Showing posts with label Eternity. Show all posts
Showing posts with label Eternity. Show all posts

Monday, March 03, 2008

Hurry Sickness

by Joanie Yoder, October 25, 2007, ODB

"Hurry up!" "We're late!" "You're too slow!" How often do impatient words crop up in our speech, revealing our fast-paced life? If we're not careful, we become people living in the fast lane, demanding quick arrivals and instant results. Stress experts call this "hurry sickness".

In Philippians 3, the apostle Paul's testimony of lifelong growth reminds us that Christian maturity can be encouraged but not hurried. In this book Overcomers Through the Cross, Paul Billheimer says that just as God takes time to make an oak tree, He takes time to make a saint. Christian growth is a life-long process.

Billheimer writes, "An unripe apple is not fit to eat, but we should not therefore condemn it. It is not yet ready for eating because God is not done making it. It is a phase of its career and good in its place."

Are you feeling impatient over your spiritual growth? Remember, God is not finished with you, nor does He expect to be until He calls you home. Make sure that your goal is to know Christ and to become more like Him. Then slowly but surely, under blue skies and stormy, He will bring you to maturity. It's His sure cure for the "hurry sickness."

Continue?

Saturday, January 12, 2008

Joni Eareckson Tada (A Gift to Myself)



Aku tidak ingat siapa namanya waktu pertanyaan “Name three persons you would invite to your dream dinner” muncul di session ice-breaking workshop kali ini. Pertanyaan yang awalnya kujawab mantap “My dad, my mom, my sibling and my future husband”. Tapi karena dream dinner dengan mereka sudah menjadi a dream come true, jadilah Mr. John Calvin, Mr. Adolf Hitler dan dia whose-name-I-cannot-recall masuk daftar Top Three-ku saat itu.


Aku belum juga ingat siapa namanya saat terseok-seok dari lorong ke lorong membawa keranjang berisi sedikitnya selusin buku masing-masing setebal minimal dua sentimeter buah pikiran C.S Lewis, John Piper, R.C. Sproul, Philip Yancey, Gordon MacDonald plus dua bible study yang ketebalannya bisa membinasakan orang yang tercium mesra olehnya. Meskipun tubuh mungil ini (mungil?!) tertatih-tatih menyeret keranjang di sepanjang Christian book warehouse yang jumlah bukunya membuatku terpana sesaat setelah masuk, aku tidak mau menyerah hingga berhasil mengingat namanya. Sayangnya benar kata orang “lupa bertanya sesat mencari”.

Akhirnya setelah berhadapan dengan kenyataan akan anggaran yang terbatas dan waktu boarding yang semakin dekat, dengan enggan aku melaju menuju tempat kasir hanya untuk tersandung setumpukan buku berjudul “Heaven: Your Real Home” by Joni Eareckson Tada. Yipeee!!! Sejenak aku lupa dengan soal anggaran dan boarding itu. Mengandalkan kemampuan matematikaku yang terbatas aku menghitung-hitung buku mana yang akan kubeli. Jadilah Heaven: Your Real Home pilihanku yang pertama, sebagai persiapan untuk masa depan. Persiapan untuk bertemu dengan Dia yang digambarkan Joni dalam bukunya yang berikutnya kupilih The God I Love.

Berjuang kembali ke negeri tercinta ini setelah re-timed hingga lima jam, di tengah malam yang berangin dingin itu aku menunggu antrian taksi yang tak kunjung tiba dengan satu perasaan tenang dan hangat oleh sukacita mengingat kisah indah yang segera akan aku nikmati. Joni’s The God I Love adalah salah satu buku pertama yang aku buka dan aku terpana... Membaca kisahnya memaksa aku yang tidak mahir multi-tasking ini harus pandai-pandai membaca sambil membuka Bible sambil merenung, sambil berdoa sekaligus menghapus airmata dan tertawa (uhm… dalam bahasa Mandarinnyage i el a atau si ar e zet wai?).

Kisahnya indah tapi mungkin bukan seperti yang aku dan kau bayangkan pada awalnya. Kalau kau mencari gambaran seorang gadis muda yang tangguh meskipun lumpuh dari leher ke bawah (quadriplegic) karena diving accident, kau salah pilih buku. Kalau kau mencari gambaran pahlawan iman yang dengan gagah berani menghadapi berbagai situasi sulit dan tetap percaya pada Tuhan, lebih baik kau baca saja buku lain.

Karena di sini kau akan berhadapan dengan kisah “ketidaktangguhan” seorang anak Tuhan dalam menjalani hidupnya. Kelemahan demi kelemahannya dipaparkan dengan tulus dan terbuka. Joni dengan jujur akan bercerita padamu berbagai kesalahan yang dia perbuat sepanjang hidupnya dan bagaimana Tuhan dalam belas kasihnya menebus semua itu untuknya. Tidak, ini bukan buku yang aman untuk orang yang mencari therapeutic healing, kau akan kecewa. Kau cari saja buku yang lain. Tetapi… kalau kau ingin mengenal lebih jauh siapa Tuhanmu, mari ikuti aku membacanya. Untuk kali ini, ijinkan aku bercerita lebih dahulu kepadamu…

The God she loves, allows us to taste what hell is like…
Terbaring terikat pada Stryker frame selama beberapa bulan pertama, di bawah pengaruh obat bius dosis tinggi yang menimbulkan halusinasi menyeramkan, menjadikan kebas (numb) sebagai emosi yang terakrab. Sehingga bahkan kengerian akan kuku tangannya yang harus dicabuti satu-persatu akibat infeksi, tidak ada bandingannya dengan kebas perasaannya saat menanti Tuhan melawatnya di kolam Bethesda. Tidak ada malam segelap itu, saat Tuhan dirasa membisu dan membiarkan jiwanya terbunuh. That was the taste of hell, that was the real suffering...

