam kekekalan nanti. Lewat pernikahan akan banyak sisi tergelap dari seorang manusia tersingkap di hadapan pasangannya, seperti Terang Dunia yang dengan sinarNya menyingkap sisi tergelap dari jiwa mempelaiNya. Manusia dilatih to walk in the Light. Segala proses dan latihan yang perlu untuk mempersiapkan kita hidup dalam kekekalan nantinya akan kita alami salah satunya lewat pernikahan. Itulah sebabnya binatang tidak perlu diikat dalam pernikahan karena jiwa mereka tidak kekal. Tapi tidak demikian dengan kita…

Pernikahan anak-anak Tuhan akan menjadi refleksi akan relasi antara Tuhan dengan gerejaNya. Dunia ini akan melihat bagaimana para anak Tuhan bersaksi akan Sang Pencipta dalam relasiNya dengan ciptaanNya. Dunia ini akan menyaksikan bayangan kehidupan di dalam kekekalan nanti. Suatu bayang-bayang akan keindahan sejati yang sesungguhnya didamba setiap jiwa. Dunia ini akan menyaksikan bayangan akan kerajaan Allah yang akan terwujud nyata sempurna saat kedatangan Kristus nanti, sehingga biarlah setiap orang yang terhilang akan kembali kepada Dia lewat kesaksian ini.

Aku pernah berpikir dan meragu kenapa pernikahan harus penting, Bapa… Tapi kalau segala hal yang ada dalam hidupku (termasuk pernikahan) adalah untuk mempersiapkanku memasuki hidupku nanti, bertemu muka dengan muka denganMu, ajarlah aku menghargai pernikahanku karena hal itu sungguh berharga untukku, sebagai satu hadiah indah dariMu, meski badai dunia yang jatuh dalam dosa ini akan pula membayanginya…

“Until I see You face to face, and tell the story saved by Your grace…”

Continue?

Friday, September 07, 2007

Noah's Walk












Continue?

Tuesday, August 28, 2007

What I Have Learnt at RWF

24 June 2007. My first day at RWF that continues until today. I still remember the lecture title that day “Stupid Mental Arithmetic”. Since then I have been attending the class without absence. That day marked the beginning of my journey in facing the Giants in my life. By the grace of the Lord, one by one the once so-called Giant in my life fell down. Most of them in unexpected way!

Through RWF I have learnt a lot, not from the lectures alone but also from the interactions between and the reactions from the attendees. These are some major lessons that I have learnt so far, may these serve as reminders as I continue this journey until the day when the Lord moves me to another walk…


The Labels
Berkata terang-terangan bahwa aku mengikuti kegiatan RWF secara rutin somehow terasa seperti menabuh genderang peperangan dengan beberapa kalangan dari gereja dimana aku terdaftar sebagai anggotanya sekarang. Aku mengawalinya dengan menghadapi tatapan-tatapan kurang bersahabat dan email-email kirimanku yang ditolak oleh milis pelayanan yang aku ikuti. Saat ini aku juga bersiap seandainya satu saat nanti aku dikeluarkan dari pelayanan yang saat ini Tuhan berikan padaku. Aku percaya segala sesuatunya berasal dari Tuhan. Datang perginya pun pasti seijin Tuhan. Tinggal kunikmati saja setiap ups and downs, terus menyerap apapun yang tengah Tuhan ajarkan.

Aku bukan pengikut asal-asalan. Semuanya kulakukan setelah lewat pergumulan panjang. Buatku sangat melelahkan kalau terus-menerus lebih memikirkan apa yang akan dicapkan orang atas tindakan-tindakanku daripada memikirkan apa yang Tuhan mau atau beri untuk aku lakukan sekarang. Aku tidak suka dicap pemberontak karena memang bukan itu tujuanku dengan terus ikut RWF, tapi aku tidak bisa melarang orang berpikir apapun tentangku, itu hak mereka. Sama seperti hak-ku untuk berpikir apapun tentang mereka. Sehingga aku belajar menerima label apapun yang mereka lekatkan, karena yang paling penting label apa yang sudah Tuhan berikan buatku dan mereka…

Berada di RWF somehow membuatku merasa seolah berada dalam gereja invisible-nya Tuhan. Persekutuan dari berbagai orang yang datang karena dibuat rindu akan kebenaran oleh Tuhan (apapun motivasinya), terasa seperti menggambarkan invisible church yang nanti akan dinyatakan dan digenapkan kehadirannya saat Kristus datang kembali. Aku semakin belajar untuk tidak mengkotak-kotakkan orang berdasarkan prasangka-prasangka awal yang aku miliki terhadap mereka. Belajar lebih punya open mind berhadapan dengan orang yang tidak aku kenal, jangan lekas-lekas melabelkan orang lain. Dan aku harus ingat bahwa kalau aku percaya setiap orang makin diubah agar semakin serupa dengan Kristus, maka sangat mungkin terjadi label yang pernah kulekatkan pada orang lain harus kuubah seiring dengan perubahan orang tersebut. Tidak ada label yang melekat selamanya selain label sebagai anak-anak Bapa di dalam Kristus!

Mengalah itu indah
Aku hanya heran, kenapa yang mengajarkan kebenaran jadi lebih diperlakukan sebagai lawan daripada yang terang-terangan memusuhi. Di tempat ini, banyak orang yang tahu kebenaran dengan begitu dalam sehingga akhirnya mulai bertindak seolah menjadi tangan Tuhan. Akibatnya, bukan hanya rumput dan ilalang yang dibasmi, tapi juga kawan sendiri! Ah Tuhan… akupun dulu begitu pula bukan? Kalau bukan karena hajaran (baca: ajaran!) dan jeweranMu entah sudah berapa banyak teman yang bakal hilang karenaku.

Tapi di diri pengajar RWF inilah aku melihat bahwa mengalah itu indah. Yang mendiskreditkan tanpa perlawanan hingga hari ini seolah masih terus kepanasan dengan dendam. Sementara yang didiskreditkan tanpa melawan justru semakin tenang terfokus dengan apa yang Tuhan sudah bebankan untuk dilakukan. Dengan satu kepasrahan sekaligus kesediaan untuk pergi kemanapun jalannya dipimpin Tuhan. Berdoa semoga Tuhan terus pimpin agar dia tetap seperti itu, semoga masih terus ditambahkan kasih karunia Tuhan kepadanya, karena tanpa itu, dia pasti tidak ada bedanya dengan orang yang mendiskreditkannya…

Same Old Disappointing Place
Tak juga kurang orang-orang yang datang ke RWF dengan kekecewaan yang didapat dari gerejaku. Macam-macam kekecewaan, macam-macam kekesalan yang tidak tersalurkan. Tapi disini aku jadi belajar. Orang yang kecewa dan kemudian hanya menyalahkan semua pihak tanpa introspeksi dirinya sendiri, akan terus menjadi orang yang kecewa tak habis-habisnya dimanapun dia berada. Every place will in the end turns to be that same old disappointing place!

