Showing posts with label enjoying God. Show all posts
Showing posts with label enjoying God. Show all posts

Saturday, January 12, 2008

Joni Eareckson Tada (A Gift to Myself)



Aku tidak ingat siapa namanya waktu pertanyaan “Name three persons you would invite to your dream dinner” muncul di session ice-breaking workshop kali ini. Pertanyaan yang awalnya kujawab mantap “My dad, my mom, my sibling and my future husband”. Tapi karena dream dinner dengan mereka sudah menjadi a dream come true, jadilah Mr. John Calvin, Mr. Adolf Hitler dan dia whose-name-I-cannot-recall masuk daftar Top Three-ku saat itu.


Aku belum juga ingat siapa namanya saat terseok-seok dari lorong ke lorong membawa keranjang berisi sedikitnya selusin buku masing-masing setebal minimal dua sentimeter buah pikiran C.S Lewis, John Piper, R.C. Sproul, Philip Yancey, Gordon MacDonald plus dua bible study yang ketebalannya bisa membinasakan orang yang tercium mesra olehnya. Meskipun tubuh mungil ini (mungil?!) tertatih-tatih menyeret keranjang di sepanjang Christian book warehouse yang jumlah bukunya membuatku terpana sesaat setelah masuk, aku tidak mau menyerah hingga berhasil mengingat namanya. Sayangnya benar kata orang “lupa bertanya sesat mencari”.

Akhirnya setelah berhadapan dengan kenyataan akan anggaran yang terbatas dan waktu boarding yang semakin dekat, dengan enggan aku melaju menuju tempat kasir hanya untuk tersandung setumpukan buku berjudul “Heaven: Your Real Home” by Joni Eareckson Tada. Yipeee!!! Sejenak aku lupa dengan soal anggaran dan boarding itu. Mengandalkan kemampuan matematikaku yang terbatas aku menghitung-hitung buku mana yang akan kubeli. Jadilah Heaven: Your Real Home pilihanku yang pertama, sebagai persiapan untuk masa depan. Persiapan untuk bertemu dengan Dia yang digambarkan Joni dalam bukunya yang berikutnya kupilih The God I Love.

Berjuang kembali ke negeri tercinta ini setelah re-timed hingga lima jam, di tengah malam yang berangin dingin itu aku menunggu antrian taksi yang tak kunjung tiba dengan satu perasaan tenang dan hangat oleh sukacita mengingat kisah indah yang segera akan aku nikmati. Joni’s The God I Love adalah salah satu buku pertama yang aku buka dan aku terpana... Membaca kisahnya memaksa aku yang tidak mahir multi-tasking ini harus pandai-pandai membaca sambil membuka Bible sambil merenung, sambil berdoa sekaligus menghapus airmata dan tertawa (uhm… dalam bahasa Mandarinnyage i el a atau si ar e zet wai?).

Kisahnya indah tapi mungkin bukan seperti yang aku dan kau bayangkan pada awalnya. Kalau kau mencari gambaran seorang gadis muda yang tangguh meskipun lumpuh dari leher ke bawah (quadriplegic) karena diving accident, kau salah pilih buku. Kalau kau mencari gambaran pahlawan iman yang dengan gagah berani menghadapi berbagai situasi sulit dan tetap percaya pada Tuhan, lebih baik kau baca saja buku lain.

Karena di sini kau akan berhadapan dengan kisah “ketidaktangguhan” seorang anak Tuhan dalam menjalani hidupnya. Kelemahan demi kelemahannya dipaparkan dengan tulus dan terbuka. Joni dengan jujur akan bercerita padamu berbagai kesalahan yang dia perbuat sepanjang hidupnya dan bagaimana Tuhan dalam belas kasihnya menebus semua itu untuknya. Tidak, ini bukan buku yang aman untuk orang yang mencari therapeutic healing, kau akan kecewa. Kau cari saja buku yang lain. Tetapi… kalau kau ingin mengenal lebih jauh siapa Tuhanmu, mari ikuti aku membacanya. Untuk kali ini, ijinkan aku bercerita lebih dahulu kepadamu…

The God she loves, allows us to taste what hell is like…
Terbaring terikat pada Stryker frame selama beberapa bulan pertama, di bawah pengaruh obat bius dosis tinggi yang menimbulkan halusinasi menyeramkan, menjadikan kebas (numb) sebagai emosi yang terakrab. Sehingga bahkan kengerian akan kuku tangannya yang harus dicabuti satu-persatu akibat infeksi, tidak ada bandingannya dengan kebas perasaannya saat menanti Tuhan melawatnya di kolam Bethesda. Tidak ada malam segelap itu, saat Tuhan dirasa membisu dan membiarkan jiwanya terbunuh. That was the taste of hell, that was the real suffering...

Tetapi Tuhan tidak pernah membiarkan the taste of hell menjadi realita kita. Tidak akan pernah. Pada satu malam yang tak tertahankan Tuhan mengirim seorang sahabatnya mengendap-endap menyelinap memasuki kamar Joni setelah suasana di rumah sakit senyap. Seorang sahabat yang kemudian sepanjang malam berbaring di sampingnya, tanpa kata-kata memegangi tangan Joni yang sudah mati rasa. Menjawab keluhan Joni, “Jacque, it’s been so hard. So scary. I’m afraid,” hanya dengan menyanyikan lembut Man of Sorrows! What a name; For the Son of God who came; Ruined sinners to reclaim; Hallelujah! What a Saviour!

Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu sejak kecelakaan itu terjadi, Joni tahu bahwa keberadaannya signifikan di dunia ini. For the very first time, it was okay. It was just... okay. Dengan lembut Tuhan terus mengingatkan, “I love you. Don’t worry. If I loved you enough to die for you, don’t you think My love is great enough to see you through this?”

Ya, neraka bukanlah pilihan bagi setiap anakNya. Itulah sebabnya neraka tidak pernah jadi realita meskipun dalam dunia yang jatuh dalam dosa seolah itulah kenyataannya. Tapi telah ada Dia yang turun jauh dari tempatNya untuk membawa kembali setiap anakNya yang merasa nerakalah pilihan hidup mereka.


The God she loves, creates marriage as a ministry for Him...
“I love you Joni,” young and handsome Ken Tada said.
“Well, you know what? I love you, too,” Joni replied. Ken continued, “It could work, you know. I’ve been watching Judy help you all these months, I know I can do the things she and others do for you.”
“You’re talking marriage?” Joni asked.
“Our life together... it could be a real ministry for the Lord,” Ken softly said.

Beberapa bulan kemudian Joni menambahkan nama Tada pada namanya. Joni Eareckson Tada. Aku tak ingin banyak berkisah tentang mereka. Kau dengarkan saja dulu rekaman video saat Ken Tada dihormati lewat pemberian McQuilkin Award bertahun kemudian setelah hari mereka saling berkata, “I do” ini (klik di sini). Itu saja sudah bercerita milyaran kata tentang indahnya melayani Tuhan lewat pernikahan kita. Aku kini hanya ingin memanggil seluruh wanita untuk belajar pada Ken Tada tentang apa artinya menjadi a godly woman worthy of one of His sons as their spouse.

Marriage as a ministry. Is that an alien concept for us or is it already what you believe it should be and striving hard to do? John Piper pernah menyinggung hal ini dalam salah satu artikelnya Let Us Go With Jesus Bearing Reproach. Dan dalam Brothers We Are Not Professionals dia menyebutkan, “God made man to be a sharer. God created us not to be cul-de-sacs of His bounty conduits. No man is complete unless he is conducting grace (like electricity) between God and another person.” I can’t agree more with him. To minister God through the ministry to others. To be sharers of God's grace for one another.


The God she loves, loves to teach us through children...
Pernikahan Ken dan Joni yang indah bukannya tanpa pergumulan dan air mata. Meskipun quadriplegia tidak merenggut kemampuan Joni untuk mempunyai anak, tetapi Tuhan dalam kedaulatanNya memberi kisah lain untuk dijalani. Dalam kepedihan hatinya di masa-masa awal berhadapan dengan kenyataan akan tiadanya anak dalam perkawinan mereka, Tuhan mengirimkan berbagai anak tiba padanya. Bukan sembarang anak, tetapi mereka yang fisiknya tidak sempurna. Tuhan membuka hati Ken dan Joni untuk mencintai mereka semua. Hati yang awalnya hanya mampu mencintai beberapa anak, diperluasNya sehingga mampu mencintai ribuan anak.

“We may not be able to have our own children, but we have the children all around the world. Yes, disabled children.” Dan melalui anak-anak ini Joni dibuat terkagum-kagum akan kemampuan anak-anak menghadapi kesulitan-kesulitan hidup mereka. Joni will tell us this, “Through a sweet little child I’ve learnt about true wisdom. It’s found not in being able to figure out why God allows tragedies to happen. True wisdom is found in trusting God when you can’t figure things out.”

Dan itu bukan pelajaran yang pertama. Kelly, keponakannya berusia enam tahun didiagnosa menderita tumor otak dan hanya bisa hidup sebulan lagi. Seluruh keluarga termasuk Joni berusaha mempersiapkan Kelly pulang ke surga. Tetapi Tuhan membalikkan peran. Yang hendak menghibur menjadi yang dihibur. Yang ingin menguatkan menjadi yang dikuatkan.


The God she loves is not “safe”...
Pada chapter 26 mendekati akhir buku, Joni dikisahkan kembali mengalami masalah medis yang menguncangkan kembali kehidupannya. Masalah myo-fascia yang selama beberapa saat tidak bisa didiagnosa membuat hidupnya yang ceria menjadi kehilangan harapan saat berhadapan dengan nyeri yang rasanya tak tertahankan. Aku sempat terpana membacanya. Orang yang sudah mengalami begitu banyak kesulitan luar biasa dan dimampukan Tuhan melewati semuanya, mengapa masih bisa kehilangan harapan?