Tetapi Tuhan tidak pernah membiarkan the taste of hell menjadi realita kita. Tidak akan pernah. Pada satu malam yang tak tertahankan Tuhan mengirim seorang sahabatnya mengendap-endap menyelinap memasuki kamar Joni setelah suasana di rumah sakit senyap. Seorang sahabat yang kemudian sepanjang malam berbaring di sampingnya, tanpa kata-kata memegangi tangan Joni yang sudah mati rasa. Menjawab keluhan Joni, “Jacque, it’s been so hard. So scary. I’m afraid,” hanya dengan menyanyikan lembut Man of Sorrows! What a name; For the Son of God who came; Ruined sinners to reclaim; Hallelujah! What a Saviour!

Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu sejak kecelakaan itu terjadi, Joni tahu bahwa keberadaannya signifikan di dunia ini. For the very first time, it was okay. It was just... okay. Dengan lembut Tuhan terus mengingatkan, “I love you. Don’t worry. If I loved you enough to die for you, don’t you think My love is great enough to see you through this?”

Ya, neraka bukanlah pilihan bagi setiap anakNya. Itulah sebabnya neraka tidak pernah jadi realita meskipun dalam dunia yang jatuh dalam dosa seolah itulah kenyataannya. Tapi telah ada Dia yang turun jauh dari tempatNya untuk membawa kembali setiap anakNya yang merasa nerakalah pilihan hidup mereka.


The God she loves, creates marriage as a ministry for Him...
“I love you Joni,” young and handsome Ken Tada said.
“Well, you know what? I love you, too,” Joni replied. Ken continued, “It could work, you know. I’ve been watching Judy help you all these months, I know I can do the things she and others do for you.”
“You’re talking marriage?” Joni asked.
“Our life together... it could be a real ministry for the Lord,” Ken softly said.

Beberapa bulan kemudian Joni menambahkan nama Tada pada namanya. Joni Eareckson Tada. Aku tak ingin banyak berkisah tentang mereka. Kau dengarkan saja dulu rekaman video saat Ken Tada dihormati lewat pemberian McQuilkin Award bertahun kemudian setelah hari mereka saling berkata, “I do” ini (klik di sini). Itu saja sudah bercerita milyaran kata tentang indahnya melayani Tuhan lewat pernikahan kita. Aku kini hanya ingin memanggil seluruh wanita untuk belajar pada Ken Tada tentang apa artinya menjadi a godly woman worthy of one of His sons as their spouse.

Marriage as a ministry. Is that an alien concept for us or is it already what you believe it should be and striving hard to do? John Piper pernah menyinggung hal ini dalam salah satu artikelnya Let Us Go With Jesus Bearing Reproach. Dan dalam Brothers We Are Not Professionals dia menyebutkan, “God made man to be a sharer. God created us not to be cul-de-sacs of His bounty conduits. No man is complete unless he is conducting grace (like electricity) between God and another person.” I can’t agree more with him. To minister God through the ministry to others. To be sharers of God's grace for one another.


The God she loves, loves to teach us through children...
Pernikahan Ken dan Joni yang indah bukannya tanpa pergumulan dan air mata. Meskipun quadriplegia tidak merenggut kemampuan Joni untuk mempunyai anak, tetapi Tuhan dalam kedaulatanNya memberi kisah lain untuk dijalani. Dalam kepedihan hatinya di masa-masa awal berhadapan dengan kenyataan akan tiadanya anak dalam perkawinan mereka, Tuhan mengirimkan berbagai anak tiba padanya. Bukan sembarang anak, tetapi mereka yang fisiknya tidak sempurna. Tuhan membuka hati Ken dan Joni untuk mencintai mereka semua. Hati yang awalnya hanya mampu mencintai beberapa anak, diperluasNya sehingga mampu mencintai ribuan anak.

“We may not be able to have our own children, but we have the children all around the world. Yes, disabled children.” Dan melalui anak-anak ini Joni dibuat terkagum-kagum akan kemampuan anak-anak menghadapi kesulitan-kesulitan hidup mereka. Joni will tell us this, “Through a sweet little child I’ve learnt about true wisdom. It’s found not in being able to figure out why God allows tragedies to happen. True wisdom is found in trusting God when you can’t figure things out.”

Dan itu bukan pelajaran yang pertama. Kelly, keponakannya berusia enam tahun didiagnosa menderita tumor otak dan hanya bisa hidup sebulan lagi. Seluruh keluarga termasuk Joni berusaha mempersiapkan Kelly pulang ke surga. Tetapi Tuhan membalikkan peran. Yang hendak menghibur menjadi yang dihibur. Yang ingin menguatkan menjadi yang dikuatkan.


The God she loves is not “safe”...
Pada chapter 26 mendekati akhir buku, Joni dikisahkan kembali mengalami masalah medis yang menguncangkan kembali kehidupannya. Masalah myo-fascia yang selama beberapa saat tidak bisa didiagnosa membuat hidupnya yang ceria menjadi kehilangan harapan saat berhadapan dengan nyeri yang rasanya tak tertahankan. Aku sempat terpana membacanya. Orang yang sudah mengalami begitu banyak kesulitan luar biasa dan dimampukan Tuhan melewati semuanya, mengapa masih bisa kehilangan harapan?

Ini adalah wanita yang berkata, “Suffering is like a sheepdog that snaps at your heels and keeps driving you toward the Shepherd,” and she meant it. Ini adalah wanita yang berkata, “I want you all to know my accident was no accident at all,” saat melukiskan Kedaulatan Allah yang selama ini selalu mengiluminasikan hidupnya.