Disini aku jadi belajar, apapun kesalahan pihak lain tidak menganulir kesalahanku sendiri. Dalam batas-batas tertentu aku sendiri yang harus bertanggung jawab atas kekecewaan yang aku alami. Aku sendiri yang harus memilih untuk menjadi pahit atau melihat ini sebagai pelajaran baik yang Tuhan beri. Sehingga bila tiba saatnya nanti aku mampu mengatasi semua kekecewaan itu dan melihat betapa indah jalan dan cara yang Tuhan beri untuk aku lalui.

Dengan kekuatan dan kasih yang dari Tuhan, aku menolak untuk menjadi sama dengan orang-orang yang terus-menerus kecewa di tempat dimanapun mereka berada. Aku memilih untuk bloom where I am planted, although it is a place of adversities. I believe God’s grace is beyond my every difficulty!

Nobody’s Perfect, Nothing’s Perfect
Memilih untuk pindah karena tak kuasa menghadapi kekurangan di tempat lama semoga tidak akan pernah jadi motivasiku. Karena aku percaya, sebaik apapun seseorang ataupun sesuatu tampaknya pada awalnya, semua itu punya potensi besar untuk mengecewakanku satu saat nanti. Karena tidak ada yang sempurna. Tidak ada yang tanpa salah. Tapi aku pindah karena memang sudah saatnya aku pergi. Aku pindah karena tempatku sudah bukan disitu lagi, saat ini. Dan aku bersedia kembali kapanpun Tuhan memimpin.

Disini aku belajar lebih dalam arti mencintai tanpa kondisi. Keadaan sulit bukanlah satu alasan untuk pergi. Justru diam dan olahlah semua kesulitan itu sehingga aku makin dewasa di dalamnya. Hingga saat ini masih terus kujalani setiap kegiatan di gerejaku. Justru dengan ketekunan yang semakin bertambah, dengan kesungguhan yang tidak kulihat sebelumnya. Dan juga, semoga dengan kebijakan lebih dalam di setiap langkah karena akan semakin banyak mata yang melihat apapun yang kulakukan.

Aku belajar di RWF, untuk semakin menggantungkan pengharapanku hanya di dalam Dia yang mencintaiku dalam hidup dan matiNya. Dan tahukah engkau apa yang terjadi, aku justru semakin jarang kecewa terhadap apapun yang terjadi. Jarang kecewa bukan karena semakin kurang berharap apa-apa lagi, tapi justru karena semakin punya pengharapan yang besar bahwa tidak selamanya keadaan akan terus menyusahkan begini. Aku belajar bahwa berharap adalah salah satu bagian terpenting dari hidupku. Masalahnya, hanya harapan yang di dalam Kristuslah yang tidak akan pernah mengecewakan.

Sehingga inilah pesanku, berharaplah engkau, kawan… Berharaplah dalam-dalam… Tapi bersiaplah untuk kecewa sedalam-dalamnya jika engkau berharap para mereka yang Dia ciptakan… Sehingga berharaplah dalam-dalam pada Dia yang tak pernah ingkar pada janjiNya, meskipun jalan-jalanNya mustahil kau pahami…

Di Surga Nanti
Di tengah pertikaian, seringkali aku terpikir, kenapa juga kita mesti begini, padahal satu saat nanti bertemu di surga, kita semua adalah saudara, saling mengasihi tanpa benci, saling memahami tanpa salah mengerti. Kenapa tidak kita mulai disini? Bukankah Kristus sudah menebus semua yang jatuh ke dalam dosa? Apakah kita harus saling menunggu untuk memulai mengasihi? Masih berapa lama lagi kita lari dari pembentukkan karakter Kristus dalam diri kita?

Selama setahun terakhir ini, Tuhan sering sekali mengajakku berpikir, seperti apa kita di surga nanti? Lucu sekali pastinya kalau bertemu dengan orang yang kita benci, akan tertawa gelikah aku menertawakan kekeraskepalaanku membencinya selama umur hidupku di dunia? Kalau sekarang menangisi terus-menerus nasib yang kukatakan buruk, akan terheran-herankah aku nantinya melihat bagaimana itu semua dijalin Tuhan menjadi gambar indah bukan hanya bagiku tapi juga bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya?

Ah… masih banyak hal yang harus kupelajari untuk kemudian melakukan apa yang Tuhan sudah beri untuk dipelajari. Terima kasih Bapa untuk semua yang Engkau buat aku mengerti lewat kelas-kelasku di RWF ini…

Continue?

Monday, August 27, 2007

Hari Ini Aku Pasti Manis Sekali...

Hari ini aku pasti kelihatan manis sekali… Karena sejak pagi tadi hampir setiap orang yang berpapasan menyempatkan untuk sejenak menatap wajah oval-bulat-cekung ini. Ada yang sebelumnya hanya melihat sekilas lekas-lekas mendaratkan pandangannya kembali padaku. Ada yang menatap cukup lama bahkan ada yang kemudian memberanikan diri menyapa dengan ramah. Aku ingat, hari ini aku pakai baju baru, eeeh…tepatnya baju lama yang baru saja dipermak ibunda tercinta sehingga kurasa penampilanku pasti sungguh menawan di pagi cerah tadi.

Tapi… sebenarnya ada satu alasan lagi kenapa aku ketiban hujan tatapan dan sapaan ramah. Boleh dikata inilah satu-satunya alasan yang paling tepat selain soal baju baru dan senyumanku yang menawan itu, hehehe….

Cerita Petualangan ON

Jumat pagi. Pukul tujuh. Sebanyak 22 orang berkumpul manis di satu kantor bersiap ikut company outing di Lido Sukabumi. Paint-Ball War dan Rafting sebagai jadwal acara utama untuk hari itu dan keesokan harinya. Semua sudah siap dengan perlengkapan masing-masing, termasuk aku dengan kilik-kilikku yang tak pernah lupa kubawa kemana-mana.

Jumat Sore. Paint-Ball selesai dengan kekalahan di pihakku. Aku terima semuanya dengan hati lapang termasuk memar-memar di pinggang, tangan dan dadaku. Yang terakhir disebut itu cukup luar binasa sedapnya terasa saat tembakan tak sah seorang rekan menyambar. Posisiku memang dalam keadaan tak siaga lantaran peluit tanda permainan harus berhenti baru saja ditiup wasit. Sehingga meski tembakan tak sah itu tercetak jelas di overall-ku, aku masih sah berada di lapangan permainan.

Usai Paint-Ball para karyawato bergerak ke lapangan bola, meneruskan dendam di Paint-Ball tadi yang tak terpuaskan. Begitulah memang naluri para anak-anak Adam yang sangat menyukai persaingan. Sementara kami para karyawati yang berdarah lebih dingin dan menyukai kebersamaan, memutuskan untuk melanjutkan arisan keakraban kami di kolam renang hotel yang terlihat menantang dengan perosotan setinggi satu meternya. Sekadar informasi perosotan itu berada di kolam renang untuk bocah.