Ini adalah wanita yang berkata, “Suffering is like a sheepdog that snaps at your heels and keeps driving you toward the Shepherd,” and she meant it. Ini adalah wanita yang berkata, “I want you all to know my accident was no accident at all,” saat melukiskan Kedaulatan Allah yang selama ini selalu mengiluminasikan hidupnya.

Tetapi wanita yang sama ini kemudian pada satu malam kelam tak mampu lagi berdoa dan hanya melitanikan nama Yesus tiada henti seperti aku bertahun yang silam, “Jesus, Jesus, Jesus.” Hanya hatinya yang mampu berkata, “I want to trust the Father with this, but he’s so... so sovereign. And that’s scary. I’m afraid to trust him. I can’t. I can’t.” Kedaulatan Allah tidak pernah begitu menakutkan seperti saat itu.

Joni bertutur tentang tentang kecelakaannya, “And miracle of miracles, I was making it. Years were passing, and I was maintaining my balance, cultivating patience and endurance, and watching things fit together for good. No longer. Mind-bending pain had begun to jiggle the wire, and I’d lost sight of God at the far end.”

Tuhan tidak akan membiarkan anak-anakNya menjadi nyaman dengan dunia ini karena ini bukan rumah mereka. Ia akan menggoncangkan sarang-sarang palsu yang nyaman itu untuk mengajarkan bahwa mendapatkan Dia berarti kehilangan segalanya. Tidak ada aman, selain bersamaNya. Tidak ada sukacita, selain di dalam anugerahNya. Tidak ada yang berharga selain diriNya. Hanya lewat perspektif kekekalanlah kita akan mengerti betapa Tuhan yang “tidak aman” ini sesungguhnya telah mengamankan perjalanan kita hingga nanti tiba di surga. Mencelikkan mata tentang apa yang sesungguhnya berharga.

Jika matamu telah terbuka maka kau akan mengerti hidup ini bukan seperti dalam putaran roda. Sebentar di atas, sebentar di bawah. Saat kau rasa di bawah mungkin sekali kau justru tengah dengan luar biasa dibentukNya sehingga semakin menyerupai AnakNya. Kalau begitu, ini bukan lagi urusan hidup enak-susah karena bukan itu tujuannya, bukan itu yang jadi fokus hidupmu. Melainkan mendapatkanNya, dipuaskan hanya karena Dia dan hidup bagiNya. We’re not safe in this world and it is okay because we’re always safe in Him as He has already saved us.


Whoops... tak bakal habis aku berkisah tentang the God Joni loves. But this I should be sure of, the God Joni loves is the God who loves me. I can never be confident in my love for Him, but I can always be confident of His love for me. A dream dinner comes true? Hm... I know whom I will invite for the next time. Only one. That is God the Father, God the Son and God the Holy Spirit... What a dinner it would be!

Next journey: A Resilient Life - Gordon MacDonald... = )

Continue?

Saturday, October 13, 2007

Teologi Sukses, Penderitaan dan Kenikmatan

"What is a man's chief end?
A man's chief end is to glorify God and to enjoy Him forever".

Amen. Itulah yang terbersit di hati saya saat pertama kali mendengar kalimat itu diucapkan, dibaca dan dibahas bersama di dalam kelas-kelas yang saya ikuti. Ada rasa senang yang dangkal? Perhaps. Because Gloria is my middle name (gee...!) and then I made a mental note to name one of my (future) children, Joy. Or Hope. That shallow, I know. It so happened, however, a journey is to be taken to make that chief end’s of man, my end. And with that divine plan, a journey to live that end out began...


Berkenalan dengan kata "memuliakan Allah" sejak batita mungkin membuat kata tersebut cukup familir buat saya karena memuliakan Allah termasuk kata-kata yang paling sering didengar, mulai dari diteriakkan di mimbar dengan berapi-api, dinyanyikan merdu segenap hati hingga dibisikkan dalam doa diantara tetesan airmata. Mirip dengan itu, adalah kata "menikmati Allah". Karena buat saya kata menikmati Allah mengandung suatu kedekatan yang lebih dibandingkan dengan kata memuliakan Allah. Seperti kedekatan yang saya rasakan dalam kata "mencintai Allah". Kedekatan antara seorang anak dengan ayahnya. Jadi, tidak ada yang terasa aneh saat berkenalan dengan kata itu.

Perjalanan selanjutnya membawa saya bertemu dengan bahasan tentang Enjoyment theology atau teologi Kenikmatan. Disinilah saya mulai mengenal arti Menikmati Allah dengan lebih dalam lagi, meskipun pada awalnya ada alarm yang menyala saat mendengar bahasan tentang teologi Kenikmatan. Aliran baru apalagi ini?! Bersenjatakan pengetahuan kognitif akan firman Tuhan yang tidak seberapa itu, dengan penuh kecurigaan saya dengarkan baik-baik pembahasan itu dibawakan. Hm… apakah bahan "baru" ini punya relasi dengan Teologi Sukses? Bagaimana relasi menikmati Allah dengan teologi Kenikmatan?

Teologi Sukses vs Penderitaan
Terus terang, pemahaman saya yang terbatas tentang teologi Sukses ditambah rasa sok tahu saya ternyata tetap membawa saya untuk melawan pengajaran ini. Secara ringkas yang saya mengerti dari teologi Sukses adalah bagaimana mewujudkan surga di bumi dengan menjadikan sang Pencipta sebagai Sinterklaas yang berkewajiban mengabulkan setiap permohonan. Sehingga setiap anak Tuhan sudah seharusnyalah hidup makmur, sukses, bebas dari masalah dan bahagia. Jika kau tidak mendapat, itu karena imanmu terlalu kecil. Maka, berimanlah! Masalahnya beriman kepada diri sendiri sama sekali berbeda dengan beriman kepada Tuhan. Let me be God # let God be God. Padahal melihat kehidupan Kristus selama di dunia tidak pernah satu kalipun Ia tidak merendahkan diri dan tunduk di hadapan Allah Bapa. Tujuan hidupNya adalah melaksanakan kehendak BapaNya, seperti yang Dia katakan selalu, “For I have come down from heaven, not to do My own will, but the will of Him who sent Me."
John 6:38 NASB

Saya kerap membandingkan pengajaran teologi Sukses dengan teologi Penderitaan/Salib yang saya kenal dalam kurun waktu bersamaan dengan teologi Sukses. Secara ringkas pengajaran teologi Penderitaan yang saya mengerti adalah bahwa setiap pengikut Kristus yang telah diselamatkan dari kematian kekal, dipanggil keluar dari kegelapan, akan menjalani hidup yang berhadapan dengan penderitaan akibat eksistensinya di dalam dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa ini. Setiap orang wajib menyangkal diri mengikut Tuhan, let God be God. Karena seperti Kristus yang rela turun dari Surga, menjalani hidup yang penuh penderitaan dan mati di kayu salib untuk menebus dosa umatNya, begitulah seharusnya hidup setiap orang percaya. Teologi Penderitaan juga mengajarkan bahwa penderitaan meskipun menyakitkan adalah sangat perlu untuk menyadarkan bahwa this earth is not our home, only Heaven is and it will arrive one day upon Christ' second return.

Buat saya pengajaran ini lebih bertanggung jawab dan menyadari posisi yang tepat dari relasi I and Thou antara kita dengan Tuhan. Apalagi Kristus sendiri dengan kematianNya di kayu salib sudah dengan sangat jelas memberikan contoh dan gambaran akan apa yang harus dihadapi setiap pengikutNya nanti. Sehingga meski saya tidak bisa menerima pengajaran teologi Sukses dan saya menyambut teologi Penderitaan/Salib dengan tangan terbuka lebar. Dan kemudian saya bertemu dengan pembahasan bernama teologi Kenikmatan...

Penderitaan vs teologi Kenikmatan
Teologi Kenikmatan yang saya mengerti berawal dengan penjabaran dari katekismus Westminster bahwa tujuan hidup manusia selain memuliakan Allah adalah juga untuk menikmatiNya. Pengajaran ini secara lebih detail membahas tentang apa arti menikmati Allah dan bagaimana hubungan antara menikmati Allah dengan memuliakan Allah terutama jika dikaitkan dengan sisi penderitaan yang memang pasti menyentuh hidup setiap anak-anak Allah. Itulah sebabnya pembahasan tentang teologi Kenikmatan selalu mengikutsertakan pengajaran dari teologi Penderitaan karena penderitaan dapat dikatakan sebagai salah satu guru terbaik untuk mengerti lebih dalam arti memuliakan dan menikmati Allah.

Teologi Kenikmatan yang saya kenal merupakan penggenapan dari teologi Penderitaan. Mengajarkan bahwa meskipun kita menyadari, mengakui dan menerima akan kehadiran penderitaan yang harus dihadapi setiap anak Allah, tujuan hidup kita bukanlah untuk menderita. Melainkan untuk untuk memuliakan Allah dan menikmatiNya. Secara pribadi saya mulai memahami hal ini saat berhadapan dengan masa-masa tersulit dalam hidup saya. Penderitaan adalah sesuatu yang riil harus dihadapi setiap anak Allah seperti yang ditulis dalam surat Ibrani, "But remember the former days, when, after being enlightened, you endured a great conflict of sufferings,..." Hebrews 10:32 NASB. Tetapi berpikir bahwa penderitaan yang dihadapi ini adalah sesuatu yang harus saya terima sebagai tujuan hidup, betul-betul membuat saya berpikir bahwa sangat lebih baik saya tidak pernah dilahirkan dan membuat saya sedikit lebih memahami kenapa orang lebih memilih bunuh diri saat kehilangan harapan. Disadarkan lewat penderitaan bahwa this earth is not our home is one thing, tetapi berpikir bahwa menjadikan penderitaan sebagai tujuan yang harus dicapai is certainly another different thing!