Tetapi wanita yang sama ini kemudian pada satu malam kelam tak mampu lagi berdoa dan hanya melitanikan nama Yesus tiada henti seperti aku bertahun yang silam, “Jesus, Jesus, Jesus.” Hanya hatinya yang mampu berkata, “I want to trust the Father with this, but he’s so... so sovereign. And that’s scary. I’m afraid to trust him. I can’t. I can’t.” Kedaulatan Allah tidak pernah begitu menakutkan seperti saat itu.

Joni bertutur tentang tentang kecelakaannya, “And miracle of miracles, I was making it. Years were passing, and I was maintaining my balance, cultivating patience and endurance, and watching things fit together for good. No longer. Mind-bending pain had begun to jiggle the wire, and I’d lost sight of God at the far end.”

Tuhan tidak akan membiarkan anak-anakNya menjadi nyaman dengan dunia ini karena ini bukan rumah mereka. Ia akan menggoncangkan sarang-sarang palsu yang nyaman itu untuk mengajarkan bahwa mendapatkan Dia berarti kehilangan segalanya. Tidak ada aman, selain bersamaNya. Tidak ada sukacita, selain di dalam anugerahNya. Tidak ada yang berharga selain diriNya. Hanya lewat perspektif kekekalanlah kita akan mengerti betapa Tuhan yang “tidak aman” ini sesungguhnya telah mengamankan perjalanan kita hingga nanti tiba di surga. Mencelikkan mata tentang apa yang sesungguhnya berharga.

Jika matamu telah terbuka maka kau akan mengerti hidup ini bukan seperti dalam putaran roda. Sebentar di atas, sebentar di bawah. Saat kau rasa di bawah mungkin sekali kau justru tengah dengan luar biasa dibentukNya sehingga semakin menyerupai AnakNya. Kalau begitu, ini bukan lagi urusan hidup enak-susah karena bukan itu tujuannya, bukan itu yang jadi fokus hidupmu. Melainkan mendapatkanNya, dipuaskan hanya karena Dia dan hidup bagiNya. We’re not safe in this world and it is okay because we’re always safe in Him as He has already saved us.


Whoops... tak bakal habis aku berkisah tentang the God Joni loves. But this I should be sure of, the God Joni loves is the God who loves me. I can never be confident in my love for Him, but I can always be confident of His love for me. A dream dinner comes true? Hm... I know whom I will invite for the next time. Only one. That is God the Father, God the Son and God the Holy Spirit... What a dinner it would be!

Next journey: A Resilient Life - Gordon MacDonald... = )

Continue?

Tuesday, September 18, 2007

For Better or Worse...

“For better or worse, for richer or poorer, in sickness or in health, to love and to cherish, till death do us part…”

Marriage. Satu kata dengan jutaan arti. Jutaan rasa. Jutaan kisah. Marriage. Lihat saja tagline satu perusahaan rokok terkenal, kau pasti tahu yang mana. Waktu aku iseng coba meng-google tagline itu, hasilnya… luar biasa! Entah berapa topik terjaring! Padahal dua kata itu dalam bahasa Indonesia, bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau dalam international languages! Maka, demi menghindari agar post ini tidak masuk dalam Google search untuk tagline itu, sengaja aku tidak cantumkan dua kata ampuh tersebut. Ampuh untuk mempopulerkan blog/post maksudnya!


Kapan vs Kenapa
Tagline rokok itu jelas salah alamat. Yang harusnya ditanyakan bukannya “kapan”, melainkan “kenapa”. Kenapa menikah. Apalagi sebagai mahluk yang punya awal tapi tidak punya akhir di dalam kekekalan nanti, bukankah nuansa kapan itu hanya berlaku saat ini saja, tapi tidak nanti? Kenapa, jelas lebih penting daripada kapan dalam konteks ini.

Pernahkah kau terusik melihat kegelisahan milyaran pria dan wanita lajang dalam kesendirian mereka, gelisah yang memikat mereka memasuki pernikahan karena dikejar “kapan” dan melupakan “kenapa”? Pernahkah kau terusik melihat indahnya pelukisan arti pernikahan hanya untuk kemudian menyaksikan dan mengalami sendiri bagaimana semua lukisan itu terobek-robek tanpa belas kasihan?

“For when they rise from the dead, they neither marry nor are given in marriage, but are like angels in heaven.”
Mark 12:25 NASB

Sebelum menuju ke salah satu bagian yang mungkin paling sering dibuka mengenai marriage di Ephesians, aku jadi berpikir soal “kenapa” tadi dalam kaitannya dengan ayat di atas. Kalau dalam kekekalan nanti pernikahan tidak akan ada lagi dan kita semua saling berelasi satu sama lain dengan jauh lebih indah (sampe ngga kebayang sekarang, apalagi kalo liat perpecahan relasi dimana-mana!), kenapa marriage seolah (ngga seolah juga deh, memang bener begitu!) menjadi salah satu hal paling dikejar dalam hidup ini? Bukankah lebih baik remain unmarry? Karena dengan demikian kita tidak mengejar sesuatu yang tidak kekal artinya bukan? Kalau begitu apakah marriage sebetulnya insignifikan?

Manusia vs Binatang
Aku baca kitab Kejadian dan jadi berpikir, kenapa Tuhan harus mengikat seorang pria dan wanita dalam pernikahan? Apakah karena untuk fill the earth dan dua lebih baik daripada satu? Tetapi bukankah binatang-binatang juga demikian, fill the earth dan saling berpasangan? Kalau begitu, kenapa ikatan diantara mereka tidak dibentuk Tuhan seperti pernikahan pada manusia? Betul, manusia adalah mahluk yang paling tinggi derajatnya karena diciptakan sesuai dengan image Allah Tritunggal. Tetapi apakah itu berarti bahwa dengan demikian binatang tidak perlu menikah sedangkan manusia harus menikah? Apakah dengan menikah berarti membuat kita lebih tinggi derajatnya daripada binatang?