Menjelang pukul lima sore. Lima orang wanita cantik masih asyik bercengkrama di kolam renang untuk orang dewasa dengan rencana bermain perosotan kemudian. Setelah beberapa saat menemani teman-teman yang tidak bisa berenang, aku mulai bergerak untuk berenang sendiri beberapa lap, sekaligus melatih four styles-ku. Pilihan pertama, Butterfly Style, saat tenaga yang ada masih cukup banyak. Dengan penuh semangat aku mulai dari ujung Selatan kolam menuju Utaranya.

Splash..splash..splash..! Begitulah suara yang mengiringiku menikmati setiap ayunan lengan besooar nan perkakas ini melambung seperti sayap kupu-kupu. Meskipun agak sedikit terganggu lantaran tidak pakai goggle, dengan gaya kupu-kupu ini kupikir akan bisa melihat jarak pandang ke depan setiap kali. Dalam beberapa detik ke depan, kudapati bahwa perhitunganku ini salah besar.

Diantara bunyi splash-splash yang akrab menemani sepanjang perjalananku, mendadak terdengar bunyi, “Bukkk!” yang cukup keras, agak sedikit teredam karena rupanya benturan yang terjadi ada di bawah air. Segera kurasakan wajahku memanas, pandangan mata sebelah kiriku mengabur dan nyeri seolah wajahku terkena irisan pisau dengan bentuk memanjang dari mata kiri ke pipi kanan. Segera kuangkat kepalaku dari dalam air sambil menahan pening yang langsung muncul dan kuusap wajahku yang terasa nyeri. Dengan rasa takut kulihat darah mewarnai telapak tangan yang tadi kuusapkan di wajahku…

Segera kuhampiri para nona-nona cantik lainnya dan kuminta tolong seorang rekanku untuk mencari staff hotel agar dibawakan kotak P3K. Saat itu aku belum tahu persis apa yang terjadi, hanya terus bergema di hati agar Tuhan tolong aku menghadapi apapun yang harus kuhadapi.

Pukul 5.30 sore. Melihat kondisi luka di wajahku, staff hotel menawarkan untuk mengantarku ke klinik terdekat langganan hotel (langganan?!). Tanpa mandi, kuganti pakaian dan berangkat dengan staff hotel sambil menahan ngeri di hati melihat wajah sendiri yang lebamnya begitu nyata. Tambahan lagi komentar rekanitiku, “Mbak, kayaknya yang di hidung itu lukanya cukup dalem deh… Mungkin perlu dijahit…,” duh, seumur-umur baru kali inilah aku menghadapi kemungkinan harus dijahit!

Klinik Lido. Menunggu giliran sekitar 10 menit. Ngobrol dengan ibu-ibu yang menunggui resep anaknya selesai. Nonton kisah pembebasan Raisya di Metro TV. Bertemu dokter Saiful. Cek tekanan darah. Dilihat luka di hidung. Jaringannya ada yang hilang katanya, tapi bisa sembuh sempurna dalam waktu relatif tidak lama. Dilihat luka di kelopak mata. Harus dijahit. Hiiks…. Langsung dag-dig-dug. Tak dinyana, yang dikira tak apa ternyata lebih parah. Pasrah. Khawatir dengan kemampuan dokter, tapi pasrah. Khawatir dengan fasilitas sederhana klinik, tapi pasrah. Takut memikirkan seperti apa rasanya dijahit, tapi pasrah. “Dok, benangnya tipe XXX tidak ada, “ lapor suster merangkap apoteker klinik. Duh Tuhan, tambah tidak karuan hatiku. Tapi entah kenapa aku tenang saja, sambil menahan senut-senut kubertanya apa yang sebaiknya dilakukan selanjutnya.

Pukul 6.30. Perjalanan menuju RS Azzra, Bogor. Diiringi hujan bercurah sedang, aku melaju dalam mobil hotel, kali ini ditemani pimpinanku dan kepala divisi lapangan setelah tadi mampir kembali ke hotel menjemput mereka. Berputar-putar hampir setengah jam di sepanjang jalan Pajajaran Bogor lantaran supir hotel tidak tahu persis dimana letak RS Azzra. Mungkin juga ditambah karena grogi karena ditegur pimpinanku akibat berputar-putarnya kami.

UGD RS Azzra. Suasana tenang, tidak menakutkan seperti bayanganku semula. Seorang perawat menghampiri, menyuruhku masuk sementara yang lain mendaftarkan aku di bagian administrasi. Kembali tekanan darahku dicek. Ditanyakan apa sebabnya memar dan luka-luka yang tampak. Disini aku harus menahan rasa geli karena membayangkan bahwa orang-orang yang melihat mungkin mengira aku habis dipukuli suami. Kekerasan dalam rumah tangga. Itu yang terbayang dari tatapan mereka lewat sudut matanya. Termasuk suster yang menangani lukaku. Tapi kedatangan para rekan kantor yang selesai mengurus pendaftaranku seolah menghapuskan keraguan di benak orang-orang. Pimpinanku menyingkir setelah berkata, “Aku tinggal ya, tunggu di luar. Aku takut lihat orang dijahit.” Tak kukatakan padanya bahwa aku pun sangat takut saat itu!

Dokter datang. Melihat kondisi luka di kelopak mata. Mematahkan diagnosa dokter yang pertama. “Sobeknya bagus, tidak terlalu dalam. Jadi jangan dijahit, supaya tertutupnya lebih bagus. Dilem saja.” Perasaanku saat itu? Lega. Setelah nyut-nyut sedikit saat lem dipasang, jadilah aku seperti bajak laut karena mata kiri separuhnya tertutup perban. Selesai semua, kubereskan soal obat dan lain-lain, kutunggu rekan-rekanku yang tengah bersantap di rumah makan sebelah rumah sakit, karena mengira prosesku akan lebih lama.

Pukul 9 malam. Tiba di hotel. Langsung dinner di ruang makan. Ketemu rekan-rekan lain, makan sambil ditemani dengan cerita-cerita unik. Pukul 10 mandi dan keramas dengan sukses berbekal sepotong shower cap. Saat sudah bersih, segar dan diobati kembali, aku termenung memikirkan hari itu.

Cerita Petualangan OFF

Yah, hari itu aku pasti manis sekali, sehingga banyak orang menyapa, mengajak berbicara dengan ramah. Mereka pasti melihat betapa beruntungnya aku, yang terluka hanya di kelopak mata dan hidung. Seperti yang aku katakan pada mereka semua, “Untung tidak kena di mata!”. Saat kukatakan itu pada dokter Sriyono di RS Azzra, gerakan tangannya menulis resep buatku sempat terhenti dan kemudian menatapku dan tersenyum lebar, “Iya, untung sekali yah tidak kena di mata.”