Saya merasa menemukan pencerahan saat diingatkan bahwa tujuan hidup saya selain untuk memuliakan Allah adalah juga menikmatiNya. Mengapa? Karena dalam arti menikmati buat saya bernuansa sesuatu yang menyenangkan, memberikan kesukacitaan, semangat dan keinginan untuk terus merasakannya, makanya disebut nikmat. Mana ada orang yang sedang merasakan penderitaan mendefinisikan penderitaan tersebut dengan hal-hal tadi? Yang mungkin adalah meskipun menderita tetapi tetap bisa menikmati saat-saat itu karena this and that. Tetapi bukan berpikir bahwa arti menderita dan menikmati itu sama. Orang yang mengatakan menikmati penderitaan pun bukan berarti dia menyamakan penderitaan dengan kenikmatan karena tidak ada penderitaan yang nikmat. Kalau bisa menikmati saat menderita itu memang karena ada unsur nikmat di dalamnya tapi tidak berarti penderitaan bisa diidentikkan dengan kenikmatan.

Maka bersyukurlah saya kepada Allah karena lewat teologi Kenikmatan saya lebih mengerti untuk tidak menjadikan penderitaan sebagai tujuan hidup saya! Hal ini bukannya tidak disinggung sama sekali dalam teologi Penderitaan, hanya saja menurut saya pembahasan mengenai penderitaan yang sangat besar disana kadangkala tidak dihubungkan dengan tujuan hidup manusia yang kemudian dikupas pula secara detail. Itulah sebabnya saya bisa mengerti saat dikatakan bahwa teologi Kenikmatan adalah yang lebih realistis dibandingkan teologi Penderitaan, apalagi teologi Sukses.

Tetapi sebetulnya pada akhirnya seindah apapun teologi atau pengetahuan atau pengertian yang saya dapatkan serta pahami tidak ada artinya kalau pada akhirnya hanya memperindah konsep saya akan siapa Allah tetapi tidak menjadikannya suatu realita dalam hidup saya. Allah saya adalah Allah yang hidup, bukan Allah di dalam keindahan konsep belaka. Takkan putus permohonan saya akan belas kasihan dan anugerahNya sehingga apapun yang ada dalam hidup ini akan semakin membawa saya mengenal Dia dan menikmati persekutuan yang penuh denganNya serta menguatkan saya saat Dia membukakan setiap kebenaran sejati yang seringkali akan menghancurkan segala keindahan palsu tentangNya yang saya percayai. Kyrie eleison... Kyrie eleison...

Continue?

Thursday, August 09, 2007

There is Something about Eternity

There is something about eternity… yang tidak kau pahami sebelumnya. Hingga Dia buka matamu memandang jauh menembus segala yang fana. Memperlihatkan realita yang sebenarnya. Sehingga hidupmu di dunia ini, takkan pernah lagi menjadi sama. Karena segala sesuatunya begitu berbeda, dilihat dari pandangan mataNya.

There is something about eternity… yang membuatmu semakin mengabaikan segala tawaran dunia akan harta yang membuatmu memberhalakannya. Entah bagaimana, dianggap dunia miskinpun, rasa rendah dirimu itu lenyap entah kemana. Kalau dulu harta menjadi salah satu atributmu yang utama, kini kau bersukacita dalam hidup yang jauh lebih sederhana. PemeliharaanNya justru datang lewat harta yang tidak seberapa, karena menjadi rem bagi kakimu yang hendak berjalan menuju kota dosa. Aneh, di dalam segala kekurangan yang hadir, justru kau semakin merasakan nikmatnya setiap pemberianNya yang datang untukmu.


There is something about eternity… membuat sakit-penyakit di tubuhmu tak lagi mengusikmu seperti dahulu. Kau pernah khawatir bagaimana tentang sembuh tapi kini berharap belas kasih topanganNya saat rasa sakit mendera. Sembuh bukanlah segalanya jika itu justru menjauhkanmu dariNya. Semua yang ada padamu adalah kepunyaanNya, termasuk kesegaran masa mudamu, kebugaran tubuhmu. Kini kau pelihara itu karena kau tahu itu bukan milikmu, tapi yang Dia percayakan padamu. Dulu akan kau habiskan berjuta-juta tak terhingga, kini kau pasrahkan padaNya untuk mengatur masamu di dunia.

There is something about eternity… yang merombak seluruh nilai-nilai dunia fana yang membentukmu. Kau dibuat mengerti apa yang sesungguhnya berharga di mataNya. Entah bagaimana, kau dimampukan melihat jebakan si jahat dimana-mana, bagai ladang ranjau yang berbisa. Tampilan luar yang indah, penuh kematian di dalamnya. Tidak. Jangan kau bilang itu bisa dengan mudah. Sulitnya luar biasa. Memutar hatimu menghadap kepadaNya, hanyalah bisa karena anugerahNya.

There is something about eternity… yang melekatkanmu padaNya. Betapapun dalamnya kau pernah kecewa padaNya, betapapun besarnya rasa tak percayaMu pada kebaikanNya, betapapun kecilnya keindahan yang kau rasa Dia berikan untuk kau cicipi, tetap saja hanya kepada Dia-lah kau terus berlari. Hanya kepadaNya-lah kau lepaskan beban hidupmu dan melepaskan segalanya yang kau pernah genggam erat demi Dia. Karena hanya Dia-lah yang sesungguhnya mencintaiMu bukan karena kualifikasimu. Tapi semata-mata hanya karena Dia ingin mencurahkan cintaNya padamu. Aneh bukan cinta seperti itu? Takkan pernah kau temui selain dariNya.

There is something about eternity… yang takkan habis-habis memukaumu meski kau coba paparkan hingga habis waktumu disini.

There is something about eternity that always brings me back to You, whom I truly belong to…

Continue?

Tuesday, July 24, 2007

H-O-P-E

Malam itu, di bawah gelapnya langit malam nyaris tak berbintang, kulantunkan bersama dengan segenap rekan-rekan lagu pengantar kebaktian penghiburan untuk keluarga seorang hamba Tuhan yang telah dipanggil Bapa pulang.

Malam itu, diantara gigitan nyamuk-nyamuk tega, aku berdiri di luar sambil berjereng ria. Pasalnya, seorang teman berdiri tepat di depanku selama kebaktian berlangsung dan berefek domino pada jerengnya mataku karena posisi kondenya yang tepat diantara kedua belah mataku, ditambah lagi ketiadaan tempat untuk berpindah posisi.

Malam itu temanku bertanya, “Kebayang ngga suasananya seperti apa kalo nanti lo mati?”, kujawab sambil tersenyum, “Hmm…ngga bakal rame kayak ginilah! Tapi…bukan itu masalahnya. Mati sendirian ngga ada yang tahu juga ngga masalah, yang penting waktu nanti buka mata lagi yang pertama gue liat Tuhan Yesus menyambut gue.” “Iya yah, gue juga deh, hehehe,” kata temanku yang sejak kukenal dia, termasuk orang yang paling tulus hatinya bersahabat denganku.

Malam itu, saat sementara yang lain menunduk dan menutup mata berdoa, kubuka mataku dan kulayangkan pandanganku ke langit di atas sana. Terngiang-ngiang lagu kesayanganku bernyanyi dan satu kalimat lewat di hadapan mata batinku, “The heart of a martyr…”


“Behold, I see the heavens opened up and the Son of Man standing at the right hand of God.”
Acts 7:54 NASB

The Heart of a Martyr adalah salah satu album kesayanganku yang bertutur tentang the Covenanters (keepers of the covenant), para pria dan wanita sederhana yang karena imannya kepada Juruselamat mereka menolak untuk berpaling dariNya. Penolakan yang dibayar dengan kematian mereka yang seringkali dilukiskan dengan mengerikan. Inilah kisah ribuan pria dan wanita yang mengikuti jejak Stephen, yang dijuluki sebagai martir yang pertama (lihat Kisah Para Rasul 6-7).

Membaca tuturan tentang orang-orang yang disebut martir seringkali membuatku tercenung tak habis-habis. Kematian yang penuh siksa dihadapi dengan satu sikap penuh keberanian yang sejati. Bukan kematian cepat dan mematikan melainkan yang panjang penuh siksaan. Bukan karena nekad. Bukan karena putus asa. Bukan karena rasa takut itu tiada. Bukan karena melihat kematian sebagai jalan keluar. Apakah kiranya yang menguatkan mereka begitu rupa? Sementara kita lihat dimana-mana bagaimana kematian begitu ditakuti. Ditolak kenyataannya. Diperlakukan seolah-olah hal itu tidak akan pernah terjadi. Bahkan menghancurkan orang-orang yang ditinggalkan si mati.

Di sisi lain aku melihat ada orang-orang lain yang sekilas serupa benar para martir ini. Yaitu mereka yang juga dengan begitu berani menghadapi kematian mereka. Sebut saja para pilot Kamikaze Jepang di Perang Dunia II, para prajurit Alexander Agung, para pelaku bom bunuh diri. Siapa yang menyangkal bahwa mereka semua berani mati? Bahkan mampu menyambut kematian dengan tawa, terlepas dari isu tentang penggunaan obat yang membius mereka kala melakukannya.