Kalau jawabannya ya, entah mengapa terasa agak aneh, karena banyak dari kita yang berlaku lebih buruk daripada binatang dalam pernikahan, contoh saja beberapa jenis binatang betul-betul setia sampai mati pada pasangannya, bandingkan dengan manusia. Kalau jawabannya tidak, kalau begitu apa yang membedakan manusia dengan binatang dengan adanya pernikahan ini?

Man-his wife vs Christ-His church
Surat rasul Paulus kepada para jemaat di Efesus pasal 5 (lima) pastilah merupakah salah satu bagian yang paling sering dibacakan dalam pembahasan tentang marriage. Buatku, lewat bagian tulisan ini, Tuhan seolah memberikan konfirmasi lebih lanjut akan signifikansi pernikahan pada manusia.

Pernikahan memang signifikan karena Kristus sampai menyamakan relasi antara suami-istri dengan relasiNya dengan kita. Suatu relasi dimana Ia dengan rela turun dari surga mulia dan masuk dunia hina karena sudah jatuh dalam dosa ini demi untuk menyelamatkan kita dari keterpisahan kekal dariNya. Padahal relasi yang ada dalam Allah Tritunggal sudah begitu sempurna dan tidak membutuhkan manusia untuk membuat relasi itu jadi lebih sempurna, lebih mulia ataupun lebih bisa dinikmati. Tapi Kristus melakukan semua itu karena kasihNya pada kita dan kemudian memberitahukan kita bahwa seperti itulah seharusnya relasi dalam pernikahan antara suami-istri. Bagaimana mungkin kita berkata bahwa pernikahan tidak punya nilai signifikan meskipun dalam kekekalan nanti ikatan seperti itu tiada lagi?

Pernikahan diadakan Tuhan sebagai salah satu sarana untuk mempersiapkan kita, His bride, untuk memasuki hidup dalam kekekalan nanti. Lewat pernikahan akan banyak sisi tergelap dari seorang manusia tersingkap di hadapan pasangannya, seperti Terang Dunia yang dengan sinarNya menyingkap sisi tergelap dari jiwa mempelaiNya. Manusia dilatih to walk in the Light. Segala proses dan latihan yang perlu untuk mempersiapkan kita hidup dalam kekekalan nantinya akan kita alami salah satunya lewat pernikahan. Itulah sebabnya binatang tidak perlu diikat dalam pernikahan karena jiwa mereka tidak kekal. Tapi tidak demikian dengan kita…

Pernikahan anak-anak Tuhan akan menjadi refleksi akan relasi antara Tuhan dengan gerejaNya. Dunia ini akan melihat bagaimana para anak Tuhan bersaksi akan Sang Pencipta dalam relasiNya dengan ciptaanNya. Dunia ini akan menyaksikan bayangan kehidupan di dalam kekekalan nanti. Suatu bayang-bayang akan keindahan sejati yang sesungguhnya didamba setiap jiwa. Dunia ini akan menyaksikan bayangan akan kerajaan Allah yang akan terwujud nyata sempurna saat kedatangan Kristus nanti, sehingga biarlah setiap orang yang terhilang akan kembali kepada Dia lewat kesaksian ini.

Aku pernah berpikir dan meragu kenapa pernikahan harus penting, Bapa… Tapi kalau segala hal yang ada dalam hidupku (termasuk pernikahan) adalah untuk mempersiapkanku memasuki hidupku nanti, bertemu muka dengan muka denganMu, ajarlah aku menghargai pernikahanku karena hal itu sungguh berharga untukku, sebagai satu hadiah indah dariMu, meski badai dunia yang jatuh dalam dosa ini akan pula membayanginya…

“Until I see You face to face, and tell the story saved by Your grace…”

Continue?

Tuesday, August 28, 2007

What I Have Learnt at RWF

24 June 2007. My first day at RWF that continues until today. I still remember the lecture title that day “Stupid Mental Arithmetic”. Since then I have been attending the class without absence. That day marked the beginning of my journey in facing the Giants in my life. By the grace of the Lord, one by one the once so-called Giant in my life fell down. Most of them in unexpected way!

Through RWF I have learnt a lot, not from the lectures alone but also from the interactions between and the reactions from the attendees. These are some major lessons that I have learnt so far, may these serve as reminders as I continue this journey until the day when the Lord moves me to another walk…


The Labels
Berkata terang-terangan bahwa aku mengikuti kegiatan RWF secara rutin somehow terasa seperti menabuh genderang peperangan dengan beberapa kalangan dari gereja dimana aku terdaftar sebagai anggotanya sekarang. Aku mengawalinya dengan menghadapi tatapan-tatapan kurang bersahabat dan email-email kirimanku yang ditolak oleh milis pelayanan yang aku ikuti. Saat ini aku juga bersiap seandainya satu saat nanti aku dikeluarkan dari pelayanan yang saat ini Tuhan berikan padaku. Aku percaya segala sesuatunya berasal dari Tuhan. Datang perginya pun pasti seijin Tuhan. Tinggal kunikmati saja setiap ups and downs, terus menyerap apapun yang tengah Tuhan ajarkan.