Hari itu aku pasti manis sekali… Banyak orang yang tersenyum saat kukisahkan pengalamanku. Ikut pula bersyukur bersama-sama denganku. Hampir semua staff hotel memanggilku dengan nama, mengenali dan menyapa. Staff di rumah sakit yang awalnya menatap dengan ‘curiga’, ikut mengobrol akhirnya denganku sebelum aku tinggalkan UGD. Ada banyak orang yang melihat ‘kekuranganku’ justru jadi bisa bersikap begitu bersahabat. Seolah ada ikatan tak terlihat yang menyatukan aku dan mereka. The Unfortunates. The fortunate Unfortunates…

Aku tidur dengan senyum terukir di wajah, betul Bapa, aku pasti manis sekali karena aku anakMu. Yang Kau pelihara dan berkati dengan begitu limpah. Aku lihat obat penahan nyeri yang tidak kuminum di meja. Aku sadar luar biasanya Kau lengkapi kebutuhanku. Bayangkan orang lain yang tidak mampu dan harus menahan sakit dengan kondisi yang lebih parah daripada aku. Aku bisa tidur nyaman dalam hotel bagus bersama rekan-rekan yang begitu peduli. Aku tidak kekurangan gizi (mungkin kelebihan!) sama sekali untuk mempercepat penyembuhan.

Manis sekali pemeliharaanMu, Bapa, yang bukan saja cukup tapi amat berlimpah. Itulah sebabnya, aku pasti manis sekali terlihat, bukan hanya di hari-hari yang penuh derai tawa, tetapi juga yang penuh airmata karena meski banyak hal yang menyesakkan dada, tapi akan tiba juga satu hari dimana Alkitab mencatatnya,

“And I heard a loud voice from the throne, saying, ‘Behold, the tabernacle of God is among men, and He will dwell among them, and they shall be His people, and God Himself will be among them, and He will wipe away every tear from their eyes; and there will no longer be any mourning, or crying, or pain; the first things have passed away.’”
Revelation 21:3-4 NASB

Hari itu pasti tiba. Jadi aku akan mulai tersenyum manis dari sekarang, karena aku tahu Dia yang berjanji tidak pernah ingkar pada janjiNya. Aku pasti terlihat manis sekali, bukan saja nanti, tapi juga mulai kini...!

Continue?

Saturday, August 18, 2007

That High Places?

Minggu yang lalu di Public Lecture kami membahas tentang Media dengan meminta seorang wakil presiden direktur salah satu televisi swasta untuk membawakan materi awal dengan Pak Joshua Lie menutup dengan memberikan beberapa kesimpulan di akhirnya. Tidak ada yang luar biasa sebetulnya dari bahasan selama kurang lebih satu setengah jam tersebut. Kalau boleh aku katakan, rata-rata yang hadir sudah merasakan sendiri “nikmatnya” acara-acara yang disajikan sederetan televisi swasta negeri sendiri, ditambah entah berapa banyak siaran-siaran luar yang diakses lewat televisi kabel.

Tetapi sesuatu di dalam hati ini tersentak saat ada pertanyaan tentang susunan acara yang disajikan stasiun televisi swasta tempat si pembicara berada kini. Televisi swasta yang kita kenal lekat dengan deretan acara dangdut ria dipadu kisah-kisah misteri bernuansa klenik ataupun agama yang mendominasi republik tercinta ini. Pertanyaan itu secara kasarnya bertanya apa peran si pembicara selama ini dengan berdiang di televisi swasta tersebut yang mampu menjangkau jutaan pemirsa? Mengapa tak juga berubah materi-materi yang disajikan??? Takkan kulupa jawaban si pembicara hari itu.


“Kami disini sebagai penjaga, yang mengawal agar segala sesuatu yang berjalan masih tetap dalam jalurnya, meskipun belum bisa sampai mengubah segala sesuatunya.”

Itulah buatku satu pelajaran lagi tentang arti menjadi garam dan terang dunia. Mengapa harus televisi swasta yang hanya menjangkau rakyat kalangan bawah? Karena jumlah mereka jauh lebih besar daripada kalangan lainnya. Seperti bagian piramid yang menengah hingga ke dasarnya, itulah bagian terbesar yang harusnya dijangkau, diedukasi dan dipengaruhi secara positif.

Salah satu televisi swasta yang paling sering aku tonton ternyata tidak memiliki rating yang baik, lantaran sangat terbatas kalangan yang sungguh-sungguh berdedikasi dengan tayangan-tayangan mereka. Selain tentu saja aku perkirakan tidak bersambungnya dunia yang ditampilkan stasiun televisi ini dengan dunia kebanyakkan para pemirsa di negeriku. Aku jadi terpikir, rupanya selama ini kita-kita yang hidup “berkecukupan” hanya berfokus pada pencapaian hidup berkecukupan itu saja tanpa mengingat bahwa Kristus sendiri bahkan berkata bahwa Ia datang buat orang kebanyakkan, rakyat jelata sederhana yang memang secara mayoritas mengisi bumi kita tercinta. Sudah sejauh manakah aku sebenarnya mengikuti Juruselamatku hingga kesana?

Duniaku mengajarkan bahwa memperoleh pekerjaan di perusahaan yang baik (paling tidak multinasional) dengan jabatan yang baik (paling tidak manager) seharusnya menjadi tujuan setiap pekerja. Mencari ilmu setinggi mungkin hingga bisa mengerti begitu banyak hal itu harus. Tapi apakah pengetahuan yang kemudian didapat adalah untuk dibagikan pada sebanyak mungkin orang akan menjadi pertanyaan.

Yang jauh lebih mungkin terjadi aku akhirnya membatasi diri dalam membagikannya, hanya pada kalangan tertentu yang aku anggap sanggup mencapai level pemikiranku. Padahal dengan kepandaian yang aku miliki untuk mengerti hal tersebut, mungkin seharusnya aku bersedia belajar lebih lagi bagaimana hal itu bisa pula dimengerti orang-orang yang tidak/belum mampu mencapai tingkat pemikiran sepertiku.

Aku jadi respek dengan si pembicara karena pilihannya untuk mengabaikan kesan yang didapat jika orang hanya melihat dari permukaan akan apa yang dikerjakannya. “Ngga elit banget kerja buat stasiun televisi itu?!?! Padahal kamu mampu kerja di tempat lain yang lebih baik!” Tidak, bukan itu intinya.

Aku akui betul sekali pendapat bahwa untuk menjangkau ribuan orang, tidak perlu harus satu-persatu kita pegang. Cukup beberapa pentolan yang bisa mempengaruhi ribuan orang itu. Tetapi di satu sisi, jangan sampai kita mengabaikan bahwa sangat mungkin para calon pentolan tersebut saat ini masih belum muncul, masih berada tak terdeteksi jelas di kelompok itu. Selain itu, kalaupun kita akhirnya menjadi raja yang duduk tinggi di atas tahta, jangan pernah lupa untuk tetap pula bersentuhan lekat dengan rakyat kita.