Sehingga satu hal yang membuatku merenung karena ada banyak pengikut Kristus yang menjalani hidupnya dengan "kesediaan" menjalani penderitaan tapi tanpa berani berharap akan suatu keadaan yang penuh harapan di dalam Kristus. Kalau bisa aku katakan menderita demi penderitaan itu sendiri. Bahkan menjadikan penderitaan sebagai tujuan hidup mereka. Meskipun pada sisi pendulum lain ada orang-orang Kristen yang begitu takut pada penderitaan dan tidak bisa melihat bahwa penderitaan pun dipakai Tuhan untuk menjadikan kita semakin serupa Kristus. Banyak anak Tuhan di dalam pergumulan hidupnya seringkali dijadikan tertuduh tanpa belas kasihan oleh setan dan hati nuraninya sendiri sehingga tidak berani mencari kekuatan dan pertolongan dari Tuhan. Akibatnya mereka dilumpuhkan oleh penderitaan. Tanpa pengharapan. Tanpa mengerti dan mengecap penebusan sempurna yang sudah Tuhan lakukan. Kita melupakan apa yang dikatakan penulis Ibrani, "Therefore, let us draw near with confidence to the throne of grace, so that we may receive mercy and find grace to help in time of need." - Hebrews 4:16 NASB. Akankah kita menyebut mereka sebagai martir karena merekapun bersedia menderita demi nama Kristus?

Satu kisah di John 8 tentang the Adulterous Woman yang dijadikan alat oleh para orang Farisi yang berusaha menjebak Yesus yang begitu mereka benci, menolongku untuk semakin mengerti bahwa Tuhan tidak menghakimi demi penghakiman itu semata. Bukan berarti wanita pezinah itu tidak berdosa. Bukan berarti bahwa dosanya tidak berarti. Tetapi inilah kenyataannya. Tuhan datang bukan untuk menghakimi anak-anakNya, umat pilihan yang ditebusnya, melainkan justru untuk membebaskan kita dari hal itu. Untuk memberikan suatu hidup yang penuh pengharapan sehingga seperti para martir yang mengisi deretan the Hall of Faith, kita tidak pernah memandang kematian atau penderitaan dan hanya berhenti disana.

Ada ilustrasi tentang magnet dan paku. Sebatang magnet akan dengan kuatnya membuat paku-paku besi menempel padanya. Dan kalau ada yang hendak menarik paku-paku itu dari tempatnya, harus berhadapan dengan kekuatan dari si magnet itu. Bukan kekuatan si paku. Seperti itulah penderitaan yang ada di dunia ini berusaha menarik anak-anak Tuhan menjauh dariNya, menghancurkan kita. Tetapi adalah kekuatan si magnet yang tetap melekatkan paku-paku itu padanya. Kristus mati untuk terus melekatkan kita kepadaNya setelah kita dijauhkan dariNya karena dosa-dosa kita. Kalau begitu kenapa kita membiarkan hati nurani dan setan menghakimi kita begitu kejam, kenapa kita tidak dengan penuh kepercayaan mencari wajahNya, pertolonganNya, kekuatan dariNya di saat penderitaan menerjang?

Harapan. Satu kata yang luar biasa indah. Ia ada karena ada pengorbananNya. Ia terus hidup karena ada karya penebusanNya. Pengharapan. Itulah yang hidup di dalam jiwa para martir Kristus. Itulah yang membuat mereka terus bertahan hingga akhir hidup di kefanaan mereka. Tidak ada satupun yang mampu meruntuhkan mereka karena satu pengharapan bahwa kesesakan bukan selamanya, Penderitaan bukan akhir kisah mereka. Kematian bukan ujung cerita. Selalu ada pengharapan di dalam Dia. Itulah yang telah memampukan Ayub berkata,

Blessed Be Your Name
In the land that is plentiful
Where your streams of abundance flow
Blessed be your name

Blessed Be Your name
When I'm found in the desert place
Though I walk through the wilderness
Blessed Be Your name

Every blessing you pour out
I'll turn back to praise
When the darkness closes in
Still I will say

Chorus:
Blessed be the name of the Lord
Blessed be Your name
Blessed be the name of the Lord
Blessed be Your glorious name

Blessed be Your name
When the sun's shining down on me
When the world's 'all as it should be'
Blessed be Your name

Blessed be Your name
On the road marked with suffering
Though there's pain in the offering
Blessed be Your name

Every blessing you pour out
I'll turn back to praise
When the darkness closes in
Still I will say

Blessed be the name of the Lord
Blessed be Your name
Blessed be the name of the Lord
Blessed be Your glorious name

You give and take away
You give and take away
My heart will choose to say
Lord Blessed be your name
(Blessed Be Your Name - Robin Mark)

Buatku itulah salah satu arti menikmati Allah. Menikmati kuasa penebusanNya yang mengubah segala keputusasaan menjadi pengharapan. Tidak menjadikan kematian sebagai pembebasan ataupun penderitaan sebagai tujuan. Pengharapan. Seperti yang rasul Paulus katakan, "Paul, an apostle of Christ Jesus according to the commandment of God our Saviour, and of Christ Jesus, who is our hope,..." 1 Timothy 1:1 NASB.

"Kalo nanti gue mati, janji yah lo akan dateng liat wajah gue buat terakhir kalinya," temanku berkata lagi, "Sip! Janji. Gue pasti dateng dan liat." Iya, aku pasti mau lihat karena melihat jeleknya sisi gelap kematian pasti semakin membuatku menghargai keindahan kebangkitan kita di dalam Kristus!

Continue?

His Grace

She just received a letter today..., from a dear friend whom she recently got acquainted..., through an unusual way... This lady friend has been a true example for her..., about believing in the Lord's providence..., she has been blessed with her friend's sharing all these times... This is something she would keep for life..., in understanding more of the dear Lord's way..., in providing for His beloved children... His eyes never leaves His beloved ones...

Sometimes the night was beautiful
Sometimes the sky was so far away
Sometimes it seemed to stoop so close
You could touch it but your heart would break
Sometimes the morning came too soon
Sometimes the day could be so hot
There was so much work left to do
But so much You'd already done



Sent: Tuesday, July 24, 2007 10:14 AM
Subject: Hola: on the Move

Hola mis Familia y Amigos,

Well it has come time for me to move. The packers were here all day and will be back to finsh packing up our belongings. Then on Wed and Thursday they will load the truck. There is a tree being planted in memory of Dan on Little Creek base. After the ceremony Danielle and I will head for our new home. Well mine anyways. Hers temporarily. Heidi and Ilene, she flew in to see heidi, are driving down to help me unpack and get settled in.

My new business is shaping up and I hope to have it running by Sept. I already have orders coming in. One of the movers has put an order in too. Here is what I will be doing. Imprinting. I have bought a puzzle machine, a cup heat press and a Flat heat press which will allow me to imprint just about anything that is realtively flat up to in inch thick. I'm looking forward to taking some of my photos and imprinting them on tiles and also making them into puzzles.

Well I promised that I would let you all know what has been happening since Dan' s death. One I have been setting up my business, I have been working on adopting Ray, my oldest granson, who Dan and I have had custody of since he was one. This will enable Ray to get death benefits from social security. They require that Ray be adopted and an actual child of ours before he qualifies for benefits. It didn't matter that Dan was his sole support for four years and that I would continue to be his guardian. that process is almost done. I have had all my home visits and and been investigated quite well. The adoption agency that handled the home studies and did all the investgating has approved me and has sent the forms and approval notice to my lawyer. all it needs now it to be approved by a judge. And it will be final. I have not yet put my house up for sale because i need to maintain a residence in Virginia until the adoption is complete. So Danielle and I will come back here and finish some projects that Dan and I started and did not quite get finished. it will much easier to do with everything out of the house. althoug we do have the upstairs bathroom almost finished and the master bath room is about half way. I have been getting Ray ready for school as well. He will start kindergarten this year. I bought a Bishon as a companion for Ray and I. Dakota and Danielle will be moving to where ever her husband Rick gets stationed. It is in the works for him to go to Camp Addleberry in Indiana to be an instructor there.

The Lord continues to bless. I also promised to tell you all about how the Lord has taken care of me during this time. Where to start? Most of you know that we spent 3 years in Spain at Naval Station Rota. that was our fiisrt duty station. Dan then got assigned to Derson 2. He was suppose to do this for two years but in the middle of his assignment they created the OMC, Operational Ministy Center. They switched Dan's orders from Desron 2 to the OMC and extended his time here one more year. It is the norm to start searching for your next duty assignment a year in advance. So since we thought Dan was only going to be here for two year we started to pray about his next assignment almost as soon as we got here.

Now usually when we pray about this something usually jumps out at us when we are looking at openings. This time nothing. We prayed and prayed some more and still nothing. well we went ahead and made a "wish list" of the places we thought would be interesting. And then we prayed some more. we ad made ours choices based on location in relation to where our daughters lived and to whatever openings were on the Marine side. dan wanted to do his Marine time while he was still relatively young. Through this whole process the Lord was silent. No nudges no sense of peace just a blank silence. So we thought maybe the Lord didn't want Dan in the Navy anymore. Ok then if not what and where then? We prayed some more. Dan researched different types of ministries and we prayed about each one and still the silence, nothing. We did this for almost two years. Dan finally decided to stay in the Navy until he had clear guidance from God on what to do.

While he was deployed for six months Dan emailed and told me to open an account in my name. In the 24 years we had been married we have never had a seperate account now Dan was insisting that I do this. Then in the fall after he got back from deployment I decided to get a credit card in my name to establish credit in my name. Again I had never seriously thought to do this before. About a year earlyier I had started to save some money to start my own business. In hind sight I can see the hand of God working to make sure I was set for the time of Dan's death. These were not the only things that happened.