Aku bukan pengikut asal-asalan. Semuanya kulakukan setelah lewat pergumulan panjang. Buatku sangat melelahkan kalau terus-menerus lebih memikirkan apa yang akan dicapkan orang atas tindakan-tindakanku daripada memikirkan apa yang Tuhan mau atau beri untuk aku lakukan sekarang. Aku tidak suka dicap pemberontak karena memang bukan itu tujuanku dengan terus ikut RWF, tapi aku tidak bisa melarang orang berpikir apapun tentangku, itu hak mereka. Sama seperti hak-ku untuk berpikir apapun tentang mereka. Sehingga aku belajar menerima label apapun yang mereka lekatkan, karena yang paling penting label apa yang sudah Tuhan berikan buatku dan mereka…

Berada di RWF somehow membuatku merasa seolah berada dalam gereja invisible-nya Tuhan. Persekutuan dari berbagai orang yang datang karena dibuat rindu akan kebenaran oleh Tuhan (apapun motivasinya), terasa seperti menggambarkan invisible church yang nanti akan dinyatakan dan digenapkan kehadirannya saat Kristus datang kembali. Aku semakin belajar untuk tidak mengkotak-kotakkan orang berdasarkan prasangka-prasangka awal yang aku miliki terhadap mereka. Belajar lebih punya open mind berhadapan dengan orang yang tidak aku kenal, jangan lekas-lekas melabelkan orang lain. Dan aku harus ingat bahwa kalau aku percaya setiap orang makin diubah agar semakin serupa dengan Kristus, maka sangat mungkin terjadi label yang pernah kulekatkan pada orang lain harus kuubah seiring dengan perubahan orang tersebut. Tidak ada label yang melekat selamanya selain label sebagai anak-anak Bapa di dalam Kristus!

Mengalah itu indah
Aku hanya heran, kenapa yang mengajarkan kebenaran jadi lebih diperlakukan sebagai lawan daripada yang terang-terangan memusuhi. Di tempat ini, banyak orang yang tahu kebenaran dengan begitu dalam sehingga akhirnya mulai bertindak seolah menjadi tangan Tuhan. Akibatnya, bukan hanya rumput dan ilalang yang dibasmi, tapi juga kawan sendiri! Ah Tuhan… akupun dulu begitu pula bukan? Kalau bukan karena hajaran (baca: ajaran!) dan jeweranMu entah sudah berapa banyak teman yang bakal hilang karenaku.

Tapi di diri pengajar RWF inilah aku melihat bahwa mengalah itu indah. Yang mendiskreditkan tanpa perlawanan hingga hari ini seolah masih terus kepanasan dengan dendam. Sementara yang didiskreditkan tanpa melawan justru semakin tenang terfokus dengan apa yang Tuhan sudah bebankan untuk dilakukan. Dengan satu kepasrahan sekaligus kesediaan untuk pergi kemanapun jalannya dipimpin Tuhan. Berdoa semoga Tuhan terus pimpin agar dia tetap seperti itu, semoga masih terus ditambahkan kasih karunia Tuhan kepadanya, karena tanpa itu, dia pasti tidak ada bedanya dengan orang yang mendiskreditkannya…

Same Old Disappointing Place
Tak juga kurang orang-orang yang datang ke RWF dengan kekecewaan yang didapat dari gerejaku. Macam-macam kekecewaan, macam-macam kekesalan yang tidak tersalurkan. Tapi disini aku jadi belajar. Orang yang kecewa dan kemudian hanya menyalahkan semua pihak tanpa introspeksi dirinya sendiri, akan terus menjadi orang yang kecewa tak habis-habisnya dimanapun dia berada. Every place will in the end turns to be that same old disappointing place!

Disini aku jadi belajar, apapun kesalahan pihak lain tidak menganulir kesalahanku sendiri. Dalam batas-batas tertentu aku sendiri yang harus bertanggung jawab atas kekecewaan yang aku alami. Aku sendiri yang harus memilih untuk menjadi pahit atau melihat ini sebagai pelajaran baik yang Tuhan beri. Sehingga bila tiba saatnya nanti aku mampu mengatasi semua kekecewaan itu dan melihat betapa indah jalan dan cara yang Tuhan beri untuk aku lalui.

Dengan kekuatan dan kasih yang dari Tuhan, aku menolak untuk menjadi sama dengan orang-orang yang terus-menerus kecewa di tempat dimanapun mereka berada. Aku memilih untuk bloom where I am planted, although it is a place of adversities. I believe God’s grace is beyond my every difficulty!

Nobody’s Perfect, Nothing’s Perfect
Memilih untuk pindah karena tak kuasa menghadapi kekurangan di tempat lama semoga tidak akan pernah jadi motivasiku. Karena aku percaya, sebaik apapun seseorang ataupun sesuatu tampaknya pada awalnya, semua itu punya potensi besar untuk mengecewakanku satu saat nanti. Karena tidak ada yang sempurna. Tidak ada yang tanpa salah. Tapi aku pindah karena memang sudah saatnya aku pergi. Aku pindah karena tempatku sudah bukan disitu lagi, saat ini. Dan aku bersedia kembali kapanpun Tuhan memimpin.

Disini aku belajar lebih dalam arti mencintai tanpa kondisi. Keadaan sulit bukanlah satu alasan untuk pergi. Justru diam dan olahlah semua kesulitan itu sehingga aku makin dewasa di dalamnya. Hingga saat ini masih terus kujalani setiap kegiatan di gerejaku. Justru dengan ketekunan yang semakin bertambah, dengan kesungguhan yang tidak kulihat sebelumnya. Dan juga, semoga dengan kebijakan lebih dalam di setiap langkah karena akan semakin banyak mata yang melihat apapun yang kulakukan.