Teringat akan Kristus. Rajaku yang luar biasa. Kalau boleh aku mau gunakan ayat ini untuk menggambarkan betapa berbedanya Dia dengan kebanyakan orang-orang pandai dan terkemuka yang aku kenal.

“Have this attitude in yourselves which was also in Christ Jesus, who, although He existed in the form of God, did not regard equality with God a thing to be grasped, but emptied Himself, taking the form of a bond-servant, and being made in the likeness of men.” – Philippians 2:5-7 NASB.

Mungkin kalau aku ketemu Kristus sekarang, aku tidak bakal menyangka kalau Dia adalah Rajaku dari penampilan dan kalangan dengan siapa Dia bergaul. Sangat mungkin aku turut dalam barisan yang meremehkan dia. Dan mungkin setelah mendengar kebijaksanaan yang hadir lewat perkataanNya, aku masih juga tidak bertobat dengan berusaha menasehatiNya (hebat yah kebebalanku!) agar meninggalkan kalanganNya itu dan naik ke level yang lebih tinggi dimana orang-orang pandai dan hebat akan lebih mengerti DiriNya. Sejarah telah membuktikan betapa itu semua salah total! Siapa yang menista Kristus paling hebat? Siapa yang menghina Dia paling giat? Siapa yang tak habis-habisnya oleh karena kehadiranNya merasa terancam paling kuat?

Terima kasih Tuhan buat hari itu. Aku jadi ingat, Kau perlengkapi aku begitu rupa hingga ke tempat tertinggi yang bisa aku tuju justru agar aku bisa semakin menjangkau jauh kemana-mana. Dan jika memang bagianku adalah di tempat yang "tinggi" itu, semoga Engkau mengirimkan orang-orang yang bisa membantuku untuk menjangkau orang-orang lain yang tidak bisa kujangkau. Because in the scope of eternity, itulah yang sesungguhnya berarti.

So, here I am, Lord, let me have an unending desire to be one of Your front-line soldiers!

Continue?

Thursday, August 09, 2007

There is Something about Eternity

There is something about eternity… yang tidak kau pahami sebelumnya. Hingga Dia buka matamu memandang jauh menembus segala yang fana. Memperlihatkan realita yang sebenarnya. Sehingga hidupmu di dunia ini, takkan pernah lagi menjadi sama. Karena segala sesuatunya begitu berbeda, dilihat dari pandangan mataNya.

There is something about eternity… yang membuatmu semakin mengabaikan segala tawaran dunia akan harta yang membuatmu memberhalakannya. Entah bagaimana, dianggap dunia miskinpun, rasa rendah dirimu itu lenyap entah kemana. Kalau dulu harta menjadi salah satu atributmu yang utama, kini kau bersukacita dalam hidup yang jauh lebih sederhana. PemeliharaanNya justru datang lewat harta yang tidak seberapa, karena menjadi rem bagi kakimu yang hendak berjalan menuju kota dosa. Aneh, di dalam segala kekurangan yang hadir, justru kau semakin merasakan nikmatnya setiap pemberianNya yang datang untukmu.


There is something about eternity… membuat sakit-penyakit di tubuhmu tak lagi mengusikmu seperti dahulu. Kau pernah khawatir bagaimana tentang sembuh tapi kini berharap belas kasih topanganNya saat rasa sakit mendera. Sembuh bukanlah segalanya jika itu justru menjauhkanmu dariNya. Semua yang ada padamu adalah kepunyaanNya, termasuk kesegaran masa mudamu, kebugaran tubuhmu. Kini kau pelihara itu karena kau tahu itu bukan milikmu, tapi yang Dia percayakan padamu. Dulu akan kau habiskan berjuta-juta tak terhingga, kini kau pasrahkan padaNya untuk mengatur masamu di dunia.

There is something about eternity… yang merombak seluruh nilai-nilai dunia fana yang membentukmu. Kau dibuat mengerti apa yang sesungguhnya berharga di mataNya. Entah bagaimana, kau dimampukan melihat jebakan si jahat dimana-mana, bagai ladang ranjau yang berbisa. Tampilan luar yang indah, penuh kematian di dalamnya. Tidak. Jangan kau bilang itu bisa dengan mudah. Sulitnya luar biasa. Memutar hatimu menghadap kepadaNya, hanyalah bisa karena anugerahNya.

There is something about eternity… yang melekatkanmu padaNya. Betapapun dalamnya kau pernah kecewa padaNya, betapapun besarnya rasa tak percayaMu pada kebaikanNya, betapapun kecilnya keindahan yang kau rasa Dia berikan untuk kau cicipi, tetap saja hanya kepada Dia-lah kau terus berlari. Hanya kepadaNya-lah kau lepaskan beban hidupmu dan melepaskan segalanya yang kau pernah genggam erat demi Dia. Karena hanya Dia-lah yang sesungguhnya mencintaiMu bukan karena kualifikasimu. Tapi semata-mata hanya karena Dia ingin mencurahkan cintaNya padamu. Aneh bukan cinta seperti itu? Takkan pernah kau temui selain dariNya.

There is something about eternity… yang takkan habis-habis memukaumu meski kau coba paparkan hingga habis waktumu disini.

There is something about eternity that always brings me back to You, whom I truly belong to…

Continue?

In the Fishbowl?

(Sekilas coretan “iseng” tentang living in the fishbowl…)

“Gimana yah rasanya berpasangan dengan hamba Tuhan?” seorang teman bertanya, yang saya jawab dengan kerutan dalam di dahi yang lebar ini seraya berkata, “Yah, pastinya rasanya seperti berpasangan dengan hamba Tuhan!” Tetttooottt, jawaban yang aneh…! Tapi…mungkin sama anehnya dengan pertanyaan yang diajukan, hehehe…! Ini serius meski sambil nyengir kuda selebar-lebarnya. Ada apa dengan hamba Tuhan?


Koreksi. Koreksi. Koreksi. Setiap umat pilihanNya juga dipanggil untuk menjadi hambaNya. Setiap pengikut Kristus juga dipanggil untuk turut memikul salib, menyangkal diri, taat perintah-perintahNya. Jadi apa bedanya yang kita sebut hamba Tuhan dengan yang tidak “bergelar” demikian? Nah, itulah masalahnya. Kita sendiri yang membuat pembedaan-pembedaan yang tidak perlu itu.

Memang ada pembedaan-pembedaan yang perlu seperti para teolog diharapkan lebih mengerti hal-hal yang berhubungan dengan teologi, paling tidak secara kognitif. Sama seperti seorang yang berkecimpung di bidang seni diharapkan lebih mengerti hal-hal yang berkenaan dengan seni. Karena setiap orang memang punya tugas, panggilan dan talenta masing-masing yang diberikan pada Tuhan. Itu sah-sah saja tentu.