Dan's Commador allowed him to come home a month early from deployment so we could celebrate our 25th wedding anniversary. The girls gave us a wonderful party to celebrate in early December since we thought he was getting home in late December. Out pastor here in Deep Creek told Dan of a hunting place where he go to hunt squirrel. So he got to do that several times. He got to deer hunt with his brother one last time. Scott, his friend when Dan would call him at work alwys seemed to get another call on another line or some one would come to his office and their conversations only lasted about five minutes. The friday before Dan died he called his friend and they were not interupred for about 20 minutes. God gave him this time with his friend one last time. Our nephew Jason drives truck and is somtimes in the area. Everytime jason would happen to be in the area he would call and ask if we could get together. Everytime Dan and i were on our way ut the door to attend afunction of one sort or another. One day in the week before Dan died jason called, he was in town. I almost told him that Dan was not able to come and see him when I looked at the clock and noticed the time. Dan would be leaving the base soon. I gave Jason his cell phone # and told him to call Dan. They were able to get together and spend time together one last time.

In December Dan finally got to see all of the grandbabies at one time. Our whole family was together except for Danielle's new husband who was in Kosovo. Dan even got to perform Danielle's wedding ceremony since the Commador allowed him to come home early. We got to spend one more Christmas together and his 46th birthday was spent in California at Ilene's place. We finally got to meet TC's parent who had been wanting us to come and visit every since Ilene and TC got married but it never seemed to work out until then. We celebrated the Chinese New Year with TC's family in California. While we were there Dan started talking about how we should get some burial plots. And he wondered if there was any spots left up at Tunnel Hill Chapel where we got married. One week to the day of Dan's death We got to see one of our daughters give her heart to the Lord. I had never heard our pastor to ask for a show of hands of those who had given their heart to Lord when he had prayed at the end of the service. Danielle raised her hand. God had given this special blessing to Dan before He took him home.

After we came home and about a week before Dan died we were out for our normal evening walk. As usual we talked about whatever was on our minds. This night we were discussing once again whether he should stay in the navy or if the Lord wanted him else where. Several times before we had talked about what we would do if one of us died and Dan would always say Grace you'll be fine the Lord will look after you. We also touched on this subject that night of our walk as well. What was different that night was not his expressed wish that the Lord would take him home. He had sad that before. But that night he said "I don't know whats wrong with me. I'm tired of moving and just want to stay still. The best thing that could happen is if the Lord would take me home right now." Dan had never before expressed a desire to not move around. He loved meeting new people and exploring new places. Just recently I realized that Dan had also started talking about taking Ray hunting that year. This was also unusual because in Dan's opinion a child of 4 should not be out hunting.

In hind sight I can see God's hand preparing me for that night of his accident and what was to come after. God has sent so many special people into my life to help me thru this time. Starting with the first person to show up at the accident. A lady who was traveling in the opposite direction then Dan and I were happend to be an EMT. She seen the accident starting to happen and called 911 as it was happening. Thank God she did because I couldn't figure out how to use Dan's cell phone and called Danielle by accident or probably not an accident after all but a part of God's plan. I have no idea how I called her because I was pushing buttons and the 911 #'s. It was great because Danielle was able to go across the street to a military ombudsman and was able to notifiy Dan's commanding officer's right away. She was also able to get to the hospital where they life flighted Dan.(Richmond) To look at Dan you would not have thought he was seriously injured. Outwardly he only had a couple inch gash on the back of his head that didn't bleed much. He wasn't all scratched up nor were his clothes. They decided to life flight Dan becuase he was non responsive to us. He was awake but incoherent. He just kept saying to help him because it hurt and kept trying to stand up. The lady EMT that stopped to help and I had a hard time keeping him still. We finally managed to get him to sit and lean back agaisnt me on the ground. That was the best we could do. I'm glad the emergency unit got there quick. while Dan was being Life flighted Ray and i drove to the VMC (??) in Richmond. While we were driving Ray said " Grandma there were three and now there is only two." That hit me hard but I prayed "Your will be done." God's way of preparing me for what I would be told later I guess.

After I got to the hospital and the doctors ran some tests I was told that Dan's injuries were non opperable. His aorta had split vertically all the way from his heart to where it splits to go into the legs. this was a rare occurance. The Doctors said that most people don't make it to the hospital with this kind of injury and if they do make it most don't survive once they get there. This injury coupled with his head injury made it impossible to opperate. Which was perfectly fine because Dan never wanted to be hooked up to machines and kept alive. Nor did they even have a choice as to trying to resucitate him. God granted his wish that when he died he would be left alone and not brought back. The Doctors that worked on dan were all christians. After they gave me the news about Dan's injuries we gathered in a circle and prayed, their idea not mine. The lady chaplain that was on duty that night was a literal God send. I don't know what I would have done without her.

Chaplains from the OMC office came and gave us support and made sure we got home safely. it would take another book just to explain how the military took care of me dring this time. They were truly an extended family. and God sure put us in the right spot when we bought our house. My neighbors were fantastic. I wish I could pack them up and take them with me when I move. Their love, care and prayers helped so much. Not only did the Lord send me wonderful people in my neighbors and the military but also at my bank. I wish I could pack them up as well. They just surrounded me with love and support when they found out my husbnd died. Now when I go in they always ask how I'm doing and give me a hug. Remember when I told you that Dan insisted that I have a seperate account. The Caco Officer (Casualty Assistance Officer) gave me a check of 100,000.00 dollars (from Dan's military Life insurance) and told me to open an account in my name because they would probably freeze our joint account for a while. I was able to tell him I already had one. After a while it also hit me that I already have credit established in my own name which is important at a time like this. It also hit me that I would now be able to buy the equipment for my business. Through Dan's military life insurance, our personal life insurance, a VA annuity, a military annuity and a church conference annuity I'm am taken care of financially. I was able to buy my new home out right, pay off our car loan and our credit cards in full. fills kind of weird not having any kind of debt except for the house payment, which will be done once I sell this house. Yes, the Lord has definately taken care of me just like Dan said he would.

There is so much more that God has done since Dan died including sending the Orkin man (termite inspector) just when I needed help unloading freight (my heat presses) off the back of a freight truck. That was trully an answer to prayer. And now the main guy that is packing up my belongings is a Christian. And when he found out that Dan had been a chaplain he asked if i had any books or things that he could have because he really wanted to study and grow in the Lord. I had already seperated some bible study books that I had originally planned to give to our pastor but had decided not to. And they were already in their own box. I had a great time today discussing with this young man the wonders of God. At every turn God has thrown these wonderful people in my way. Not only did this young man say that I have inspired him today by the way i have dealt with Dan's death but one of the ladies at the bank had a sister die suddenly at the age of 46. Same age as Dan and she had a 3 year old son whom her sister had babysat for while she and her husband worked. It was my turn to let her talk and to give a hug. Not only did I know where she was coming from in having a loved one die suddenly but I also knew first hand what it was like to deal with a preschooler during this time of loss.

I don't understand why the Lord decided to take Dan home. Sorry Rick, but this is one time I can honestly say "It was meant to be". "It was God's will!" No matter which way I look at it technically this accident should not have happened. The roads were perfect, a four lane divided by a grassy knoll and not a car, animal, gravel or pot hole in sight. I had the bike tested and there is nothing wrong with the bike. And the autopsy found nothing unusual with Dan. I honestly believe that if he had not been on that bike then something else would have happend that day. It also finally dawned on me why we were getting no answer to almost two years of prayer. God had other plans. While I miss Dan alot I have a peace about what has happened. I even have joy. It has been a weird and exciting time in my life because through all this God has revealed himself to me in so many ways. I know that sounds rather an odd way of talking about the death of your husband but there is not any other way of explaining it. As you can see the Lord has been at work and I didn't even tell half of what I could have.

Love and prayers.
Grace

PS sorry this was so long. Would love to hear from you all. If you email I will be off line for a few days while my things get packed and shipped to my new home.

CHORUS:
Oh God, You are my God
And I will ever praise You
Oh God, You are my God
And I will ever praise You
I will seek You in the morning
And I will learn to walk in Your ways
And step by step You'll lead me
And I will follow You all of my days

Sometimes I think of Abraham
How one star he saw had been lit for me
He was a stranger in this land
And I am that, no less than he
And on this road to righteousness
Sometimes the climb can be so steep
I may falter in my steps
But never beyond Your reach

CHORUS
And I will follow You all of my days
And I will follow You all of my days
And step by step You'll lead me
And I will follow You all of my days
And I will follow You all of my days
(Sometimes the night was beautiful)
And I will follow You all of my days

Sometimes By Step
Rich Mullins
(one of her most favorites songs ever!)

Continue?

Wednesday, July 18, 2007

Kartumu Jelek?

Dalam buku Leading with Billy Graham yang tengah saya baca, ada satu kisah menarik dari Presiden AS Dwight Eisenhower tentang kartu yang jelek. Diceritakan bahwa pada suatu malam Presiden Eisenhower sedang bermain kartu (Flinch nama permainannya) dengan ibu dan saudara-saudara laki-lakinya. Ibunya saat itu menjadi pembagi kartu dan membagikan kepada Presiden Eisenhower kartu yang jelek, sehingga menuai keluhan dari Eisenhower muda yang merasa dewi keberuntungan tengah bersembunyi darinya lewat tangan sang bunda.

Mendengar keluhan si anak, ibu yang bijaksana ini berkata, “Anak-anak laki-lakiku, taruh semua kartu-kartu kalian. Saya ingin berkata sesuatu, terutama kepadamu, Dwight. Kamu berada di dalam sebuah permainan di dalam rumahmu bersama dengan ibu dan saudara-saudara laki-lakimu yang mengasihimu. Tetapi di luar sana, di dalam dunia, kamu akan bermain dengan kartu yang jelek tanpa ada orang yang mengasihimu. Inilah nasehat bagimu anak-anakku, ambillah kartu-kartu yang jelek itu tanpa mengeluh dan mainkanlah. Mintalah Allah untuk menolongmu dan kamu akan memenangkan sebuah permainan yang penting, disebut kehidupan.”