Aku belajar di RWF, untuk semakin menggantungkan pengharapanku hanya di dalam Dia yang mencintaiku dalam hidup dan matiNya. Dan tahukah engkau apa yang terjadi, aku justru semakin jarang kecewa terhadap apapun yang terjadi. Jarang kecewa bukan karena semakin kurang berharap apa-apa lagi, tapi justru karena semakin punya pengharapan yang besar bahwa tidak selamanya keadaan akan terus menyusahkan begini. Aku belajar bahwa berharap adalah salah satu bagian terpenting dari hidupku. Masalahnya, hanya harapan yang di dalam Kristuslah yang tidak akan pernah mengecewakan.

Sehingga inilah pesanku, berharaplah engkau, kawan… Berharaplah dalam-dalam… Tapi bersiaplah untuk kecewa sedalam-dalamnya jika engkau berharap para mereka yang Dia ciptakan… Sehingga berharaplah dalam-dalam pada Dia yang tak pernah ingkar pada janjiNya, meskipun jalan-jalanNya mustahil kau pahami…

Di Surga Nanti
Di tengah pertikaian, seringkali aku terpikir, kenapa juga kita mesti begini, padahal satu saat nanti bertemu di surga, kita semua adalah saudara, saling mengasihi tanpa benci, saling memahami tanpa salah mengerti. Kenapa tidak kita mulai disini? Bukankah Kristus sudah menebus semua yang jatuh ke dalam dosa? Apakah kita harus saling menunggu untuk memulai mengasihi? Masih berapa lama lagi kita lari dari pembentukkan karakter Kristus dalam diri kita?

Selama setahun terakhir ini, Tuhan sering sekali mengajakku berpikir, seperti apa kita di surga nanti? Lucu sekali pastinya kalau bertemu dengan orang yang kita benci, akan tertawa gelikah aku menertawakan kekeraskepalaanku membencinya selama umur hidupku di dunia? Kalau sekarang menangisi terus-menerus nasib yang kukatakan buruk, akan terheran-herankah aku nantinya melihat bagaimana itu semua dijalin Tuhan menjadi gambar indah bukan hanya bagiku tapi juga bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya?

Ah… masih banyak hal yang harus kupelajari untuk kemudian melakukan apa yang Tuhan sudah beri untuk dipelajari. Terima kasih Bapa untuk semua yang Engkau buat aku mengerti lewat kelas-kelasku di RWF ini…

Continue?

Saturday, August 18, 2007

That High Places?

Minggu yang lalu di Public Lecture kami membahas tentang Media dengan meminta seorang wakil presiden direktur salah satu televisi swasta untuk membawakan materi awal dengan Pak Joshua Lie menutup dengan memberikan beberapa kesimpulan di akhirnya. Tidak ada yang luar biasa sebetulnya dari bahasan selama kurang lebih satu setengah jam tersebut. Kalau boleh aku katakan, rata-rata yang hadir sudah merasakan sendiri “nikmatnya” acara-acara yang disajikan sederetan televisi swasta negeri sendiri, ditambah entah berapa banyak siaran-siaran luar yang diakses lewat televisi kabel.

Tetapi sesuatu di dalam hati ini tersentak saat ada pertanyaan tentang susunan acara yang disajikan stasiun televisi swasta tempat si pembicara berada kini. Televisi swasta yang kita kenal lekat dengan deretan acara dangdut ria dipadu kisah-kisah misteri bernuansa klenik ataupun agama yang mendominasi republik tercinta ini. Pertanyaan itu secara kasarnya bertanya apa peran si pembicara selama ini dengan berdiang di televisi swasta tersebut yang mampu menjangkau jutaan pemirsa? Mengapa tak juga berubah materi-materi yang disajikan??? Takkan kulupa jawaban si pembicara hari itu.


“Kami disini sebagai penjaga, yang mengawal agar segala sesuatu yang berjalan masih tetap dalam jalurnya, meskipun belum bisa sampai mengubah segala sesuatunya.”

Itulah buatku satu pelajaran lagi tentang arti menjadi garam dan terang dunia. Mengapa harus televisi swasta yang hanya menjangkau rakyat kalangan bawah? Karena jumlah mereka jauh lebih besar daripada kalangan lainnya. Seperti bagian piramid yang menengah hingga ke dasarnya, itulah bagian terbesar yang harusnya dijangkau, diedukasi dan dipengaruhi secara positif.

Salah satu televisi swasta yang paling sering aku tonton ternyata tidak memiliki rating yang baik, lantaran sangat terbatas kalangan yang sungguh-sungguh berdedikasi dengan tayangan-tayangan mereka. Selain tentu saja aku perkirakan tidak bersambungnya dunia yang ditampilkan stasiun televisi ini dengan dunia kebanyakkan para pemirsa di negeriku. Aku jadi terpikir, rupanya selama ini kita-kita yang hidup “berkecukupan” hanya berfokus pada pencapaian hidup berkecukupan itu saja tanpa mengingat bahwa Kristus sendiri bahkan berkata bahwa Ia datang buat orang kebanyakkan, rakyat jelata sederhana yang memang secara mayoritas mengisi bumi kita tercinta. Sudah sejauh manakah aku sebenarnya mengikuti Juruselamatku hingga kesana?

Duniaku mengajarkan bahwa memperoleh pekerjaan di perusahaan yang baik (paling tidak multinasional) dengan jabatan yang baik (paling tidak manager) seharusnya menjadi tujuan setiap pekerja. Mencari ilmu setinggi mungkin hingga bisa mengerti begitu banyak hal itu harus. Tapi apakah pengetahuan yang kemudian didapat adalah untuk dibagikan pada sebanyak mungkin orang akan menjadi pertanyaan.