Tapi dalam hal hamba Tuhan, saya melihat ada beberapa (kalau tidak banyak banget gitu deh) tuntutan yang “tidak adil” terhadap orang-orang yang disebut hamba Tuhan. Menjadi hamba Tuhan seringkali identik dengan hidup minim rupiah (boro-boro USD), dilarang berbuat kesalahan, harus bisa multi fungsi, akrab dengan penderitaan, taat firman Tuhan (sampai tahap dianggap ekstrim), sementara orang lain tidak perlu demikian. Aneh… Komentar seorang hamba Tuhan senior yang baru-baru ini saya dengar berkata seperti ini, “Jadi hamba Tuhan itu seringkali tidak dimengerti orang lain…” Ooops… jadi pengikut Kristus yang sejati itu seringkali tidak dimengerti orang lain mungkin lebih tepat? Ah… silahkan para hamba Tuhan menjawab pertanyaan ini (ah, males deh!)…

Bangsa Israel # Jaga Image
Dalam salah satu kelas yang saya hadiri, ibu Inawaty Teddy yang begitu handal mengupas perjalanan bangsa Israel di sepanjang sejarah Perjanjian Lama mengingatkan bahwa sesungguhnya sejarah yang dicatat bukanlah sejarah tentang dunia ini, melainkan sejarah tentang umat pilihan Tuhan dari keturunan Israel. Segala sesuatu yang terjadi, baik jatuh bangunnya suatu bangsa, perang damainya suatu masa, berputar dengan berporos pada kehidupan umat Israel. Suatu bangsa yang dipilih Tuhan untuk menjadi gambaran bagi mata dunia tentang bagaimana hubungan antara Allah Sang Pencipta dengan ciptaanNya.

Kalau boleh, saya lebih suka menggunakan analogi kehidupan bangsa Israel untuk menggambarkan kehidupan para hamba Tuhan atau lebih tepatnya orang-orang yang disebut hamba Tuhan. Menjadi hamba Tuhan berarti memiliki hidup yang bersedia dijadikan gambaran bagi dunia ini seperti bangsa Israel dimata bangsa-bangsa kafir pada masa itu. Dalam kesuksesan menjalankan panggilan dan juga berbagai kejatuhan yang dialami. Dalam ketaatan dan juga ketidaktaatan. Dalam kesukacitaan dan juga kedukacitaan. Dan terutama dalam pergumulan menghadapi dosa.

Beberapa saat yang lalu seorang mahasiswa teologi muda berkali-kali berkata pada saya, “Aduh, harus jaga image nih!” Hati saya terasa jatuh ke dasar sumur yang lagi kering airnya. Lecet-lecet gitu deh… Kenapa? Karena yang sesungguhnya dijaga bukan image-nya Tuhan yang dilayaninya, melainkan image-nya sendiri yang dibungkus slogan “Soli Deo Gloria” (duh, kenapa gloria lagi…). Malam itu saya doakan agar Tuhan mengubah hati teolog muda itu sehingga di masa nanti dia tidak akan hancur akibat ja’im-ja’imnya itu. Justru seperti bangsa Israel yang dipilih Tuhan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain lewat perjuangan mereka melawan dosa. Menjadi berkat bukan hanya lewat keberhasilan mereka, melainkan juga kegagalan-kegagalan mereka. Keliru melihat ini membuat kita terjebak mendewakan hamba Tuhan.

Di sisi lain saya juga berhadapan dengan orang-orang yang mengeluh dalam-dalam tentang kelakuan para hamba Tuhan yang dikatakan sebagai hamba berjiwa nge-boss, sehingga sudah seharusnya malu pada para boss yang berjiwa hamba. Meski prihatin mendengarnya, yang pertama-tama menyentak saya adalah kenyataan bahwa saya pun punya andil dalam menjadikan hamba-hamba Tuhan tersebut menjadi demikian. Kekaguman dan simpati yang dirasakan untuk para hamba Tuhan, sangat mungkin sekaligus juga membuat saya terlalu meninggikan para hamba Tuhan yang kemudian berakibat pada keinginan dari para hamba Tuhan tersebut untuk diperlakukan lebih istimewa. Efek domino. Vicious cyle. Semoga Tuhan memberikan lebih banyak belas kasihan dan anugerah kepada setiap orang yang berjuang menghancurkan lingkaran setan ini…

Para Pendamping
Saya pernah membaca tulisan seorang wanita yang bertajuk “Ogah Jadi istri Hamba Tuhan!”, dibaca terasa lucu, direnungkan terasa trenyuh, dijalani terasa…yak, silahkan para istri hamba Tuhan menyelesaikan kalimat ini, hehehe… Mudahkah menjadi pendamping hamba Tuhan? Seharusnya sama tidak mudahnya dengan menjadi pendamping keturunan Adam/Hawa manapun. Tetapi sayangnya banyak yang terjebak dalam pembedaan-pembedaan seperti di atas. Seorang anak remaja yang tampil di Oprah berkata begini, “My father is a pastor, I live in the fishbowl and I hate it.” Tetapi apakah masalahnya karena seperti hidup di dalam fishbowl?

Sebetulnya bukan hanya para keluarga hamba Tuhan yang hidupnya bagaikan di dalam fishbowl. Kehidupan para selebritis misalnya, para pemimpin, tokoh masyarakat, semua juga hidup di dalam fishbowl. Tapi mungkin yang memberatkan bagi para pendamping hamba Tuhan (termasuk anak-anak mereka) adalah karena seringkali adanya tuntutan yang tidak realistis bahwa keluarga hamba Tuhan harus identik dengan hamba Tuhan itu sendiri. Mereka tidak lagi dipandang sebagai pendamping yang masing-masing memiliki panggilan tersendiri dari Tuhan, melainkan sebagai hamba Tuhan itu sendiri. Bahkan meskipun bila panggilan mereka bersesuaian dengan panggilan sebagai hamba Tuhan itu sendiri, tetap saja dianggap yang paling ideal adalah jika pendampingnya menjadi kembaran (atau kloning?) dari hamba Tuhan itu sendiri.

Bersyukur sekali dengan sharing dari para pendamping hamba Tuhan yang saya temui disini, Pastor’s Wives, yang membuat saya semakin mengerti arti pendamping hamba Tuhan. Saya ulangi lagi, p-e-n-d-a-m-p-i-n-g. Semoga dengan memahami ini saya lebih realistis melihat peran para pendamping hamba Tuhan yang saya temui. Baik suami, istri maupun anak-anak mereka.