Kisah itu telah mendistorsi perhatian saya dari topik utama buku yang tengah saya baca itu, karena sebagai seorang penjudi…eee… maksud saya berjudi dengan kehidupan… eee… salah lagi! Maksud saya, sebagai anak-anak Tuhan yang hidup dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa, mendapatkan “kartu yang jelek” untuk dimainkan dalam kehidupan kita masing-masing adalah suatu hal yang sangat wajar. Kristus sendiri pernah berkata, “…for He causes His sun to rise on the evil dan and the good, and sends rain on the righteous and the unrighteous” (Matthew 5:45 NASB). Tidak ada yang diluputkan dari mendapat “kartu-kartu yang jelek” untuk dimainkan dalam hidup ini, anak Tuhan ataupun bukan. Tapi penting bagaimana kita memahami dan menangani “kartu-kartu jelek” ini…

Accept and Acknowledge
Saat berhadapan dengan penderitaan dan rekan-rekannya yang biasanya datang bersamaan dengan akurnya seperti rasa sakit yang mematikan, kesulitan-kesulitan hidup, kehilangan sesuatu atau orang-orang terkasih dan lain-lain, reaksi yang paling umum dari kita adalah menolak adanya kenyataan tersebut, dengan berbagai macam cara. Bersikap seolah-olah “kartu-kartu jelek” tersebut tidak pernah ada.

Tetapi sayangnya, menolak kenyataan sama dengan memperpanjang penderitaan itu sendiri. Karena keberadaan “kartu-kartu jelek” itu riil, mereka hanya bisa dihadapi dengan sesuatu yang riil pula. Bermain kartu di dalam mimpi tentu sama sekali bukan berarti tengah bermain kartu. Hanya dengan bangun dari mimpi itu dan berhadapan langsung dengan “kartu-kartu jelek” tersebut kita akan kembali memainkan mereka.

So, accept and acknowledge them! Terima kenyataan bahwa hidupmu sedang penuh dengan airmata duka. Terima kenyataan bahwa rasa sakit itu sungguh melumpuhkan. Terima kenyataan bahwa badai permasalahan tengah melandamu tanpa ampun. Dan yang terutama, terimalah kenyataan bahwa yang tengah kau alami adalah memang sesuatu yang jelek. Rasakan pahitnya. Sengatnya yang sangat tajam.

Saya tidak setuju dengan orang-orang yang berusaha “melembutkan” buruknya kenyataan hidup yang harus dialami seseorang selain tentu juga saja dengan orang-orang yang melebih-lebihkan buruknya kenyataan yang harus dihadapi dalam hidup ini. Sayangnya banyak metode pemulihan di dunia ini yang mengabaikan buruknya tragedi-tragedi kehidupan manusia. Dan banyak dari kita sudah salah kaprah memandang penderitaan yang kita alami. Saya pernah berdiskusi tentang keluarga yang dititipkan Tuhan anak-anak yang sering kita sebut kurang sempurna. Mengalami cacat tubuh misalnya, gangguan kesehatan serius ataupun keterbelakangan mental. Beberapa rekan berkata bahwa yang dialami itu harus diterima dengan penuh sukacita karena itu adalah hadiah terindah yang Tuhan beri.

Saya mengalami sedikit kesulitan menerima kata-kata tersebut. Ketidaksempurnaan si anak bagaimanapun juga adalah sesuatu yang buruk. Jelek. Menyakitkan. Mendukakan. Dan sangat wajar diterima dengan airmata. Tetapi yang indah dari semua itu adalah bahwa apapun yang terjadi tidak pernah bisa menghancurkan jiwa yang menghadapinya. Dari situlah sukacita kita bermula, bukan bersukacita dengan mengabaikan buruknya realita yang harus dihadapi.

Bahkan anak-anak Tuhan sendiripun (termasuk saya tentu) seringkali hanya mengartikan dosa-dosa kita sebagai suatu kesalahan-kesalahan yang kita lakukan di dalam hidup. Kita seringkali tidak menyadari bahwa apa yang kita sebut kesalahan-kesalahan itu sudah membuat Kristus harus mati di kayu salib untuk menanggungnya. Kita lupa bahwa kitalah yang seharusnya mati di kayu salib itu. Kita tidak gentar dengan kematian karena tidak mengerti betapa mengerikannya jalan yang sudah Kristus tempuh buat kita. Tidak heran banyak orang justru beranggapan bahwa mati adalah jalan terbaik bagi kesulitan hidup ini.

Mengabaikan realita ini akan melatih kita semakin tidak menghargai apa yang sudah Kristus lakukan buat kita. Penderitaan luar biasa yang dihadapiNya demi kita. Dia mati untuk menghidupkan kita dari kematian kekal, seperti Sleeping Beauty yang dibangunkan dari mimpi kekalnya. Kenapa kini kita mau tertidur lagi menghadapi “kartu-kartu jelek” kita? Accept and acknowledge.

By His Very Own Permission
Kadangkala kita memandang apakah kartu-kartu kita jelek atau tidak juga dipengaruhi siapa yang membaginya. Kalau kita tahu bahwa si pembagi sama sekali tidak berkuasa menentukan kartu yang mana bagi siapa, kita cenderung lebih kurang sakit hati menerima kartu-kartu jelek tersebut. Tetapi jika kita mengetahui bahwa si pembagi kartu mampu mengatur agar kita tidak menerima kartu-kartu jelek itu, kita akan jauh lebih sakit hati menerima kartu-kartu jelek kita. Kita akan bilang, musuh dalam selimut lebih mematikan daripada Enemy at The Gate = D...

Saya coba membayangkan perasaan nabi Habakkuk saat Tuhan berkata, “Look among the nations! Observe! Be astonished! Wonder! Because I am doing something in your days, you would not believe it you were told. For behold, I am raising up the Chaldeans, that fierce and impetuous people who march throughout the earth to seize the dwelling places which are not theirs.” Habakkuk 1:5-6 NASB, oh LORD God, nothing but unspoken desperation, would it? Betapa gentar, hancur, remuk dan kecewanya perasaan nabi Habakkuk melihat apa yang akan dilakukan Tuhan. Membiarkan satu bangsa yang begitu kejam menghancurkan umatNya sendiri.

Tapi satu fakta yang tidak bisa terhindarkan adalah bahwa “kartu-kartu jelek” dalam kehidupan kita hanya mungkin tiba pada kita dengan seijin sang Pembagi yang Agung itu sendiri. Tanpa ijinNya tak ada secuil pun penderitaan yang sanggup menyentuh kita. Ini akan membawa kita pada pertanyaan berikutnya, “Kalau realita penderitaan begitu mematikan, mengapa Ia yang sanggup menghalau hingga tuntas mengijinkan penderitaan tiba pada kehidupan anak-anak yang dikasihiNya begitu dalam sampai mengorbankan yang paling dikasihiNya sendiri di kayu salib?”, dan banyak orang-orang paling bijaksana pun akan terdiam menghadapi pertanyaan ini.

Mengapa? Karena tidak memahami realita dosa. Tidak memahami bahwa Tuhan Allah yang penuh kasih adalah juga yang penuh keadilan. Tidak dibiarkanNya satu dosa pun lolos tanpa penghakiman yang adil. Tapi masalahnya disini tidak ada seorang manusiapun yang akan sanggup memahami hal ini tanpa Tuhan sendiri membukakannya. Sudah dibukakanpun tetap banyak yang tidak kita mengerti. Bahkan hingga kita tiba di surga nanti, tetap akan ada banyak hal yang tidak kita mengerti seperti Tuhan. Yang diciptakan bukanlah Sang Pencipta itu sendiri.

Oleh karena itu dalam menghadapi realita “kartu-kartu jelek” yang diijinkanNya sampai dalam genggaman kita, terimalah kenyataan bahwa dengan segala keterbatasan yang kita miliki sebagai ciptaanNya, satu hal yang tetap bisa kita pegang, bahwa Tuhan Allah bukanlah pencipta baik dosa maupun penderitaan. KekudusanNya justru tidak mengijinkan dan membiarkan adanya dosa. Dia tidak bersukacita atas penderitaan kita, justru memilih mati untuk menanggung semua itu untuk kita. Agar mengembalikan kita ke dalam posisi sebagaimana kita diciptakan, anak-anakNya yang kudus seperti Dia.

Sehingga yang diperbuatNya bukanlah mengakibatkan penderitaan lahir, menjadi sumber dari penderitaan kita. Melainkan justru menggunakan penderitaan itu untuk membawa kita kembali kepadaNya. Disitulah kuasa dosa dan maut dikalahkan dengan telak oleh kasihNya, karena Ia mampu membawa kita menang bukan karena kartu-kartu kita bagus, tetapi bahkan lewat kartu-kartu yang terjelekpun Ia sanggup memampukan kita untuk menang. Disitulah luar biasanya Tuhan!

“But in all these things, we overwhelmingly conquer through Him who loved us.”
Romans 8:37 NASB

Terjemahan lain (NIV, LAI) mengatakan bahwa kita “more than conqueror” dalam pertempuran kita dengan penderitaan dan dosa. Saya sering bertanya seperti apakah kiranya menjadi lebih daripada pemenang (atau harafiahnya penakluk), bukankah pemenang itu adalah segala-galanya? Saya kemudian teringat bahwa pemenang ada yang bisa menang karena memang kemampuan dirinya yang sangat memadai sehingga memang pantas untuk memenangkan suatu pertempuran. Tetapi kita sebetulnya bukan menang karena kita pantas, karena kita mampu, karena kita bisa. Tapi karena kita dimampukan, dibuat pantas, kita dijadikan pemenang, lewat Dia yang mengasihi kita. Itulah pemenang yang lebih daripada pemenang.