Yang jauh lebih mungkin terjadi aku akhirnya membatasi diri dalam membagikannya, hanya pada kalangan tertentu yang aku anggap sanggup mencapai level pemikiranku. Padahal dengan kepandaian yang aku miliki untuk mengerti hal tersebut, mungkin seharusnya aku bersedia belajar lebih lagi bagaimana hal itu bisa pula dimengerti orang-orang yang tidak/belum mampu mencapai tingkat pemikiran sepertiku.

Aku jadi respek dengan si pembicara karena pilihannya untuk mengabaikan kesan yang didapat jika orang hanya melihat dari permukaan akan apa yang dikerjakannya. “Ngga elit banget kerja buat stasiun televisi itu?!?! Padahal kamu mampu kerja di tempat lain yang lebih baik!” Tidak, bukan itu intinya.

Aku akui betul sekali pendapat bahwa untuk menjangkau ribuan orang, tidak perlu harus satu-persatu kita pegang. Cukup beberapa pentolan yang bisa mempengaruhi ribuan orang itu. Tetapi di satu sisi, jangan sampai kita mengabaikan bahwa sangat mungkin para calon pentolan tersebut saat ini masih belum muncul, masih berada tak terdeteksi jelas di kelompok itu. Selain itu, kalaupun kita akhirnya menjadi raja yang duduk tinggi di atas tahta, jangan pernah lupa untuk tetap pula bersentuhan lekat dengan rakyat kita.

Teringat akan Kristus. Rajaku yang luar biasa. Kalau boleh aku mau gunakan ayat ini untuk menggambarkan betapa berbedanya Dia dengan kebanyakan orang-orang pandai dan terkemuka yang aku kenal.

“Have this attitude in yourselves which was also in Christ Jesus, who, although He existed in the form of God, did not regard equality with God a thing to be grasped, but emptied Himself, taking the form of a bond-servant, and being made in the likeness of men.” – Philippians 2:5-7 NASB.

Mungkin kalau aku ketemu Kristus sekarang, aku tidak bakal menyangka kalau Dia adalah Rajaku dari penampilan dan kalangan dengan siapa Dia bergaul. Sangat mungkin aku turut dalam barisan yang meremehkan dia. Dan mungkin setelah mendengar kebijaksanaan yang hadir lewat perkataanNya, aku masih juga tidak bertobat dengan berusaha menasehatiNya (hebat yah kebebalanku!) agar meninggalkan kalanganNya itu dan naik ke level yang lebih tinggi dimana orang-orang pandai dan hebat akan lebih mengerti DiriNya. Sejarah telah membuktikan betapa itu semua salah total! Siapa yang menista Kristus paling hebat? Siapa yang menghina Dia paling giat? Siapa yang tak habis-habisnya oleh karena kehadiranNya merasa terancam paling kuat?

Terima kasih Tuhan buat hari itu. Aku jadi ingat, Kau perlengkapi aku begitu rupa hingga ke tempat tertinggi yang bisa aku tuju justru agar aku bisa semakin menjangkau jauh kemana-mana. Dan jika memang bagianku adalah di tempat yang "tinggi" itu, semoga Engkau mengirimkan orang-orang yang bisa membantuku untuk menjangkau orang-orang lain yang tidak bisa kujangkau. Because in the scope of eternity, itulah yang sesungguhnya berarti.

So, here I am, Lord, let me have an unending desire to be one of Your front-line soldiers!

Continue?

Thursday, August 09, 2007

There is Something about Eternity

There is something about eternity… yang tidak kau pahami sebelumnya. Hingga Dia buka matamu memandang jauh menembus segala yang fana. Memperlihatkan realita yang sebenarnya. Sehingga hidupmu di dunia ini, takkan pernah lagi menjadi sama. Karena segala sesuatunya begitu berbeda, dilihat dari pandangan mataNya.

There is something about eternity… yang membuatmu semakin mengabaikan segala tawaran dunia akan harta yang membuatmu memberhalakannya. Entah bagaimana, dianggap dunia miskinpun, rasa rendah dirimu itu lenyap entah kemana. Kalau dulu harta menjadi salah satu atributmu yang utama, kini kau bersukacita dalam hidup yang jauh lebih sederhana. PemeliharaanNya justru datang lewat harta yang tidak seberapa, karena menjadi rem bagi kakimu yang hendak berjalan menuju kota dosa. Aneh, di dalam segala kekurangan yang hadir, justru kau semakin merasakan nikmatnya setiap pemberianNya yang datang untukmu.


There is something about eternity… membuat sakit-penyakit di tubuhmu tak lagi mengusikmu seperti dahulu. Kau pernah khawatir bagaimana tentang sembuh tapi kini berharap belas kasih topanganNya saat rasa sakit mendera. Sembuh bukanlah segalanya jika itu justru menjauhkanmu dariNya. Semua yang ada padamu adalah kepunyaanNya, termasuk kesegaran masa mudamu, kebugaran tubuhmu. Kini kau pelihara itu karena kau tahu itu bukan milikmu, tapi yang Dia percayakan padamu. Dulu akan kau habiskan berjuta-juta tak terhingga, kini kau pasrahkan padaNya untuk mengatur masamu di dunia.

There is something about eternity… yang merombak seluruh nilai-nilai dunia fana yang membentukmu. Kau dibuat mengerti apa yang sesungguhnya berharga di mataNya. Entah bagaimana, kau dimampukan melihat jebakan si jahat dimana-mana, bagai ladang ranjau yang berbisa. Tampilan luar yang indah, penuh kematian di dalamnya. Tidak. Jangan kau bilang itu bisa dengan mudah. Sulitnya luar biasa. Memutar hatimu menghadap kepadaNya, hanyalah bisa karena anugerahNya.