Di dalam semua yang saya coba pikirkan di atas, satu hal yang saya akan coba untuk terus mengingat yaitu bagaimana dan apa yang dikatakan atau dilakukan Kristus selama masa-masa hidupnya di dunia. Bagaimana perannya sebagai seorang hamba yang tidak mempedulikan apapun yang dikatakan orang tentang diriNya dan pusat hidupnya yang begitu jelas terporos pada misi yang diberikan Allah Bapa pada diriNya. Tidak ada orang lain yang pernah hidup di dalam fishbowl seperti Kristus. Tidak ada selebriti yang begitu dimusuhi dan direndahkan seperti Dia. Tidak ada orang begitu disalahmengerti sepertiNya, celakanya kalaupun kita suka disalahmengerti, kitapun sering pula salah mengerti orang lain, tidak demikian dengan Kristus. Tidak ada orang yang dituntut begitu rupa akan kesucian hidupNya seperti Kristus. Sekaligus begitu transparan dengan kehidupanNya sehingga pergumulanNya melawan dosa menjadi berkat bagi kita semua. Terima kasih Kristus buat kehidupanMu untuk kami teladani, tetapi terlebih lagi buat penebusanMu yang akan melengkapi kami semua menjalani perjalanan kami masing-masing di dunia ini…

(Thank you Lord for these people you brought into my life to help me understand more about living in the fishbowl CJ, Ta & Ta, Grace & Imelda)

Continue?

Kesempatan

Minggu yang lalu waktunya berkunjung lagi ke tukang potong rumput…eee… rambut (!) langgananku. Berangkatnya dengan malas tapi mesti. Sudah kurang lebih empat bulan ini potongan rambutku tidak karuan lantaran hairdresser langgananku cabut dari tempat potong itu. Dua kali rambut yang tidak seberapa ini dibabat hairdresser yang berbeda-beda dengan hasil semakin menciutkan hati saat menatap bayangan di cermin. Well, manis sih… kalo diliat dari jarak paling sedikit satu kilo, hehehe…

Rupanya Tuhan hari itu tahu tekad bulatku untuk kembali memberanikan diri bereksperimen dengan hairdresser manapun yang tersedia. Tidak terlalu memusingkan bagaimana penampilanku nanti karena beauty is only skin deep, yang penting rapi (ehm… rapi apa “rapi”?). Dan… aku dihadiahiNya seorang hairdresser yang tahu persis apa yang kuharapkan. Cekatan, kooperatif dan it is very likely he could be the replacement for my previous lovely hairdresser (God bless wherever she is now!). But… ada satu hadiah lagi dari Tuhan hari itu buatku. Hadiah yang baru kusadari telah kuterima kala di malam harinya aku berbincang-bincang denganNya.


Beberapa bulan yang lalu sepulang dari tempat potong-memotong itu aku diliputi rasa gundah yang dalam. Ketidakcocokkan dengan hairdresser yang menangani rambutku berakhir dengan rasa jengkel yang pastinya terlukis jelas di raut wajah dan perlakuanku padanya. Aku mengambil alih proses pengeringan rambut meskipun dengan tetap berbicara baik-baik padanya. Malam itu aku menyesal sekali dengan sikapku dan berjanji pada Tuhan kalau aku kembali ke tempat potong itu, aku akan meminta hairdresser yang sama untuk menggunting rambutku dan aku akan memperlakukan dia dengan cara yang berbeda. Aku akan lebih sabar dan tenang menghadapi dia. Tak dinyana, hairdresser yang menangani rambutku beberapa bulan kemudian adalah dia juga! Baru malam itu aku sadar orang yang sangat menjengkelkan buat aku beberapa bulan yang lalu adalah orang yang jadi hairdresser andalanku kini! Siang itu kami saling bercerita tentang banyak hal dengan begitu enak, harap ada kebenaran tentang Kristus yang bisa didengarnya. Tak habis-habisnya aku berterima kasih pada Tuhan yang telah memberikan kesempatan kepadaku untuk berekonsiliasi dengan hairdresserku cara yang begitu indah. Aku jadi berpikir tentang arti kesempatan…

Kesempatan… sesuatu yang sangat didambakan begitu banyak orang, bahkan dengan rasa putus asa. Aku kenal seorang tua yang menghabiskan tahun-tahun terakhirnya merenungkan berbagai kesempatan untuk jadi lebih kaya lewat bisnisnya, tetapi semua bisnis itu gagal total. Setiap hari bapak tua itu sering termenung-menung memikirkan hidupnya sekarang. Berbagai kesempatan yang hilang di depan mata akibat salah perhitungannya.

Masih lekat di ingatanku satu dering telpon di satu malam, seorang ibu yang aku kenal bertanya dengan nada gundah, “Ehm… maaf Tante telpon malam-malam, kamu lagi sibuk?” Setelah kuyakinkan si Tante bahwa tidak masalah dengan telponnya itu, meluncurlah kata-katanya…“Si Oom pergi, baru saja. Kami bertengkar. Dia membuang makanan-makanan yang ada di meja. Tante coba cegah, tapi akibatnya dia jatuh. Tante dikejar-kejar dengan sapu di tangan, sampai hansip Tante panggil karena takut. Tante sedih sekali karena kami berpisah seperti ini. Kalau malam ini si Oom kenapa-kenapa, Tante tak akan sanggup menghadapi. Padahal Tante sudah bertekad memperlakukan dia dengan lebih baik akhir-akhir ini. Tante menyesal, benar-benar menyesal…”

Hatiku tertusuk sangat dalam mendengar uraian yang disampaikan diantara isakan tangisnya. Aku kenal pasangan ini sudah lama dan sudah lama pula turut berdoa dengan keluarga ini untuk si Oom agar kembali pada Tuhan. Aku berdoa dalam hati memohon Tuhan membantuku dalam situasi si Tante dan satu kalimat yang keluar dari mulutku, “Tante, kalau Tante memang betul-betul menyesal dan sudah meminta ampun pada Tuhan, percayalah Tuhan sudah mengampuni. Berharaplah pada Tuhan untuk memberikan kesempatan lagi bagi Tante untuk berbaikan dengan Oom. Apa yang sudah lewat tidak bisa diapa-apakan lagi, tapi buatlah kisah yang baru mulai dari saat ini.”

Tuhan yang tahu betul hati si Tante malam itu memberikan kembali kesempatan untuk kembali memikul salibNya berelasi dengan si Oom. Malam itu dering telpon kedua dari si Tante yang kembali diiringi dengan isakan kecil, tapi kali ini penuh dengan ucapan syukur, “Si Oom sudah pulang, Tante akan ingat kata-kata kamu, terima kasih!”