Satu hal terindah yang saya rasakan Tuhan perbuat melalui kesulitan-kesulitan yang saya alami adalah dengan begitu murah hatinya Tuhan mengijinkan saya mengalami kemenangan dari semua itu, merasakan menjadi seorang yang menang. Bahkan dengan cara yang luar biasa. Overwhelmingly! Hingga saya pun tercengang saat melewati semua itu. Bagaimana mungkin saya bisa melalui masa-masa itu? Satu jawabannya.

“When you pass through the waters, I will be with you; and through the rivers, they will not overflow you. When you walk through the fire, you will not be scorched, nor will the flame burn you. For I am the LORD your God, the Holy One of Israel, your Saviour; I have given Egypt as your ransom, Cush and Seba in your place. Since youa re precious in My sight, since you are honored and I love you, I will give other men in exchange for your life. Do not fear, for I am with you; I will bring your offspring from the east, and gather you from the west.”
Isaiah 43:2-5 NASB

Because He is with us, all the way.

Come What May!
Kalau kita tahu bahwa kartu yang kita miliki dalam permainan jelek, kalau kita tahu bahwa Allah mampu bekerja membawa kebaikan lewat kartu yang jelek itu, maka kita pasti tahu bahwa saat kebaikan itu tiba, kejelekan kartu itu sudah tidak lagi menjadi masalah. Bukan soal kartu yang kita miliki itu jelek atau baik, melainkan dengan kartu yang jelek itu kita dimampukan memperoleh kartu-kartu yang baik.

Ingat Joseph yang kartu-kartunya begitu jelek. Tuhan tidak menggantinya. Saya coba bayangkan apa “tumit Achilles” Joseph, apa yang membuat dia jadi putus asa. Terus-menerus jadi orang yang dipersalahkan untuk kebenaran yang dia nyatakan? Apakah rasa sakit karena seolah dipermainkan Tuhan dengan permainan “give and take away” yang berulang-ulang? Apakah karena tunnel gelap yang dilalui tak juga berakhir meskipun sudah begitu banyak pelajaran berharga yang dia dapatkan? Tetapi Alkitab tidak pernah mencatat itu. Karena itu tidak penting. Tidak sepenting daripada menyatakan apa yang lahir dari jalan buntu di hidup Joseph, apa yang mampu Allah lakukan lewat kartu-kartu jeleknya. Dan saya percaya waktu Joseph menoleh ke hari-hari sebelumnya dimana dia mungkin pernah berseru apa yang Tuhan mau kerjakan lewat kartu-kartu jeleknya, ia akan dimampukan untuk melihat bahwa bahkan pada saat ia tengah berteriak itu, Tuhan justru tengah membawa dia menjadi pemenang dalam pertempuran hidupnya.

Apa yang terlihat di awal tunnel gelap tempatmu kini berada tidak bisa kau jadikan patokan atau ukuran akan keadaan di ujung tunnel sana. Satu hal yang pasti, tunnel itu punya satu ujung lain selain dari ujung tempat perjalananmu berawal. Di dalam kegelapanlah engkau justru dilatih menjadi lebih kuat, lewat berbagai keterbatasan yang kegelapan hadirkan. Waktu dulu di kelompok pecinta alam, ada satu perlombaan tahunan mendaki gunung Gede yang kami coba ikuti. Ada satu kelompok yang tampil luar biasa. Mereka bukan mendaki saat perlombaan dimulai, mereka berlari hingga puncak tercapai. Tahu apa yang mereka lakukan saat berlatih? Mereka latihan berlari di pasir dengan kedua belah kaki dibebani. Mereka menang karena latihan Spartan itu. Seperti itulah kegelapan melatihmu dan memampukanmu menjadi lebih dari seorang pemenang.

Di ujung tunnel nanti kau mungkin akan berhadapan dengan gelap yang sama. Kitab Kejadian mencatat, “While the earth remains, seedtime and harvest, and cold and heat, and summer and winter, and day and night shall not cease (Genesis 8:22 NASB)”. Pagi dan malam saling bergantian selama dunia ini masih ada. Tapi tidak ada tahu kapan harimu akan menjadi terang setelah gelap begitu lama.

Tapi ini yang akan kau mengerti. Tidaklah penting pagi dan terang itu selama Dia selalu dekatmu. Semua yang hadir dalam hidupmu hanyalah untuk semakin membawamu kembali kepadaNya. Menjadi serupa denganNya. Dalam topangan kasihNya tidak ada apapun yang sanggup menggoncangkan hidupmu hingga hancur. Justru itu semua akan semakin membuatmu kuat dan berlari terus hingga pertandinganmu selesai.

Kartumu jelekkah kini? Wait for the Lord. Be rest assured. For He will bring them for a glorious end…!

Continue?

Monday, June 11, 2007

Menikmati Allah

Baru-baru ini saya membaca sebuah artikel di salah satu tabloid Malaysia (PEOPLE, Sunday, June 3, 2007) tentang seorang biarawan Budha bernama Tsem Tulku Rinpoche. Tsem Rinpoche, 41, saat ini berjabat resident lama (teacher) dan spiritual director untuk Kechara House Dharma di Petaling Jaya. Awalnya saya melewatkan artikel tersebut karena gambar yang ditampilkan di halaman depannya adalah gambar seorang pemuda berpose bak bintang film atau model. Ah satu lagi halaman gosip... Kedua kalinya membuka halaman yang sama barulah saya melihat judul featured article tersebut "Model monk" dan ringkasan singkat artikel "Meet Tsem Tulku Rinpoche who is a living proof that modern life is compatible with monkhood." It caught my attention, then, karena saya baru menyadari bahwa monk yang satu ini tidaklah dicukur habis rambutnya (satu foto lain dipasang berdampingan menunjukkan Tsem Rinpoche dalam pakaian biarawannya lengkap dengan setiap helai rambut di kepalanya!).


Semakin saya baca artikel ini semakin menarik isinya. Sedikit tentang Tsem Rinpoche sendiri, ia pun merupakan suatu kontroversi tersendiri di kalangan komunitas Buddha. Selain karena penampilannya yang melanggar ketetapan seorang biarawan Buddha, ajaran-ajarannya pun banyak dijadikan perdebatan karena berlawanan dengan yang dipraktekkan oleh tradisi Mahayana dan Theravaden di sana.

Yang menarik kehadirannya tetap diterima bahkan oleh guru-gurunya sendiri. Satu komentar yang pro pada pendapat Tsem Rinpoche dilontarkan gurunya Gangchen Rinpoche sebagai berikut, "The way a guru acts, talks, dresses is to fit in with everybody here so that we can learn dharma, practise and laugh together. Even if the great Shakyamuni Buddha appeared today, he wouldn't appear in his normal guise (but in) the look that pleases people today."

Biarawan yang satu ini pernah menjadi dan menerima berbagai tawaran sebagai runway model di USA, suka pergi clubbing ke hottest clubs in Los Angeles bahkan diajak berakting lewat Paramount Pictures. Sangat berbeda dengan apa yang ada di benak kita tentang kehidupan seorang biarawan Budha. Saya coba kutip kalimat-kalimatnya yang menarik menurut saya:

"Look! Do I look holy? Do I look disciplined? Do I look like a 'high holy Tibetan lama'? No! I am you; I think like you and have the same problems as you."

" If you like to eat, then eat! If you like having sex, then just have it! If you like nice clothes and jewellery, buy and wear them! I want the freaks, the people who can be themselves. Live with the motivation if being kind, change your minds, but also play computer games, have sex, party. What's wrong with that? We're not Buddhas yet. The most important is to keep your motivation good, clean and straight."

Whoaaa.... now he really got my attention...! Hingga artikel dua halaman penuh itu selesai dibaca saya cukup masih tercengang-cengang hingga beberapa saat. Dan yang paling menyentak di hati saya adalah luar biasanya seseorang yang tidak mengenal Kristus sebagai Juruselamatnya bisa terlihat lebih memahami tentang berbagai ajaran Kristus dalam konteks tertentu dibandingkan saya yang mengklaim diri sebagai orang Kristen. Saya tidak ingin berdebat tentang motivasi dan ajaran-ajaran Tsem Rinpoche disini meskipun kalau ada kesempatan untuk melakukannya, akan banyak sekali hal-hal menarik yang bisa kita temui disini. Tetapi sebagai akibat membaca artikel tersebut saya semakin memikirkan arti "ENJOYING GOD"....

Pertemuan dengan arti Menikmati Allah
Tujuan hidup manusia sebagaimana yang dipaparkan dalam Westminster Catechism - Man's chief end is to glorify God and to enjoy Him for ever. Hm... kalau itu saya sudah tahu bahkan cukup hafal dengan kalimat tersebut. Kebetulan kala itu ada seorang pengajar (Ev. Ronald Oroh) yang terus memperkenalkan kepada kami tentang arti "Menikmati Allah" telah membuat saya sadar betapa belum mengertinya saya sebetulnya akan arti "Menikmati Allah".

Sebagaimana yang dibahas di dalam kelas, sebagai orang Kristen masa kini kita seolah tertarik ke dua kutub yang berbeda antara Teologi Sukses dengan Teologi Penderitaan/Salib. Kita terpecah antara menjadikan dunia ini sebagai surga dengan mengejar berbagai materi yang berlimpah bahkan menjadikan Tuhan sebagai budak kita untuk mengabulkan tuntutan-tuntutan kita dengan mengabaikan segala keindahan yang diberikan Tuhan dengan berusaha tidak mengingini kelimpahan dalam ciptaan-ciptaan Tuhan dan hanya bisa menikmatinya saat Kristus sudah membawa kita pulang.