There is something about eternity… yang melekatkanmu padaNya. Betapapun dalamnya kau pernah kecewa padaNya, betapapun besarnya rasa tak percayaMu pada kebaikanNya, betapapun kecilnya keindahan yang kau rasa Dia berikan untuk kau cicipi, tetap saja hanya kepada Dia-lah kau terus berlari. Hanya kepadaNya-lah kau lepaskan beban hidupmu dan melepaskan segalanya yang kau pernah genggam erat demi Dia. Karena hanya Dia-lah yang sesungguhnya mencintaiMu bukan karena kualifikasimu. Tapi semata-mata hanya karena Dia ingin mencurahkan cintaNya padamu. Aneh bukan cinta seperti itu? Takkan pernah kau temui selain dariNya.

There is something about eternity… yang takkan habis-habis memukaumu meski kau coba paparkan hingga habis waktumu disini.

There is something about eternity that always brings me back to You, whom I truly belong to…

Continue?

Sunday, June 10, 2007

Pulang... Anak-anak Menunggu

That is what someone used to tell me whenever I had to stay longer at the office. It was actually a kind of joke between us as I have yet any children. I even laughed at this notion and it became one of the jokes that often successfully helped me to be a bit refreshed. However, supposed I do have children and work in long hours, I believe I am not the only one to whom such saying is addressed to. Here is what I think of it...


There Is Time For Everything
"There is an appointed time for everything. And there is a time for every event under heaven."
Ecclesiastes 3:1 NASB

Everybody knows that there is time for everything. That verse is one of the famous ones. Put it in the context of the title above, we know that there is time to focus on our work and there is time to focus on other things, such our relationships. The ever wise God has provided 24-hour a day to be enough for any activities required to be done each day. Unfortunately, as men try to outsmart God, men also try to make that 24-hour inadequate. There are too often works undone. There are too often complaints how short a day is. I believe there is noone who has never deliver such remarks about time. Yes, there is a time for everything, but it is supposed to be more than 24-hour a day to accomplish what we desire!

My approach for such thought is, either God is not smart or wise enough to give me only 24-hour in a day or I in an attempt to get everything done have been unwise to make use of my time. I figure the later is correct and so I rest my case. Unless I fix my eyes upon what things truly matters in eternity, I will keep spending my time for things that can only satisfy me so shortly and temporarily. The Preacher in Ecclesiates knew it too well, too. And he had spent a great deal in telling us what things that really matters and what are not. If you still do not know what they are, come and join me in reading that book again!

A Time For Who
"When Jesus then saw His mother, and the disciple whom He loved standing nearby, He said to His mother, 'Woman behold your son!' Then He said to the disciple, 'Behold, your mother!' From that hour the disciple took her into his own household."
John 19:26-27 NASB

I read one good article in Roi'el Ministry blog exposing the verse above so I will not say much here. Personally, I take that verse as having to allocate my time not only for things but a lot more importantly for people. Jesus had his mission which was the most important mission ever done. But that mission was for what or whom? For mankind. And upon executing that mission, His earthly mother well-being was not abandoned by Him.

The former Prime Minister of Singapore Lee Kwan Yew is known to say that a man who cannot run his own family should never run a country. I couldn't agree more with him. In regards to my own life, I have to be honest that more often than not, even if I get to go home as scheduled, I do not spend that remaining hours for my loved ones. And the word 'remaining' itself should actually be troublesome, shouldn't it? Why not the prime time? Are my loved ones less important than my works that they only get the crumbs and not the bread?

And there is time for God. But I had better be well-informed here that, it is not my time for God, but actually His time for me! I really need to remind myself from time to time what a privilege it is to be allowed to connect to Him! He has all these things that requires His attention, yet He allows me to have some times together with Him. I have more than one occasions where I learnt that even when praying would be the only thing that could soothe my troubled soul, unless by God's mercy, no words this tounge could utter. I was merely overwhelmed by the troubled feelings and only God's soft voice that would took me out of that pit of desperation. It is truly such a privilege to spend my time with You, dear Lord... Please forgive this ungreatful sinner that too often takes You for granted. And if God of the universe cares enough to spend time with my loved ones, who am I to think that my loved ones do not deserve my 'prime time'?

A Time For What
Man's chief end is to glorify God, and to enjoy Him for ever.
Westminster Shorter Catechism Q.1

The Preacher had gone through a lot. Possesed more than any living men could ever do. Showered himself with pleasures only very few of us could ever taste just the bit of it (Eccl. 2). But unless the Lord allows him to enjoy his own works, he could only feel as what he told us in that verse.

As I already am able to set aside my 'prime time' with my loved ones, the next question would be what I do during those times. What I do is supposed to always reflect my determination to glorify God and to enjoy Him. What is the use of spending time with my loved ones by not putting their interests more than mine? By willing to do things that will please them and not only me? By glorifying God through my willingness to be His channel in sharing His love? By enjoying God through the whole course of events and interactions with my loved ones?

I often expect that unless things are pleasing to my heart then it is not worth-doing. But we all know too well that in spending time with our loved ones, even when the activity is initially planned to bring joy, it could turn the other way around. When it happens, we have choices to either let it be worse or turn it back around as a chance to glorify God. In doing so, we will then learn to enjoy God. To be satisfy with whatever things we have and do.

Last not but least, as men we are in this thing so called "time and space". God created us to be in it. However, eventhough we have a beginning, we are destined to live in eternity, be it in God's eternal glory or condemnation. As believers therefore, we will do well if we trust God in preparing us to welcome that life. Let our focus be on things that bear eternal values and not only earthly material things that will one day be gone. Just one small example, have any of the deaths ever carry all their possessions with them to the grave? Naked as we come into this world, naked shall we be when we return to our Creator... Let us hope to be getting wiser in dealing with our time. Help us dear Lord to understand the true value of everything entrusted to us...

Continue?