Aku termenung beberapa jam setelah itu, betapa indahnya orang-orang yang diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya. Aku teringat satu kisah di Alkitab “The Adulterous Woman” di injil Yohanes (John 8). Satu kisah yang sangat unik dan tidak terdapat di injil-injil lainnya. Seorang perempuan yang telak-telak kedapatan berzinah. Herannya hanya perempuan itu yang dibawa ke hadapan pengadilan, padahal mana ada perzinahan dilakukan sendirian?! Tercium bau busuk konspirasi disini! Perempuan ini hanyalah alat para so called pemuka agama untuk mencobai Kristus. Betapa menyakitkan menghadapi kenyataan seperti itu. Tapi lihat bagaimana Kristus membereskan semua masalah itu sekaligus, luar biasa…! Terngiang-ngiang terus perkataanNya, “I do not condemn you, either. Go. From now on sin no more.” – John 8:11 NASB

Tentang Menghakimi
Aku belajar banyak hal lewat kisah itu. Seringkali jiwa menghakimiku lebih kuat dibandingkan dengan kasihku terhadap sesama yang tengah berduka akibat kesalahannya. Aku tak ubahnya teman-teman Ayub yang menambahkan cuka pada luka Ayub yang sudah sedemikian dalamnya. Meskipun awalnya datang untuk menghibur, tetapi begitu membuka mulutnya mereka tak kuasa lagi menghakimi Ayub tanpa sebetulnya tahu duduk persoalan yang sebenarnya. Itulah mungkin sebabnya salah satu pesan Kristus yang terakhir kepada para murid-muridNya adalah “A new commandment I give to you, that you love one another…” dan mengingatkan bahwa “Vengeance is Mine. I will repay.”

Tentang Arti Kesempatan
Aku juga belajar tentang arti kesempatan, baik memberi kesempatan ataupun diberi kesempatan. Kalau Kristus yang adalah Tuhan selalu memberikan kesempatan bagi orang-orang berdosa untuk kembali kepadaNya, dalam kapasitas yang Dia berikan, akupun sudah pada tempatnya memberi kesempatan pada orang lain memperbaiki kesalahan mereka. Bukan karena aku lebih benar, tapi justru karena akupun sebetulnya tak ubahnya seperti mereka kalau bukan karena anugerahNya. Bukan hal yang mudah. Apalagi terhadap orang yang sudah berulang kali menghadirkan luka dan kesulitan dalam hidup kita. Tapi penebusan Kristus memampukan kita untuk itu. Memampukan kita untuk terus mengasihi dan memberikan kesempatan kepada orang lain yang bersalah kepada kita untuk memperbaiki kesalahannya, di dalam pertobatannya tentu. Dan kalau Tuhan mengabulkan permohonan kita agar diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kita, jangan pernah menyia-nyiakannya. Seringkali kegembiraan mendapatkan apa yang kita inginkan membuat kita terlupa akan apa yang harus kita buat untuk mengisinya.

Menanti Kesempatan
Seorang penderita kanker di gerejaku terus memohon pada Tuhan untuk menyembuhkan penyakitnya. Menanti terus saat Tuhan membebaskannya dari penyakit itu. Mengingatkanku bagaimana seringkali kita juga terus menantikan saat kesempatan datang pada kita. Saat kita diberi kesempatan memperbaiki kesalahan kita. Tetapi apa yang kita lakukan untuk mengisi waktu penantian tersebut? Melukis kisah yang baru. Daripada terus menanti kapan kesempatan itu tiba, mulailah dari sekarang juga melakukan apa yang akan kita lakukan kalau kesempatan itu tiba pada kita. Hiduplah dengan satu kepercayaan bahwa Tuhan selalu memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kepada orang-orang yang sungguh-sungguh bertobat dari kesalahan-kesalahannya. Oleh karena itu hiduplah sebagai orang-orang yang sudah diberikan kesempatan, bukan menanti terus hingga kesempatan itu tiba. Karena di dalam Kristus, kesempatan itu pasti akan tiba, sesuai dengan waktuNya yang sempurna.

Continue?

Monday, July 30, 2007

Oh, Bobotku...!

(Tulisanku sepulang dari PDM di Sukamantri, November 2003)

Teman2....
Menyinggung soal premanisme, ik mau cerita dikit nih.... Ngga soal rok jatoh di jalanan lagi, ngga soal minum dari gelasnya bos, ngga soal dipanggil "mas" di Yogya.... Dengerin yah....
Beberapa minggu yang lalu, ik pergi ke gunung Salak selama seminggu, biasa deh acara bertapa tahunan. Sebetulnya ngga ada kejadian luar biasa kalau ngga karena yang akan ik ceritakan ini. Gini ceritanya.....



Malam itu udara sejuk sebagaimana adanya udara di kaki pegunungan. Seturun dari angkot, hati ik masih senang. Karena dipanggil "mbak" sama supir2 angkot di pangkalan tadi. Rupanya meski ik sudah 'menyamar-demi-keamanan, ik masih juga dikenali sebagai wanita. Meski ik memakai kaos hitam garang dipadu dengan celana rimba serta sandal gunung disertai kaos kaki putih manis (belum lagi membawa ransel di depan dan belakang), ik tetap dikenali sebagai wanita. Lain sekali dengan keadaan di jaman dulu saat meski ik sudah jelas2 pakai lipstick, tapi masih saja ada yang bertanya, "Wah... laki apa perempuan nih?!".

Tapi rupanya rasa senang ik tiada bertahan lama. Tragisnya peristiwa berikut yang dialami langsung menghapuskan kegembiraan yang berpendar2 di hati ik bagaikan lampu teplok di warteg desa. Baru saja turun angkot, ik dan seorang teman langsung disambut hangat oleh para tukang ojek yang memang sedianya kan membawa kami ke atas pos pendakian. Saat itu perasaan ik kian tak menentu karena ada seorang supir ojek yang dengan agak2 ribut bilang, "Yang perempuan kesini aja!"

Ik jadi curiga. Rasa senang dikenali sebagai wanita langsung hilang... Tapi dengan mengandalkan kekuatan pupu ik yang digdaya itu, ik mantap duduk di ojek tersebut. Dan teman ik pun tersenyum memberi semangat agar tetap tabah menghadapi apapun yang terjadi. Jalanan yang harus ditempuh memang amat sangat tidak mulus, berbatu2, sangat berpotensi membuat pantat jadi memar meski duduk di jok motor. Baru separuh jalan ditempuh... terjadilah peristiwa itu.... Dimulai dengan pertanyaan si abang ojek:

TO: "Neng, jarang naek motor yah?"
G: "Iya....kenapa, mang?"
TO: "BERAT INI, NENG!!!"

Dan setelah itu hinaan demi hinaan daku terima. Mulai dari diajari cara duduk di motor, yang gerakan badan ik menyong2 goyang2 ndak menentu, yang ditanya apakah ik yang bawa tas besar (carrier), lalu disuruh duduk lebih ke depan karena kata si mang, "Nanti aus ban belakangnya!!!" Ingin rasanya ik menjeritkan di hati bahwa ik sudah turun 7 kg dibandingkan saat yang sama di tahun lalu! Ik pun sudah sering sekali ke tempat itu dengan naik ojek dan sejauh ini belum ada tukang ojek yang complain soal balancing ik di atas motor......*&^%*%*%(*%*#)!+!@#!#":"(!@

Berdasarkan hasil analisa ik dengan teman2, si tukang ojek rupanya ingin mendapatkan ongkos lebih, tapi tak dinyana, ik tetap saja tega memberikan ongkos seperti yang sudah kita sepakati di bawah tadi. Hhhhhhh....... Belum tahu rupanya siapa ik...

Demikian kisah "tragis" ik di malam itu.


Continue?