Tapi bukankah Alkitab berbicara mengenai kedua hal tersebut tanpa mengabaikan satu dengan lainnya? Disinilah saya mulai mengerti bahwa Teologi Kenikmatan sesungguhnya lebih realistis dibandingkan dengan kedua yang lainnya. Ini bukan memilih status quo ataupun memilih titik tengah pendulum. Tetapi ini adalah kenyataan tentang bagaimana kita seharusnya hidup di hadapan Allah. Sebagai pengikutNya Kristus tidak pernah bermaksud menjadikan kita orang yang selalu penuh airmata dan mengabaikan dunia ciptaan yang diciptakanNya untuk kita kuasai. Dan Kristus tentu saja tidak akan mengabulkan permohonan kita untuk terus mencapai kepuasan-kepuasan tertinggi dari ciptaan-ciptaanNya itu mulai harta, pasangan, kedudukan bahkan kenikmatan dalam pelayanan-pelayanan kita sekalipun yang seolah akan memuliakan namaNya.

Perkenalan dengan arti Menikmati Allah
Tuhan kita adalah Tuhan yang sungguh luar biasa mengerti hal-hal apa yang diperlukan setiap anak-anaknya di dalam hidup ini. Karena tidak ada satupun orang yang sama, sehingga begitu luar biasa bukan kalau Tuhan bisa hafal, bukan cuma hafal tapi betul-betul tahu mana yang harus diberikan untuk anak yang satu dan mana untuk anak yang lain.

Dalam perjalanan awal saya mengerti "Menikmati Allah" Tuhan memberikan prakteknya langsung pada saya. Yaitu dengan mengajarkan bahwa menikmati Allah tidak sama dengan menikmati berkat Allah. Seringkali kita hanya bisa berkata hidup kita sangat indah kala berkat-berkat Tuhan seolah dicurahkan atas kita. Problem-free life. Not all of course, but quite a problem-free life. Sikit-sikit masalah tak apalah, kan berlalu jua satu demi satu, datang pun bergantian bukan? Tapi yang Tuhan lakukan adalah melemparkan saya langsung ke dalam situasi dimana hal-hal yang paling tidak saya ingini, yang paling menghancurkan saya, yang paling saya takuti terjadi sekaligus dalam hidup saya kala itu. Dan salah satu pertanyaan yang terus bergema di jiwa saya adalah, "Apa artinya kini menikmati Tuhan?"

"The LORD gave and the LORD has taken away. Blessed be the name of the LORD
Job 1:21b NASB

Saya mengamati Ayub yang di masa shock terberat dalam hidupnya masih mengatakan kalimat di atas. Itu ayat yang sangat akrab di telinga dan jiwa saya, tetapi saya melihat bahwa Ayub saat mengatakan hal tersebut sesungguhnya bukan hanya berbicara mengenai bertahan di dalam penderitaan tetapi juga bersukacita yang digambarkan dengan kata-kata luar biasa "Blessed be the name of the LORD". Tapi sukacita macam apa sebetulnya yang dialami Ayub kala itu? Bukankah semua yang dianggap berkat-berkat Tuhan diambil tak tersisa kecuali jiwanya?

Saat saya membaca kitab Pengkhotbah, semakin saya terheran-heran karena ternyata Tuhan tak habis-habisnya menolong kita untuk mengerti apa artinya menikmati Dia. Yaitu bukan dengan melalui hal-hal yang seringkali kita anggap sebagai berkat-berkatNya. Sebut saja elemen apapun yang kita sering anggap sebagai berkat Allah, semua itu digambarkan oleh Pengkhotbah sebagai hal yang hanya sekejap saja akan berlalu sehingga sia-sialah kita menggantungkan kesukacitaan kita pada semua itu. Bahkan kalau di Amsal kita membaca bagaimana "wisdom" menjadi sesuatu yang harusnya diharapkan untuk kita peroleh, Pengkhotbah yang notabene adalah orang yang paling bijaksana yang pernah hidup (1 Kings 3:12 NASB) ternyata tidak menganggap kebijaksanaannya sebagai hal yang lebih baik dibandingkan kebodohan (Eccl. 2:14-15 NASB).

Buat saya ini berarti "Menikmati Allah" betul-betul tidaklah sama dengan menikmati berkat-berkat Allah. Berkat-berkat itu bisa hilang, tetapi tidak menghilangkan sukacita dan ucapan syukur di hati saya. Kala itu saya menyadari bahwa sesungguhnya tetap ada lebih banyak berkat-berkat yang sudah Tuhan beri dibandingkan dengan yang tidak/belum Tuhan beri. Bahkan definisi berkat pun menjadi terdefinisi ulang buat saya. Saat saya terus bersyukur dan merasa puas dengan apapun yang hadir dalam hidup saya, Tuhan bahkan memampukan saya melihat berkat-berkatNya yang terbungkus lewat kesulitan dan kedukacitaan yang saya alami.

Perjalanan untuk Menikmati Allah
Pdt. Yohan Candawasa dalam salah satu khotbahnya yang bernuasa canda di perayaan Paskah yang baru lewat memberikan ilustrasi sederhana tentang arti menikmati Allah. Andaikan sepasang kekasih yang terpisah jauh dan tidak bisa saling bertemu untuk beberapa waktu. Saat berkomunikasi mereka tentu saling menyatakan rasa cinta mereka baik itu lewat perkataan dan biasanya juga pemberian-pemberian barang. Pak Yohan bercerita tentang pengalamannya sendiri menjalin kisah dengan seorang wanita yang sekarang sudah menjadi istrinya dimana selama enam tahun mereka terpisah jarak yang terjembatani lewat surat-surat yang dikirimkan dengan setia termasuk juga barang-barang yang diberikan oleh sang kekasihnya. Termasuk di dalamnya sepasang sepatu yang harganya terhitung cukup mahal untuk ukuran kantong si pemberi. Pertanyaan yang dilontarkan Pak Yohan berikutnya, "Apakah saya kemudian akan jatuh cinta dengan pemberian-pemberian tersebut (termasuk kepada si sepatu) dan tidak lagi mencintai kekasih saya?"

Grrr... kami semua terbahak-bahak. Tentu tidak. Seindah apapun pemberian-pemberiannya, kita tidaklah seharusnya jadi lebih mencintai pemberian-pemberian itu dibandingkan dengan cinta kita kepada sang pemberi (i.e. si sepatu, hahaha!). Dengan pengalaman kita sendiri masing-masing, kita semua juga tahu bahwa setiap pemberian yang dipersembahkan kekasih kita dengan penuh cinta akan semakin membuat kita memahami besarnya cinta kekasih kita dan membuat kita pun semakin mencintainya. Pemberian-pemberian itu hanyalah alat, bukan tempat curahan kasih kita. Tentu kita akan merawat baik-baik pemberian itu, menjaganya dengan hati-hati dan sangat menghargainya. Tetapi pernahkah kita lebih mencintai sebuah ungkapan hati, permata, apartemen, dll. lebih daripada cinta kita kepada sang kekasih yang memberikannya? Kalau ya, dia bukan kekasih kita lagi bukan? Ganti saja dengan sepasang sepatu itu misalnya... =p

Kembali kepada arti Menikmati Allah setelah analogi yang di atas, kalau begitu apa gunanya berkat-berkat yang Tuhan berikan kalau kemudian membuat saya lebih mendambakan berkat-berkat itu dibandingkan dengan terpautnya hati saya kepada Tuhan? Karena segala yang indah itu justru menyelewengkan hati saya dari Tuhan. Itu adalah salah satu pertanyaan-pertanyaan yang terus berputar di benak saya kala itu. Kalau begitu lebih baik kita semua hidup seperti para biarawan yang mematikan segala keinginan yang ada dalam diri mereka bukan? Kalau jawaban saya adalah YA, maka saya sungguh-sungguh harus belajar pada Tsem Rinpoche karena dia ternyata lebih bisa menghargai berkat-berkat umum (common grace) yang dicurahkan Tuhan dibandingkan saya yang sudah menerima anugerah keselamatan yang khusus dari Tuhan (special grace).

"For I am convinced that neither death, nor life, nor angels, nor principalities, nor things present, nor things to come, nor powers, nor height, nor depth, nor any other created thing, will be able to separate us from the love of God, which is in Christ Jesus our Lord."
Romans 8:38-39 NASB

Analogi sederhana Pak Yohan di atas sudah cukup memberikan jawaban buat saya tentang menikmati Allah. Saya pun menikmati pemberian-pemberian Allah seperti Tsem Rinpoche. Saya pun menghargai dan sangat menjaga segala hal yang Tuhan hadirkan dalam hidup saya (materi, orang-orang terkasih, bakat, segala macam keindahan diri, dll.). Tapi semua itu membuat saya semakin menyadari betapa cintaNya Kristus kepada saya.

Tidak ada sesuatu hal pun yang sebetulnya akan bisa memisahkan kita dari kasih Tuhan. Tetapi hanya karena anugerahNya-lah kita dimampukan mengerti semua itu. Rasul Paulus membuat satu daftar panjang akan berbagai hal yang tidak akan pernah bisa memisahkan kita dari kasih Allah melalui Kristus pada kita. Perhatikan daftar itu. Kalau saya boleh asumsikan, bukan hanya hal yang berkonotasi negatif saja yang disebutkan (death), tetapi termasuk juga yang positif (life). Sehingga segala hal apapun termasuk berkat-berkat yang kita terima tidak seharusnya memisahkan kita dari Allah melainkan semakin melekatkan. Penderitaan, kesukaan, kehilangan, mendapatkan, airmata, tawa, dll. semua akan membawa kita menikmati Allah. Mengenal cintaNya. Mengalami cintaNya. MenikmatiNya.

Do you want to join me in my journey for experiencing enjoying God? Come, take His hands and walk with Him...

See also these sites: Desiring God, Teologi Kenikmatan

Continue?